
🍁🍁🍁
"Kalau gitu Bapak ikut dengan asisten saya untuk mengecek kondisi Bapak. Apakah bisa layak untuk mendonorkan darah kepada pasien."
"Baik Pak!"
Andrian pun pergi mengikuti asisten dokter Itu untuk mengecek kondisi kesehatannya. Setelah proses yang lumayan panjang akhirnya Andrian dinyatakan layak untuk mendonorkan darah kepada pasien.
"Lalu kapan bisa dioperasinya Dok?" tanya Andrian.
"Nanti malam jadwal operasinya tapi keluarga pasien harus membayar admistrasi dulu sebelum melaksanakan operasinya."
"Memangnya berapa biaya keseluruhannya Dok?" tanya Nayra.
"Total keseluruhan biaya operasinya serta obat-obatannya sebesar 25 juta," jawab Dokter itu.
Seketika mata Nayra melotot mendegar biaya operasinya yang begitu mahal. Jangankan uang 25 juta, kehidupan sehari-hari nya saja masih tak cukup semenjak keluar dari perusahaan Andrian.
"Apakah tidak bisa kurang Dok?" tanya lagi Nayra.
"Itu sudah ketentuan dari pihak rumah sakit, kalau Ibu tak secepatnya admistrasi, kemungkinan kita tidak bisa melakukan operasi malam ini."
"Tapi Dok uang saya tak sebanyak itu."
"Lebih baik Dokter secepatnya melakukan operasi, masalah biaya biar saya yang menanggung semuanya," ujar Andrian membuat Nayra langsung menatap Andrian.
"Tapi Pak..."
"Ini demi keselamatan Alden anak kamu, jadi setuju tidak setuju aku tetap yang akan membiayai operasi Alden tanpa penolakan dari mu," ucap Andrian membuat Nayra tak bisa menolak.
"Tapi saya tak ada uang untuk mengganti uang Bapak."
"Kamu jangan terlalu memikirkan itu semua, yang paling terpenting kondisi Alden cepat stabil."
"Terima kasih Pak atas kebaikan Bapak. Saya janji akan mengganti semua uang Bapak tapi dengan cara menyicilnya."
"Lebih baik kamu temani Alden di dalam sebelum operasi, aku mau pergi mengurus admistrasinya agar dokter bisa cepat menindaklanjuti operasinya.
"Baik Pak, sekali lagi saya berterima kasih ke Bapak."
Sekarang ini Nayra tak memikirkan dendamnya terhadap Andrian. Ia hanya memikirkan kondisi anaknya untuk saat ini.
Siang sudah berganti malam. Di mana sekarang Alden akan melakukan operasi. Begitu juga dengan Andrian yang sedang siap-siap untuk mendonorkan darah kepada Alden.
Setelah semua sudah selesai. Mereka berdua pun dimasukkan ke dalam satu ruangan untuk transfusi darah. Sedangkan Nayra menunggu di luar ruang operasi sendirian.
"Ya Tuhan lancarkan operasi ini, semoga tidak ada kendala dalam operasi ini."
Sedangkan Andrian masuk ke dalam ruangan melihat sekitarnya yang hanya ada lampu dan dokter serta perawatan di sekeliling ruangan itu. Begitu juga ia melihat Alden yang ada disebelahnya dengan kondisi memperihatinkan.
"Ya Tuhan semoga operasi ini lancar, dan semoga Alden bisa kembali pulih sediakala," doa Andrian sambil menatap wajah anak kecil yang mirip dengannya itu.
Operasinya sudah dimulai, Andrian mulai mengambil darahnya oleh dokter.
Sedangkan Nayra yang masih berada diluar tak henti-hentinya berdoa agar operasinya dilancarkan. Nayra mondar-mandir tak jelas di depan ruang operasi itu sendirian.
Ketika ingin membalikkan badannya ia tak sengaja menabrak seseorang yang berada di depannya.
"Aduh..." ujar Nayra kesakitan karena kepalnya berbentrokan dengan seseorang.
"Nay, bagaimana keadaan Baim sekarang?" tanya seseorang yang tadi Nayra tabrak yang ternyata adalah Baim.
"Baim? Bagaimana kamu tau kalau aku ada di sini?" tanya Nayra karena seingatnya ia tak memberi tahu siapapun dengan keadaan Alden sekarang ini.
"Tadi aku pergi ke rumah mu tapi kamu tak ada di sana. Dan ada tetanggamu mengatakan kalau Alden kecelakaan. Makanya aku langsung ke sini untuk melihat kondisi Alden," jelas Baim.
"Apakah operasinya sudah lama?"
"Tidak! Operasinya baru dilaksanakan tadi."
"Kenapa kamu tak memberitahu ku dari tadi kalau Alden kecelakaan?" ucap Baim yang tak suka bila Nayra tak memberitahunya masalah sebesar ini.
"Maaf kan aku, aku lupa mengambarimu karena aku begitu panik melihat kondisi Alden tadi."
"Lalu bagaimana keadaan orang yang menabraknya tadi?" tanya lagi Baim.
"Aku juga tidak tau, kata orang-orang dia kabur ketika habis menabrak Alden."
"Sial! Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya," terlihat Baim begitu marah ketika mendengarkan bahwa pelaku tak mendapatkan balasan.
"Sudahlah! Biar Tuhan saja yang menghukum perbuatannya, lebih baik kita berdoa agar operasi mereka dilancarkan," seru Nayra.
"Mereka? Siapa juga yang operasi selain Alden?" tanya Baim karena belum tau bahwa Andrian lah yang mendonorkan darah kepada Alden.
"Pak Andrian yang mendonorkan darah untuk Alden, jadi ia juga berada dalam ruang operasi."
"Jadi Andrian sudah tau bahwa Alden adalah anaknya?" tanya Baim lagi. Ia terlihat begitu cemas karena bila Andrian tau maka kemungkinan besar Andrian bisa mendapatkan Nayra dengan mudah. Dengan alasan Alden mempunyai orang tua lengkap.
"Tidak," Nayra menggelengkan kepalanya.
"Maksud kamu?" Baim belum mengetahui dengan hanya gelengan saja.
"Andrian belum tau tentang Alden anaknya."
"Lalu mengapa dia yang mendonorkan darah untuk Alden?"
"Dia sendiri yang menawarkan untuk mendonorkan darah untuk Alden, kebetulan Pak Andrian tadi mendengar bahwa golongan darah Alden sama dengan golongan darahnya jadi tanpa berpikir panjang Pak Andrian menawarkan untuk mendonorkan darahnya," jelas Nayra.
"Huffftt..." Baim bernafas lega mendengar bahwa Andrian belum mengetahui kebenarannya. Tapi cepat atau lambat Andrian pasti akan tau kebenarannya seberapapun mereka menutupinya karena Andrian berhak untuk mengetahui siapa anaknya serta Alden juga berhak tau siapa Ayah kandungnya.
"Sebelum semuanya terjadi, aku harus mengikhlaskan Nayra. Karena aku tak mau merusak kebahagiaan mereka. Mereka berhak hidup bahagia terutama Alden berhak hidup bahagia dengan mempunyai orang tua yang utuh," batin Baim sambil melirik Nayra.
Karena dia tau bagaimana rasa seorang anak jauh dari Ayahnya, karena dia mengalaminya selama ini. Cinta tak untuk dimiliki, cinta adalah untuk membahagiakan orang yang kita cintai.
Satu jam lebih mereka menunggu, akhirnya operasinya pun selesai dan berjalan lancar.
"Dok bagaimana operasinya?" tanya Nayra.
"Operasinya berjalan dengan lancar."
"Apakah saya bisa melihat anak saya sekarang?"
"Kita pindahkan dulu anak ibu ke ruang rawat. Nanti Ibu bisa melihatnya."
Mereka pun membawa Alden menuju ruang rawat inap begitu juga dengan Andrian yang dibawa ke ruangan yang berbeda dengan Alden.
Nayra berencana akan melihat kondisi Andrian setelah melihat kondisi anaknya. Nayra pun masuk ke dalam ruangan anaknya itu.
"Dok kenapa anak saya belum sadar juga?"
"Ibu jangan khawatir, itu efek obat tidur yang kami kasih ketika operasi. Mungkin nanti atau besok anak ibu sadar," jelas dokter itu.
"Kalau gitu saya permisi dulu Buk, Pak!" ucap Dokter itu kepada Nayra serta Baim yang berada di situ.
"Sayang, ini Mama... Apakah kamu mendengar suara Mama, Sayang..." ucap Nayra memegang tangan Alden yang terdapat infus.
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^