
🍁🍁🍁
Mendengar harga yang begitu fantastis membuat Nayra tercengang, hanya sebuah cincin seharga dengan satu mobil. Nayra pun menarik tangan Andrian untuk berbicara dengan nya.
"Ada apa kamu membawa ku ke sini?"
"Apa Mas tidak dengan harga cincinnya?"
"Iya aku mendengar harganya, lalu kenapa kau menarik ku ke sini?"
"Harganya begitu sangat fantastis, apa tidak sayang dengan uang yang begitu banyak kita keluarkan? Kita bisa menggunakan uang itu untuk kebutuhan yang lain. Lagian kita sudah membeli cincin tempo hari lalu," ujar Nayra yang memang sudah dibelikan cincin oleh Andrian.
"Dengarkan aku Baby!" Andrian memegang bahu Nayra dan menatapnya.
"Itu tak begitu mahal menurutku, bahkan lebih dari itu akan ku keluarkan demi mu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri kau adalah wanita terakhir yang akan aku cintai dan wanita terakhir yang akan menemani masa tuaku kelak. Aku tak puas dengan cincin kemarin jadi aku ingin kembali membelikannya untuk mu."
Suara Andrian yang begitu lembut dan perkataan nya yang begitu meyakinkan membuat mata Nayra berkaca-kaca. Dia tak akan menyangka seorang Andrian akan melabuhkan hati padanya.
"Apa perkataan Mas bisa dipercayai?"
"Bila aku melanggarnya, terserah kamu mau menghukum ku seperti apa, aku akan ikhlas."
Buliran air di matanya turun ke pipi mulus Nayra, awalnya ia ingin memarahi Andrian karena membeli cincin yang mahal malah jadi terharu sampai tak bisa berkata-kata lagi.
"Kamu jangan nangis seperti ini dong! Kan terlihat jelek jadinya," Andrian mengusap kan air mata Nayra dengan lembut di pipinya.
"Tuan, apakah Anda jadi memesan cincinnya?" tanya pemilik toko itu memastikan.
"Iya jadi, ini pembayarannya!" Andrian mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, pemilik toko itu tercengang melihat kartu apa yang Andrian keluarkan. Kartu itu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dan hanya beberapa orang yang memiliki nya di dunia ini.
Selesai membeli cincin mereka berdua langsung balik ke rumah. Awalnya Andrian ingin mengajak Nayra untuk makan di restoran tapi Nayra sedari tadi memikirkan Alden yang dia tinggal dari pagi.
Sesampainya di rumah kediaman keluarga Ghratama mereka di sambut hangat oleh orang tua Andrian.
"Sayang kamu sudah membeli cincin pernikahan nya?" tanya nyonya Kumala.
"Sudah Mah," jawab Andrian.
"Apa boleh Mama lihat cincin yang kalian beli?" tanya sekali lagi nyonya Kumala.
Nayra yang memegang cincin itu merasa takut memberikan calon mertuanya, dia takut bila di cap cewek matre karena membeli cincin yang begitu mahal.
"I-ini Mah!" Nayra agak sedikit gemetar ketika membersihkan calon mertuanya itu.
Yang pertama kali nyonya Kumala lihat adalah harga dari cincin itu, terlihat raut wajahnya yang tak senang ketika melihat harganya. Hati Nayra merasa takut apabila calon mertuanya akan marah.
"Kamu kenapa terlihat pucat seperti itu?" bisik Andrian kala melihat Nayra pucat.
"Aku takut Mama akan memarahi ku karena memilih cincin yang begitu mahal."
Andrian terkekeh mendengar alasan Nayra pucat seperti itu, tidak mungkin mamanya akan marah melihat harga cincinnya. Karena mamanya saja membeli perhiasan melebihi harga cincinnya.
"Kenapa harganya seperti ini?" tanya nyonya Kumala yang melihat harga cincinnya.
"Maafkan Nayra Mah, Nayra tak bermaksud untuk membeli yang mahal, tapi..."
"Apa maksudmu mu? Mama hanya bertanya kenapa harga cincin pernikahan kalian begitu sangat murah? Ini kan satu kali seumur hidup jadi kalian harus membeli cincin yang benar-benar mahal," ujar nyonya Kumala membuat Nayra tercengang mendengarkannya.
Cincin itu saja sudah membuat Nayra kepikiran dengan harganya tapi calon mertuanya malah menyuruhnya mencari yang lebih mahal.
"Itu sudah cukup untuk Nayra mah, dan Nayra juga suka kok dengan cincinnya, lagian cincin kemarin juga bagus tapi Mas Andrian tak suka dengan cincin itu," jelas Nayra.
Nayra tidak langsung pulang ke apartemen nya, ia seharian di rumah mertuanya itu untuk mempersiapkan pernikahan tinggal satu Minggu ini. Sekarang mereka sedang asyik memelih model kartu undangan pernikahan nya. Nayra dan nyonya Kumala begitu sangat cocok karena setiap pilihan mereka pasti sama selerapun begitu mirip membuat Nayra cepat dekat dengan calon mertuanya itu.
"Tuan, nyonya makan malamnya sudah siap!" panggil salah satu pembantu yang ada di sana.
"Baiklah! Mari kita makan malam bersama," ajak tuan Wijaya sambil melangkah menuju meja makan.
Di atas meja makan terlihat begitu harmonis dengan kedatangan Nayra dan cucu pertama keluarga Ghratama. Tawa canda Alden membuat suasana ruangan itu kembali hangat setelah sekian lama.
Setelah selesai makan malam Andrian pergi menggantarkan Nayra dan anaknya pulang. Beberapa menit dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di depan apartemen.
"terima kasih Mas sudah mengantarkan kami," ujar Nayra yang turun dari mobil dengan menggendong Alden.
"Sama-sama."
"Pah! Ayok nginap di cini lagi, kata teman-teman ku kalau Papa dan Mamanya tinggal satu lumah tapi kenapa kalian tidak tinggal satu lumah?"
"Sabar ya sayang! Papa akan tinggal bersama kalian beberapa hari lagi, jadi puaskan bermain bersama Mama, Karena papa akan sering bermain bersama Mama besoknya."
Mendengar itu Alden langsung memanyunkan bibirnya, melihat hal lucu dari anaknya membuat Andrian terkekeh kecil.
"Sudah-sudah Mas balik saja, ini sudah larut malam," ujar Nayra melerai.
"Baiklah! Bey-bey!" Andrian melambaikan tangan lalu menjalankan mobilnya pergi dari sana.
"Mah, apa benar besok Alden tidak bica dekat dengan Mama lagi kalau Papa tinggal bersacama kita?"
"Itu tidak benar Sayang, Papa hanya bercanda saja," jawab Nayra.
***
Pagi-pagi Andrian sudah sampai di kantornya, seperti biasa ia disambut dengan hormat oleh para karyawannya di sana. Dengan balutan jam berwarna hitam dengan menggunakan kaca mata hitam membuat karismanya bertambah.
Semua wanita yang bekerja di kantor itu tergila-gila padanya tapi satupun tidak ada yang berani menggungkapkan persamaan nya kepada bosnya itu. Terlebih lagi mereka tau bagaimana sikap dingin dari bosnya itu.
Di pojokan terlihat seorang wanita menggunakan kemeja hijau muda dengan rok setengah lutut memperhatikanya juga kedatangan bosnya. Dia tersenyum manis ketika bosnya melewati dirinya, belum genap satu minggu ia bekerja di sini, Amanda sudah jatuh hati terlebih dulu pada bosnya.
Tapi sama halnya dengan karyawan lain ia tak mampu mengungkap kan perasannya itu.
Jam kerja sudah mulai, di situ Amanda mencuri-curi pandangan pada bosnya. Sesekali dia tersenyum kala bosnya serius mengerjakan pekerjaannya. Dengan ruangan yang sama membuat Amanda tambah kagum pada sosok bosnya.
Tok... tok... tok...
Suara ketokan pintu dari luar membuat lamunan Amanda buyar seketika. Ternyata Tiara yang mengetuk pintu.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Andrian.
"Maaf Tuan! Saya hanya ingin memberi tahu anda bahwa ada pertemuan dengan investor di restoran Baraka sore nanti," jelas Tiara.
"Kamu siapkan saja semuanya, nanti kamu ikut denganku."
"Maaf Tuan, masalahnya saya bertujuan ke sini bukan untuk itu saja tapi..." Tiara sedikit gugup melanjutkan omongannya, ia takut kalau bosnya akan marah.
"Tapi apa? Saya tak suka dengan orang yang bicara setengah-setengah!!"
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN MASUKAN KE FAVORIT ^_^