
🍁🍁🍁
"Kenapa Papa dan Mama tak memberi kabar dulu, biar Nayra buatkan masakan kesukaan kalian."
"Kami hanya mampir sebentar saja untuk melihat cucu kami yang gemas ini," ujar nyonya Kumala sambil memegang pipi gembul cucunya ini.
"Maafkan Nayra Mah, Pah, rumahnya masih berantakan sekali. Nayra tak bisa mengerjakan sesuatu karena Baby Nayaka yang begitu rewel jika tak digendong."
"Tidak papa! Itu hal wajar jika ibu rumah tangga. Kalau kamu mau, Mama akan carikan kamu pembantu lagi untuk membantu bik Lastri mengurus rumah mu, dan Mama juga akan carikan Baby sitter untuk anak mu."
"Kalau itu Mama harus tanya Mas Andrian, karena dia yang tak mau menggunakan art (Asisten rumah tangga)."
"Anak itu sih, apa dia tak kasihan sama istrinya yang begitu capek mengurus anaknya sendiri," nyonya Kumala geram melihat anaknya yang membuat istrinya kecapean seperti ini mengurus rumah sekaligus mengurus anak.
"Mungkin Andrian trauma dengan kejadian sebelumnya, jadi dia tak percaya pada orang lain lagi selain bik Lastri," ujar papa mertuanya itu.
"Mas Andrian bila tak kerja juga membantu Nayra untuk menjaga baby Nayaka, jadi Nayra tak terlalu kualahan jika menjaga Baby Nayaka."
"Tapi tetap saja kamu capek bila seperti ini, lihatlah tubuh mu tambah kurus. Bahkan wajahmu terlihat lesu karena mengurus Baby Nayaka sendirian."
Nyonya Kumala begitu perhatian dengan menantunya itu. Dia tak mau menantunya akan capek seperti ini sampai tak mengurus diri sendiri.
"Mama tidak usah khawatir, Nayra bisa mengurus diri sendiri."
"Kalau gitu hari ini Mama yang akan menjaga Baby Nayaka, kamu hari ini pergi ke salon saja untuk perawatan. Setelah itu kamu antarkan makan siang ke kantor Andrian, biar dia pangling melihat mu."
Mama mertuanya memang peduli sekali dengan menantunya, bahkan jarang sekali orang mendapatkan mertua seperti Nayra.
"Tapi___"
"Tak usah tapi-tapian! Uang Andrian kamu habiskan saja, kasihan uangnya menganggur tak pernah dipakai."
Akhirnya Nayra memutuskan buat pergi ke salon untuk merawat dirinya. Di sana dia melakukan tritmen berbagai macam, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Setelah itu dia pergi ke sebuah Mall untuk membelikan dirinya baju.
"Sekali-kali habiskan uang suami memang perlu, lagian ini juga kemauan Mama mertua," pikir Nayra.
Walaupun begitu dia tak sampai tega berbelanja hingga ratusan juta. Padahal jika dia berbelanja ratusan juta setiap minggunya tak akan masalah buat Andrian.
"Kamu sudah selesai tritmen nya?" tanya nyonya Kumala melihat Nayra terlihat fresh dan lebih cantik dari sebelumnya.
"Iya Mah, tapi Nayra sedikit berbelanja juga."
"Cobak lihat belanjaan mu!"
Mama mertuanya itu pun melihat kasbon belanjaan Nayra yang tak mencapai sepuluh juga.
"Kenapa belanjaan mu sedikit sekali? Seharusnya kamu habiskan uang yang di kasih Andrian."
"Nayra tak enak Mah, Mas Andrian capek kerja malah Nayra yang senang-senang habiskan uangnya."
Nayra tak serakah orangnya. Yang mana kebutuhannya itulah dia beli, dia lebih mengutamakan kebutuhan dibandingkan gaya hidup.
"Itu sudah kewajiban Andrian mencari nafkah, lagian uang segitu tak membuat Andrian jatuh miskin. Apalagi Mama dengar-dengar Andrian mendapatkan projek besar jadi dia pasti mendapatkan keuntungan banyak," bisik Mama mertuanya ke telinga Nayra. Dia tak mau bila suaminya mendengarkan mereka.
"Masak sih Mah? Kok Mas Andrian tak pernah cerita ya?" Nayra memang tak mengetahui tentang itu, dia juga tak terlalu penasaran dengan keadaan perusahaan.
"Bener! Dan jika berhasil dalam projek ini maka kita dapat keuntungan untuk menghabiskan uang Andrian, hahahaha!"
Mama mertuanya sudah merencanakan hal licik itu, Nayra pun ikut tertawa. Padahal jikapun Andrian tak mendapatkan projek itu mama mertuanya tetap berbelanja banyak, sebab papa mertuanya juga begitu kaya melebihi Andrian.
"Sudah mau masuk jam makan siang, lebih baik kamu bawakan Andrian makan siang gih! Mama sudah suruh bik Lastri untuk menyiapkan bekalnya."
"Apa tidak menganggu Mas Andrian di kantor?"
"Bila kamu menemuinya dia pasti tak akan terganggu, percayalah pada Mama!"
Karena nyonya Kumala tau bagaimana besar cinta anaknya pada istirnya ini. Bila Nayra pergi ke kantor anaknya untuk diganggu itu tak ada masalah.
Nayra kembali mengikuti kemauan mertuanya itu, dia pergi dengan diantarkan sopir pribadi mertuanya sambil membawakan bekal makan siang. Ini juga kesempatan nya pergi ke luar setelah lama berdiam diri di rumah seharian penuh.
"Selamat pagi Nona Nayra!" sapa satpam yang dulu sempat mengusir Nayra dari perusahaan.
Nayra pun menuju resepsionis untuk menanyakan di mana Andrian.
"Apa ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya resepsionis itu dengan ramah.
"Apa Tuan Andrian ada di ruangannya?"
"Tuan Andrian sedang meeting di dalam, apa perlu saya panggilkan kan?"
"Tidak perlu, saya mau tanya apa meeting nya masih lama?"
"Sepertinya akan lama, karena barusan saja meeting nya di mulai."
Nayra memanggutkan kepalanya mengerti. "Baiklah kalau gitu saya ke ruangannya saja."
"Baik Nona!"
Nayra tak mau mengganggu meeting suaminya jadi lebih baik dia tunggu saja di ruangannya.
Terlihat ada sosok mata yang melihat kedatangan Nayra, diapun bergegas menuju ruang meeting untuk memberitahu Andrian tentang keberadaan Nayra.
Ketika sampai di sana dia membisikkan sesuatu ke telinga Andrian.
"Baik kalau gitu, kamu bisa pergi," ucap Andrian. Orang itupun pergi dari ruang rapatnya.
"Untuk pertemuan hari ini kita cukupkan sampai sini, bila ada yang ingin ditanyakan silahkan konfirmasi kepada sekretaris saya."
Para karyawan yang ada di sana merasa heran, karena baru saja meeting nya di mulai tapi sudah diakhiri saja secepat ini.
Setelah menutup rapatnya, Andrian pun bergegas menuju ke ruangannya. Ketika masuk ke dalam lift dia sudah tak sengaja bertemu dengan orang ia tujui.
"Lho Mas Andrian? Bukannya Mas sedang meeting?" tanya Nayra keheranan karena tiba-tiba saja suaminya berada satu lift denganya.
"Aku sudah selesai dengan meeting nya."
"Tapi kata resepsionis barusan Mas meeting nya masih lama."
"Aku sudah mengakhiri meeting yang membosankan itu."
Padahal Andrian ingin secepatnya bertemu dengan istrinya. Ini sangat langka Nayra datang ke kantornya.
Setelah mereka sampai di ruangan Andrian, Nayra pun menyodorkan kotak makanan yang dibawanya.
"Apa ini?" tanya Andrian melihat kotak yang ada di atas meja kerjanya.
"Mama tadi menyuruhku membawakan mu makan siang."
"Mama datang ke rumah?"
"Iya, Mama sekarang masih ada di rumah menjaga Nayaka."
Andrian pun mencoba makan siangnya kali ini. Dia tau itu bukan masakan istirnya melainkan masalah bik Lastri. Dia ahli dalam mengenal masakan orang.
"Aku perhatikan kamu hari ini terlihat berbeda," ucap Andrian memulai obrolan dengan istirnya itu.
"Memangnya aku kenapa?"
"Kamu terlihat cantik hari ini."
Bukannya senang dipuji malah Nayra sedikit kesal karena selama ini dia tak cantik di mata suaminya.
"Oh! Berarti selama ini Nayra tak cantik?"
"B-bukan gitu, kamu cantik setiap hari tapi hari ini kamu bener-bener cantik luar biasa."
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^