
🍁🍁🍁
Malam pun tiba. Terlihat Nayra sedang menyisir rambutnya di meja riasnya, sedangkan Andrian membaca buku sambil menyenderkan tubuhnya di ujung tempat tidur.
"Mas!!" panggil Nayra yang menghampiri Andrian di atas tempat tidur, dia duduk di samping suaminya.
"Hm?" jawab Andrian menutup buku yang ia baca, lalu duduk manis menghadap istrinya.
"Nayra mau tanya soal masalah yang tadi."
"Masalah yang mana?" tanya Andrian yang tak mengerti maksud istrinya.
"Itu tentang asisten pribadi Mas, Nayra baru tau kalau Mas mempunyai asisten pribadi setelah Nayra berhenti kerja di sana."
"Memangnya kenapa kamu menanyakan asisten pribadi ku?"
"I-itu___ sebenarnya Nayra mau tanya apakah asisten pribadi Mas adalah perempuan?" tanya Nayra dengan ragu-ragu.
"Iya, perempuan. Ada apa memangnya menanyakan hal seperti itu."
"Tidak papa! Nayra hanya ingin tau saja," terlihat raut wajah Nayra agak sedikit cemburu karena tau bahwa asisten pribadi suaminya itu perempuan. Dia tau bagaimana kedekatan seorang bos dengan asisten.
"Kamu cemburu ya?" ledek Andrian yang melihat raut wajah istrinya berbeda sebelum dia mengatakan kalau asisten pribadi nya adalah perempuan.
"Nggak! Nayra nggak cemburu, Nayra hanya ingin tau saja," elak Nayra.
"Kamu tidak usah khawatir dengan hal itu, aku tidak tertarik padanya. Percaya padaku bahwa cintaku hanya untukmu seorang," ucap Andrian dengan tulus sambil memegang kedua tangan Nayra lalu menatap manik mata coklatnya Nayra.
"Aku percaya padamu, tapi seberapapun kuat iman laki-laki untuk tidak tergoda oleh perempuan, tapi bila dia terlalu dekat dan setiap hari ketemu pasti di antara mereka berdua ada yang menaruh rasa."
"Dan sebesar godaan seorang perempuan, godaan mu yang paling tak bisa aku kendalikan," ucap Andrian mencairkan suasana hati Nayra yang terlihat serius.
"Mas!!! Aku serius nih, kamu ngegombal saja dari tadi."
Mood Nayra menjadi hilang seketika karena Andrian sedari tadi tidak pernah serius dengan dirinya.
"Sudah jangan cemberut kayak gitu, nanti cantiknya hilang," rayu Andrian.
"Ohya! Aku ingin memberitahukan mu sesuatu," ucap Andrian kembali serius berbicara dengan Nayra. Nayra yang sempat memalingkan wajahnya dari suaminya itu kembali menatap Andrian.
"Ada apa?"
"Aku tau kamu tidak bebas di rumah ini, walaupun Mama dan Papa baik memperlakukan mu tapi kamu pasti tak bebas melakukan sesuatu di rumah mertua."
"Tidak! Nayra nyaman dengan Papa dan Mama walaupun Nayra agak sedikit tak bisa melakukan apa-apa tapi Nayra bersyukur mempunyai mertua sebaik Mama dan Papa."
"Aku sudah membelikan mu rumah untuk kita tinggal bertiga, di rumah baru itu kamu bisa bebas melakukan apapun, karena kamu nyonya di sana," ucap Andrian.
Andrian begitu sangat mengerti dengan kondisi ini. Karena sebagai manapun baik kedua orang tuanya tak bisa membuat istrinya bebas untuk melakukan apapun. Dia juga ingin mempunyai keluarga yang sebenarnya tanpa ada pangku tangan orang tuanya.
"Tapi bagaimana dengan Papa dan Mama? Apakah beliau mengizinkan kita untuk pindah dari sini?"
"Pasti mereka akan mengerti, jadi kamu tenang saja!"
"Terima kasih Mas untuk semuanya, aku benar-benar bersyukur atas semua yang kamu berikan untukku."
"Itu sudah jadi kewajiban ku, tapi rumahnya tak sebesar rumah ini karena aku tak mau terlalu besar karena kita hanya tinggal bertiga di sana."
"Tidak papa Mas! Nayra juga tidak terlalu suka dengan rumah yang besar."
Ketika menggobrol tadi dengan Andrian, Nayra sedikit mual dan agak tidak enak badan. Sampai akhirnya Nayra tak tahan dengan perutnya yang ingin memuntahkan makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya.
"Huwekkkk___" Nayra berlari masuk ke dalam kamar mandi dan membuang semua sisa makanan di dalam perutnya di wastafel.
"Huwekkkk___"
"Huwekkk____"
"Huwekkk____"
Sedangkan Andrian langsung berlari masuk ke dalam ketika mendengar suara istrinya tak henti-hentinya memuntah.
"Huwekkk____"
"Huwekkk____"
"Huwekkk____"
Andrian memegang tengkuk leher Nayra untuk bisa mengeluarkan cairan itu di dalam mulutnya. Andrian sama sekali tak merasa jijik dengan Nayra yang sedari tadi muntah. Hingga Nayra tak bisa menyeimbangkan tubuhnya membuatnya ingin terjatuh ke lantai tapi untung saja Andrian dengan sigap memegang tubuh Nayra yang terjatuh.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Andrian begitu panik.
"Nayra merasa sedikit pusing dan mual," ucap Nayra dengan suara yang sudah lemas.
Tanpa pikir panjang Andrian membopong tubuh Nayra dengan ala bridal style menuju tempat tidur. Andrian dengan pelan-pelan membaringkan tubuh Nayra lalu menyelimutinya.
"Aku akan memanggilkan mu dokter untuk memeriksa kondisi mu," ucap Andrian sambil merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya tapi Nayra mencegah tangan Andrian.
"Mas, Nayra tidak papa! Mungkin Nayra hanya kecapean saja."
"Tapi lihatlah kondisi mu saat ini terlihat lemas dan begitu pucat."
"Nayra hanya butuh istirahat saja."
"Baiklah kalau itu maumu," Andrian pun mengalah dan menyelimuti tubuh istrinya.
"Good night baby!" Andrian mencium keningnya lalu mematikan lampu kamar dengan digantikan lampu tidur. Sedangkan dia tidak langsung tidur, karena harus ada pekerjaan yang dia harus urus secepatnya.
Matahari yang sudah muncul mengenai wajah cantik Nayra dari sela-sela jendela yang sedikit terbuka. Dia meraba-raba sekitarnya untuk mencari Andrian tapi tidak ada tanda-tanda Andrian ada di sampingnya.
Lalu Nayra membuka sepenuh matanya melihat ke samping tempat tidurnya, terlihat bantal dan guling yang tersusun rapi seperti tidak pernah ditidurkan oleh Andrian.
"Di mana Mas Andrian? Apakah dia tidak tidur di sini semalam?" gumam Nayra sambil berpikir.
Nayra pun beranjak dari tempat tidurnya untuk mencari keberadaan Andrian, ia mencari ke lantai bawah tapi dia tak menemukan suaminya ada di sana, lalu dia mencari di kamar anaknya karena Andrian sering ke sana. Tapi tetap saja dia tidak ada di sana.
"Di mana perginya Mas Andrian? Apakah dia sudah pergi ke kantor? tapi ini begitu masih pagi," gumam Nayra sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Dan dia teringat satu tempat yang belum ia lihat, di ruang kerjanya. Nayra pun langsung menuju ruang kerja suaminya itu dan terlihat ruang kerjanya sedikit terbuka.
Dan benar saja Andrian berada di sana. Nayra melihat Andrian tertidur dengan posisi laptop menyala dengan tubuh yang masih duduk di kursi kerjanya.
"Mas___" panggil Nayra dengan pelan sambil menepuk bahu Andrian. Dengan spontan Andrian bangun ketika istrinya memanggilnya.
"Kebiasaan deh Mas kalau kerja sampai tertidur, kenapa tidak ke kamar saja?"
"Maafkan aku Sayang! Aku bisa menyelesaikan pekerjaan ini tadi subuh jadi aku tertidur di sini."
"Ya Tuhan kenapa Mas bekerja sampai pagi begini? Lihatlah sangking sering begadang menyelesaikan pekerjaan sampai Mas mempunyai kantung mata."
"Aku janji ini terakhir kalinya ku bekerja sampai pagi, ini juga pekerjaan yang aku tinggalkan selama kita ke Korea."
"Kalau gitu Mas lanjutkan saja tidurnya di kamar, biar tidurnya bisa nyaman."
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^