
🍁🍁
Nayra menghela nafas dengan perlahan lalu mengatur nya. "Baiklah Nayra akan ikut kemauan Mas untuk berbulan madu, tapi Nayra minta bulan madunya tak usah lama-lama."
"Baiklah! Aku akan urus semua perjalanan kita nantinya," ucap Andrian dengan wajah sumringah nya.
"Memangnya kita akan pergi ke mana?"
"Nah untuk ke mana kita akan pergi, kamu yang menentukannya."
"Nayra?" tanya Nayra dengan menunjuk dirinya.
"Iya_"
"Nayra ikut saja ke mana Mas akan pergi," ujar Nayra yang memang tidak tau harus menentukan mau ke mana.
"Kamu tentukan saja ke mana ingin kamu tuju, biar secepatnya ku urus perjalanannya."
"Haruskan Nayra yang menentukannya?" tanya sekali lagi Nayra dengan dianggukan oleh Andrian dengan senyum manisnya.
"Hm... Ke mana ya?" Nayra sejenak berpikir untuk menentukan kepergiannya. Selama ini Nayra tak pernah berpergian jauh jadi dia tak tau tempat yang akan ia kunjungi nantinya.
Setelah agak lama berpikir akhirnya Nayra sudah menemukan di mana mereka akan tuju, ini ke inginanya dari dulu untuk pergi ke sana.
"Apakah kamu sudah tau ke mana kita akan pergi?" tanya Andrian yang melihat Nayra sedang berpikir.
"Nayra sudah tau kita akan ke mana," ujar Nayra dengan wajah terlihat begitu bahagia.
"Ke mana?"
"Korea Selatan!"
"Korea?" tanya Andrian.
"Iya, Nayra ingin pergi ke sana, itu impian Nayra sejak dulu ingin pergi ke negeri ginseng," ucap Nayra dengan begitu bahagianya.
Melihat Nayra begitu bahagia membuat Andrian ikut senang. Sebab apa yang Nayra inginkan akan ia turutin dan itu akan menjadi kebahagiaannya juga.
"Baiklah kita akan pergi ke sana," ucap Andrian.
"Terima kasih!" Nayra langsung berhamburan menuju Andrian untuk memeluknya. Ia sangat bahagia karena Andrian mau mengikuti keinginannya untuk pergi ke sana.
Sontak Andrian langsung tersenyum dan refleks ikut memeluk pinggang Nayra, baru ini Nayra memeluknya lebih dulu tanpa diminta.
"Sama-sama!" ucap Andrian sambil mengelus rambut panjang Nayra.
"Eh maaf!" Nayra langsung melepas pelukannya karena sadar tanpa izin memeluk Andrian.
"Kenapa harus minta maaf? Aku suamimu bukan suami orang, lagian aku senang kamu memelukku seperti tadi," ucap Andrian membuat Nayra merasa malu.
Tanpa aba-aba Andrian menarik pinggang Nayra menuju ke dekapannya. Ia memeluk Nayra dengan erat membuat Nayra sesak nafas.
"M-Mas__ lepaskan dulu!" ucap Nayra dengan suara terengah-engah.
"Biarkan seperti ini, aku ingin berada di pelukan mu saat ini," ucap Andrian tambah mengencangkan pelukannya dan tak mau melepaskan Nayra.
"T-tapi Nayra merasa sesak nafas."
Mendengar itu Andrian langsung melonggarkan pelukannya agar Nayra tak merasa sesak nafas lagi tetapi Andrian tak mau melepaskan Nayra dari pelukannya.
"Apakah sudah tidak sesak nafas lagi hm?" tanya Andrian sambil mengelus-elus pipi Nayra. Nayra hanya manggut-manggut saja dengan wajah memerah karena malu ditatap oleh Andrian dengan kondisi seperti itu.
***
Suasana biasa di kantor, Andrian terlihat sedang menyelesaikan pekerjaannya di kantor karena besok dia akan pergi berbulan madu dengan Nayra. Jadi sebelum pergi dia harus menyelesaikan nya supaya liburannya besok bisa tenang.
"Taruh saja di situ," ucap Andrian tanpa melirik Amanda, ia hanya fokus ke berkas yang sedang ia baca.
Setelah menaruhkan kopinya Amanda kembali ke tempat duduknya. Sebelum duduk di mejanya Andrian tiba-tiba mengeluarkan suaranya membuat Amanda menghentikan aktivitasnya.
"Besok saya tidak masuk kerja selama beberapa hari, jadi saya minta tolong kamu urus semua perjalanan yang masih terbengkalai sebelum sekretaris saya mulai masuk kerja."
"Baik Tuan."
"Oh ya! Untuk sementara waktu Papa saya akan menggantikan posisi saya di sini, jadi kamu harus bekerja dengan lebih baik karena Papa saya tidak suka dengan orang yang tak hati-hati dalam bekerja."
"Baik Tuan," Amanda menundukkan kepalanya.
Setelah itu suara kembali hening di ruangan itu. Andrian kembali fokus dengan pekerjanya, sedangkan Amanda sedari tadi melamun entah memikirkan apa.
"Ingin ku bertanya kenapa Tuan Andrian tak masuk kerja untuk waktu yang cukup lama? Tapi itu tak pantas ditanyakan oleh karyawan seperti ku," gumam Amanda di dalam hatinya.
"Apa jangan-jangan Tuan Andrian akan berliburan dengan istrinya? Secara kan dia baru saja menikah," kembali Amanda berpikir.
"Tidak-tidak Amanda! Kenapa kamu merasa sakit hati kalau Tuan Andrian akan pergi berliburan bersama istrinya? Kamu sadar dong! Dia sudah mempunyai istri jadi kamu tak pantas cemburu seperti ini, lagian kamu tak pantas untuk Tuan Andrian," gerutu Amanda dengan dirinya sendiri membuat Andrian memperhatikan tingkah lakunya yang konyol itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Saya mengaji mu untuk bekerja bukan untuk berdiam diri tidak jelas seperti ini," ucap Andrian dengan nada sedikit tegas.
"Maafkan saya Tuan!" ucap Amanda kembali menundukkan kepalanya.
Sebenarnya Andrian malah ingin tertawa melihat tingkah konyol Amanda sedari tadi, ia tak sengaja memperhatikanya tapi karena dia tak mau ketahuan oleh Amanda jadi ia sengaja memarahi asistennya itu.
Keesokan harinya mereka sudah siap membereskan apa yang akan mereka bawa, mereka berangkat sangat pagi agar Alden tak melihatnya pergi. Karena sekarang Alden masih tertidur di jam segini.
"Kalian hati-hati ya! Jangan lupa pulang bawa oleh-oleh," ujar nyonya Kumala.
"Memangnya mau oleh-oleh apa nantinya?" tanya Andrian.
"Mama ingin oleh-oleh kehamilan Nayra setelah pulang," ucap nyonya Kumala membuat Nayra langsung memerah mendengarkan itu.
"Mama tenang saja, Andrian berusaha keras agar oleh-oleh Mama bisa tersampaikan."
Sontak Nayra mencubit lengan Andrian karena begitu merasa malu dengan ucapan suaminya.
"Aw__ sakit Baby!" Andrian meringis kesaksian dengan cubitan Nayra yang agak sedikit keras.
"Sudah-sudah! Lebih baik kalian jalan keburu anak kalian bangun," sekarang tuan Wijaya yang berbicara.
Kemudian mereka pun pergi ke airport dengan diantarkan sopir pribadi keluarga Ghratama. Di airport mereka berdua tidak terlalu lama menunggu karena pesawat yang akan mereka naikin adalah punya keluarga Ghratama.
Di dalam pesawat hanya mereka berdua saja yang menjadi penumpang. Serta ada pilot dan pramugari yang mengisi pesawat itu.
Nayra hanya terkagum-kagum melihat semua kekayaan keluarga suaminya itu, ia tak tau bahwa keluarga suaminya mempunyai pesawat pribadi, bahkan Nayra pertama kali menaiki pesawat dan langsung naik pesawat pribadi seperti ini.
"Apakah kamu nyaman?" tanya Andrian.
"Nayra sedikit merasa pusing dan mual Mas, mungkin ini efek pertama kali naik pesawat."
Andrian hanya tersenyum manis pada istirnya itu. "Nanti kalau kamu sering naik pesawat, kamu akan terbiasa dengan seperti ini."
"Mas! Perut Nayra rasanya ingin muntah, dan kepala Nayra begitu terasa berputar-putar," keluh Nayra dengan terlihat wajah yang sedih pucat.
Padahal mereka baru terbangun sudah hampir 30 menit apalagi nanti akan terbang yang memakan waktu yang begitu lama.
"Kamu tidurkan saja biar tidak merasa mual lagi," ucap Andrian.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^