My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 41



🍁🍁🍁


"Syukurlah kalau gitu. Wajah mu terlihat begitu pucat, lebih baik kamu istirahat kan tubuhmu. Mungkin dari pagi kamu belum istirahat," kata tuan Wijaya.


"Papa juga tidur sudah jam segini!" ucap Andrian.


"Iya-iya... Papa akan istirahat juga."


Mereka berdua pun sama-sama naik ke atas melewati tangga. Mereka berpisah di masing-masing kamar untuk istirahat.


***


Pagi-pagi terlihat nyonya Kumala menghampiri kamar anaknya Andrian untuk melihat keadaannya. Sebab sarapan tadi Andrian tak turun ke bawah.


"Andrian..." Ketuk nyonya Kumala mengetuk pintu Andrian. Tapi Andrian tak sama sekali menyahut panggilan mamanya.


Tok... tok... tok...


"Andrian ini Mama..." nyonya Kumala berulang kali mengetuk pintu kamar anaknya tapi sama sekali Andrian tak menjawab. Karena nyonya Kumala merasa khawatir dengan keadaan anaknya, ia pun tanpa izin masuk ke kamar Andrian. Untung saja Andrian tak mengunci pintu kamarnya.


Ketika nyonya Kumala masuk ke dalam kamar Andrian. Nyonya Kumala melirik Andrian berbaring lemas di kasur dengan tubuh yang ditutupi selimut.


Nyonya Kumala memeriksa tubuh anaknya apakah hangat atau tidak. Dan nyonya Kumala membulatkan matanya ketika merasakan tubuh anaknya begitu panas.


"Astaga! Andrian kamu demam," ujar Nyonya Kumala membuat Andrian terbangun dari tidurnya.


"Mama?" Andrian begitu kaget melihat mamanya tiba-tiba ada di kamarnya. Dia tidak tau kapan mamanya masuk ke dalam sini.


Andrian melihat jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan bahwa dia sudah terlambat di kantor. Andrian pun membuka selimutnya untuk cepat bersiap-siap ke kantor.


"Kamu mau ke mana?" tanya nyonya Kumala melihat anaknya ingin bangkit dari kasur itu.


"Andrian mau pergi ke kantor lah Mah," jawab Andrian.


Andrian tidak merasa tubuhnya begitu hangat. Walaupun ia merasakan pusing serta tubuh yang terasa dingin tapi Andrian tetap mau ke kantor karena kemarin ia full tak pergi ke kantor.


"Tubuh mu terasa begitu hangat, apa kamu sanggup pergi ke kantor dengan keadaan kondisi kurang sehat seperti ini," ujar nyonya Kumala yang melarang Andrian pergi ke kantor.


"Andrian baik-baik saja, ada begitu banyak pekerjaan juga di kantor yang Andrian tidak bisa tinggal kan."


"Lebih penting mana kesehatan mu atau pekerjaan kantor mu?" tanya nyonya Kumala.


"Mah! Andrian tidak kenapa-napa, jadi Mama nggak usah khawatir dengan kondisi Andrian saat ini."


Andrian mencoba berdiri dari tempat tidurnya, tapi entah kenapa pusingnya langsung menyerang ketika ia berdiri tadi. Tubuh Andrian langsung oleng karena tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


"Tuh kan Mama sudah bilang kalau kamu kurang sehat, jadi kamu hari ini nggak usah masuk ke kantor."


"Tapi Mah!"


"Tidak ada kata bantahan dari Mama, kalau Mama bilang tidak ya tidak. Ini demi kesehatan mu juga."


Terpaksa Andrian kembali ke tempat tidurnya. Lagian Andrian agak merasakan pusing menyerang di kepalanya, mungkin kalau ia memaksakan diri pergi ke kantor maka sakitnya akan tambah parah.


"Andrian ada urusan kemarin, jadi Andrian pulang sampai jam segitu."


"Urusan apa sehingga kamu langsung sakit seperti ini? Wajahmu juga begitu pucat, apalagi bibirmu begitu pucat seperti orang kekurangan darah."


"Apakah aku harus menceritakan kejadian kemarin kepada Mama? Tapi nanti Mama akan marah bila aku seperti ini gara-gara menolongi anak Nayra. Nanti Mama akan kembali benci kepada Nayra," batin Andrian.


"Kamu kenapa melamun seperti itu? Apakah ada masalah yang kamu hadapi? Bila ada kamu ceritakan semuanya pada Mama, mungkin Mama punya solusi untuk masalah mu itu."


"Tidak ada kok Mah!"


"Lalu pertanyaan Mama yang tadi itu kenapa kamu belum jawab?"


"Pertanyaan yang mana?" Andrian pura-pura tidak tau.


"Pertanyaan Mama mengenai kenapa kamu bisa sampai sukit seperti ini? Dan apa yang kamu sudah lakukan kamarin sampai pulang larut malam seperti itu? Kata Papa mu seharian kamu tak ada di kantor, jadi kamu sudah habis dari mana?" pertanyaan bertubi-tubi dari mamanya membuat Andrian tak bisa berbohong lagi tentang semuanya.


"Sebenarnya Andrian berada di rumah sakit seharian kemarin."


"Apa? Siapa yang sakit? Apakah kamu yang sakit sehingga kamu berada di rumah sakit kemarin? Kenapa kamu tak memberitahu Mama kalau kamu berada di rumah sakit?" kembali nyonya Kumala menanyakan soal begitu banyak membuat Andrian yang memang pusing kembali tambah pusing dengan pertanyaan mamanya itu.


"Tidak! Andrian tidak sakit, tapi melainkan anaknya Nayra yang masuk rumah sakit."


"Apa? Dia sakit kenapa?" sama halnya dengan tuan Wijaya yang terlihat panik, tak kalah terkejutnya nyonya Kumala begitu panik mendengar anaknya Nayra masuk rumah sakit. Mungkin nyonya Kumala beranggapan bahwa anaknya Nayra itu sama dengan Andrian waktu kecil jadi ia merasa panik seperti ini.


"anaknya Nayra kecelakaan kemarin..." Andrian pun kembali menceritakan semuanya dari awal sampai akhir kepada namanya. Terlihat nyonya Kumala terlihat perihatin dengan kondisi anaknya Nayra.


"Mama jadi ingin melihat kondisi anak itu. Apakah Mama bisa pergi melihat kondisi anaknya Nayra?" tanya nyonya Kumala.


"Nanti Andrian akan ke sana, kalau Mama mau ikut biar nanti bersama Andrian saja untuk ke sananya," tawar Andrian.


"Tidak! Tidak! Kamu belum pulih saat ini, apalagi kamu baru saja kemarin mendonor darah jadi kamu lebih baik istirahat dulu, nanti kalau kamu sudah sembuh baru kita melihat kondisi anaknya Nayra."


"Baiklah kalau gitu," Andrian sudah malas berdebat dengan mamanya, apapun perkataan mamanya tak bisa ia tentang.


"Kamu bilang kalau darah mu cocok dengan anak itu, apa jangan-jangan..." tebak nyonya Kumala.


"Jangan-jangan apa Mah?" tanya Andrian yang belum mengerti maksud mamanya.


"Kemungkinan kecil dia anak mu An, sudah begitu banyak terbukti bahwa anak itu keturunan mu, dari wajahnya yang mirip dengan mu bahkan sampai golongan darah pun kalian begitu cocok. Padahal darah mu agak langka jadi sedikit kemungkinan kalau ini hanya kebetulan. Serta kita juga belum mengetahui siapa Ayah kandung dari anak Nayra itu."


"Sudah Andrian katakan Mah, kalau Andrian tidak ada hubungan sama sekali dengan Nayra, bahkan mengenalnya saja baru-baru ini apalagi sampai mempunyai anak dengan Nayra."


"Dulu kamu kan sering gonta-ganti wanita dulu, mungkin saja Nayra salah satu wanita yang pernah kamu tiduri waktu itu," nyonya Kumala mengatakan itu karena dia sudah tau sifat anaknya dulu, bahkan sangking playboy nya Andrian, ia pernah berpacaran sampai 4-5 wanita sekaligus.


Mengingatkan masa lalunya membuat Andrian merasa malu dengan perbuatannya dulu, tapi perkataan mamanya ada benar juga. Tidak mungkin ini hanya sebuah kebetulan, tapu setahunya ia tak pernah berpacaran dengan Nayra dulu atau membayar Nayra hanya untuk melayaniku di atas ranjang.


See you again...


LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^