My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 43



🍁🍁🍁


Nayra pun melihat bajunya yang masih bercak darah serta kusut seperti ini. Ia tersadar bahwa seharian kemarin ia tak pernah mengganti pakaiannya.


"Kalau gitu aku mau bersikukuh tubuhku dulu, aku titip Alden ke kamu ya!" ujar Nayra.


Baim hanya menganggukkan kepalanya untuk menyetujui perkataan Nayra.


Nayra pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang begitu kotor. Hampir setengah jam Nayra menghabiskan waktunya untuk membersihkan tubuhnya.


Ketika keluar dari kamar mandi, Nayra menjadi ke ingat dengan Andrian.


"Bagaimana keadaan Pak Andrian sekarang? Apakah dia baik-baik saja atau sebaliknya. Aku takut karena kejadian semalam membuat Pak Andrian menjadi sakit," gumam Nayra.


Karena penasaran dengan keadaan Andrian, Nayra pun merokok kantong celananya untuk mengambil telpon. Ia penasaran bagaimana keadaan Andrian sekarang.


Di sebelah yang berbeda terlihat seseorang laki-laki yang masih setia di dalam selimut tebalnya. Andrian terbangun dengan suara ponselnya yang bergetar.


Dret... dret... dret...


Dengan mata yang masih tertutup Andrian meraba-raba ponselnya. Ketika sudah mendapatkan ponselnya tanpa melihat siapa penelpon, Andrian langsung saja mengangkat telpon nya.


Telpon.


Andrian :


Hallo... (seru Andrian dengan suara agak serak seperti orang sedang sakit)


Nayra :


Hallo Pak Andrian...


Mendegar suara Nayra yang ada di balik telpon itu, Andrian langsung terperanjak dari tempat tidurnya lalu ia melihat ponselnya untuk melihat kontak siapa yang sedang menelpon nya saat ini. Andrian pun kembali memelototkan matanya karena yang menelpon adalah Nayra.


Nayra :


Hallo Pak! Apakah Bapak masih mendegar saya?


Andrian :


I-iya... Aku mendengar mu.


Nayra :


Saya kira Bapak mematikan telponnya.


Andrian :


Ada apa kamu menelpon ku? Apakah Alden kenapa-napa?


Nayra :


Tidak! Alden baik-baik saja, malah dia siuman tadi pagi.


Andrian :


Syukurlah kalau gitu, lalu kamu menelpon untuk apa? Apakah ada sesuatu yang bisa aku bantu?


Nayra :


Tidak ada Pak! S-saya sebenarnya hanya ingin mengetahui keadaan Bapak saja. Karena semalam saya kepikiran dengan Bapak pulang malam-malam seperti kemarin dengan kondisi tubuh belum stabil.


Andrian :


Aku baik-baik saja, cuma sedikit pusing aja. Nanti membaikan setelah aku istirahat.


Nayra :


Lebih baik Bapak minum obat lalu istirahat.


Andrian :


Aku sudah minum obat tadi, baru saja kebangun karena kamu menelpon.


Nayra :


Astaga! Maaf Pak saya jadi menganggu istirahat Bapak.


Andrian :


Nggak usah minta maaf segela, laigian aku lebih baik setelah kamu menelpon.


Nayra :


Lebih baik Bapak kembali istirahat, saya akan mematikan telponnya.


Andrian :


Tunggu_


Tut... tut... tut...


Belum saja Andrian menyelesaikan perkataannya, Nayra lebih dulu mematikan teleponnya.


Andrian pun menaruh kembali ponselnya di atas nakas lalu kembali tidur dengan tubuh yang dibaluti selimut tebalnya itu.


***


Keesokan harinya, Andrian sudah lebih baik dari sebelumnya. Sekarang ini ia menuju ke suatu tempat di mana ia akan membuktikan semuanya. Tak lama kemudian Andrian pun sampai di salah satu rumah sakit di mana temannya bekerja sekaligus pemilik rumah sakit nya.


"Di mana ruangan Dokter Nathan sus?" tanya Andrian ke pada suster yang menjadi resepsionis rumah sakit.


"Apakah Bapak ada janjian dengan Dokter Nathan?" tanya suster itu.


"Iya, saya sudah ada janji dengan dokter Nathan."


"Kalau gitu di mana surat konsultasi dengan dokter Nathan?"


"Saya bukan pasien Dokter Nathan."


"Lalu Bapak mau bertemu dengan Dokter Nathan untuk apa?" tanya suster itu lagi.


"Saya temannya Dokter Nathan, jadi ada keperluan peribadi dengan Dokter Nathan."


"Kalau gitu saya telpon Dokter Nathan dulu."


Suster itu pun menelpon dokter Nathan untuk memastikan apakah benar pria yang ada di depannya ini adalah temannya dokter Nathan. Karena ia belum percaya dengan perkataan pria di depannya ini.


"Baik Dok! Saya akan memberitahunya," suster itu selesai menelpon dengan dokter Nathan.


"Apa kata Dokter Nathan?" tanya Andrian.


"Kata Dokter Nathan, Anda bisa langsung ke ruangannya. Ruangannya ada di lantai 3 tepat di dekat lift. Nanti Bapak bisa lihat sendiri tulisan di pintu dengan bertuliskan DR. NATHAN WILIYAM.


"Baik! Terima kasih sus!"


Setelah mengetahui ruangan Nathan. Andrian pun langsung menuju ke sana mengunakan lift.


Andrian langsung saja masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Nathan yang melihat seseorang masuk dengan tiba-tiba langsung terperanjat dari duduknya.


"Astaga! Aku kira siapa tadi," ujar Nathan sambil menepuk dadanya.


"Sorry... Sorry aku lupa untuk mengetuk pintu."


"It's oke!"


"Oh ya di mana barang yang aku maksud?" tanya Nathan meminta benda yang akan ia tes DNA.


"Ini..." Andrian menyodorkan sebuah rambut sudah dibungkus oleh plastik.


"Memangnya kamu melakukan tes DNA ini untuk apa?" tanya Nathan yang memang belum mengetahui apa tujuan Andrian.


"Aku akan membuktikan bahwa dia anak ku."


"Apa? Kapan kamu punya anak? Kenapa kamu tidak memberitahuku tentang pernikahan mu?" tanya Nathan tanpa memberikan kesempatan untuk Andrian menjawab.


"Aku belum menikah."


"Lalu? Anak yang kamu maksud siapa?" Nathan masih belum mengerti maksud Andrian.


Andrian pun menjelaskan semuanya yang telah terjadi. Bahkan waktu malam kejadian itu Andrian menceritakannya ke Nathan. Dia sangat percaya dengan Nathan membuatnya tak ragu-ragu menceritakan semuanya.


"Gawat kalau gini," ujar Nathan yang sudah mengerti semua cerita kehidupan Nathan.


"Gawat bagaimana maksud mu?"


"Gawatnya, nama besar kamu akan hancur bila wanita itu mempublikasikan semaunnya nanti. Nama kamu dan nama besar keluarga Grahatama akan ternodai dengan kelakukan mu dulu."


"Wanita yang aku maksud itu tak seperti itu. Malah dia tak mau memberitahu kebenarannya selama ini, dia sembunyikan semua kejadian itu."


"Tapi bisa saja bila suatu saat nanti dia sakit hati padamu atau keluarga mu, dia akan memberitahu publik."


"Maka aku tak akan biarkan itu. Sebelum dia mengatakannya aku akan membuktikan dulu apa benar itu anakku atau tidak. Bila benar dia anakku, aku akan menikahinya."


"Apa kamu serius akan menikah dengan wanita itu? Apa kamu taka akan menyesal nantinya bila menikahi wanita yang baru saja kamu kenal."


"Aku tidak akan menyesal menikahi wanita yang sudah melahirkan anakku. Seharusnya aku yang akan beruntung bila menikahi wanita setangguh dirinya."


"Apa kamu mencintainya?" tanya Nathan yang curiga melihat raut wajah Andrian yang begitu berseri-seri.


"Kalau iya kenapa? Dan kalau tidak juga kenapa?' balik tanya Andrian kepada Nathan.


"Terlihat wajahmu begitu berseri-seri ketika membicarakan wanita itu. Kata sebagian orang bahwa bila kita menceritakan orang yang kita sukai, maka wajah kita begitu bahagia."


"Kau Dokter atau peramal yang bisa menebak hati seseorang."


"Kalau dua-duanya memangnya kenapa?"


"Kamu ramal saja jodohmu sana, sudah tua bangkotan kayak gitu belum nikah-nikah juga," Andrian yang mengatakan Nathan seperti itu juga tak sadar diri bahwa dia juga seperti itu.


See you again...


LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^