
🍁🍁🍁
Mendengar bahwa gadis malang itu ada dihadapannya saat ini. Sontak membuat Bik Lastri menjadi kaget dan membulatkan matanya dengan sempurna.
"Maksud Nyonya bahwa gadis malang itu adalah_" Bik Lastri tak tega melanjutkan ucapannya itu.
Tapi Nayra hanya menganggukkan kepalanya bahwa maksud Bik Lastri itu benar. Bahwa dirinya lah gadis malang tersebut.
"Nyonya harus kuat! Nyonya adalah wanita dari beribu-ribu wanita yang bisa menghadapi cobaan yang begitu berat itu. Percayalah bahwa Tuhan memberikan Nyonya cobaan seperti itu karena Nyonya bisa menjelaskannya."
"Tapi saya tak bisa menjalankan semua cobaan itu, hiks..." keluh Nayra.
"Nyonya bisa menjalankannya, kalau Nyonya tak bisa menjalankannya maka Nyonya tak akan ada di titik ini. Saya begitu salut dengan Nyonya Nayra."
Bik Lastri pun memeluk Nayra untuk memenangi Nayra yang menangis. Berada di pelukan Bik Lastri membuat Nayra menjadi lebih tenang. Ini pertama kalinya ia dapatkan sebuah pelukan hangat setelah sekian lama tak mendapatkan pelukan seperti ini. Sebelumnya Ibu panti nya tempat ia dikatakan pelukan hangat tapi setelah pergi dari panti Nayra tak pernah mendapatkan pelukan seperti ini lagi.
"Sudah Nyonya jangan menangis! Lupakan masa lalu Nyonya dan kembali tata hidup Nyonya seperti sediakala."
Di sisi lain ada sosok orang yang mendengarkan pembicaraan antara keduanya. Itulah Andrian yang baru datang ketika Nayra menceritakan masa lalunya. Awalnya Andrian berniat ke sini untuk mengambil sesuatu di apartemennya tapi ketika melihat Nayra sedang bercerita kepada pembantunya ia menjadi ikut mendengar ceritanya.
Andrian menjadi merasa bersalah telah mengucurkan kegiatan wanita yang ia cintai. Tapi bagaimana lagi Ini semua sudah terjadi, bila tak ada kejadian itu mungkin ia tak akan mengenal Nayra selamanya.
"Aku akan berjanji tak akan menyakiti hati Nayra. Aku akan terus membuatnya bahagia bersama ku. Aku akan membuatnya jatuh cinta padaku bagaimana pun caranya cepat ataupun lambat. Ini adalah janjiku," gumam Andrian.
Tujuannya sekarang adalah membahagiakan Nayra serta anaknya. Ia tak akan lagi menelantarkan mereka berdua mulai detik ini. Cukup dulu mereka menderita tapi tidak untuk sekarang ini.
Andrian jadi tak tega untuk mengambil barang nya yang berada di kamar utama. Ia tak mau menganggu Nayra yang sedang bersedih. Akhirnya Andrian memutuskan untuk kembali pulang ke rumah utama, biarkan Nayra menenangkan dirinya malam ini.
***
Menjelang pagi, Andrian bersiap-siap turun ke bawah untuk sarapan. Ketika sampai di meja makan Mama dan papanya terlihat menyambut dengan begitu bahagia.
"Ada apa Papa dan Mama terlihat senyum-senyum seperti itu? Apakah ada salah dengan pakaianku?" gumam Andrian dari dalam hati sambil melirik pakaiannya ada yang salah.
"Ada apa Mama dan Papa senyum-senyum tak karuan seperti itu?" tanya Andrian secara langsung kepada papa mamanya.
"Tidak ada! Kami cuma senang aja akhirnya apa yang kami inginkan selama ini akan tercapai," seru nyonya Kumala.
"Memangnya apa yang kalian inginkan yang sudah tercapai?" tanya Andrian.
"Bukannya Nayra sudah setuju menikah denganmu? Jadi kamu sebentar lagi akan menikah kan?" sekarang giliran tuan Wijaya yang bertanya pada Andrian.
"Bagaimana kalian bisa tahu tentang ini? Bukannya Andrian belum memberitahukan kalian tentang ini? Padahal tadi Andrian akan memberikan kalian kejutan tetang kabar ini."
"Tenang dari mana kami mengetahuinya itu tak perlu kamu ketahui, yang terpenting kamu cepat-cepat nikahi Nayra," seru mamanya.
"Tapi Nayra agak sedikit menolak bila menikah secepatnya, katanya ia masih belum siap bila jangka waktu dekat ini ia akan menikah."
"Ini kesempatan besar untukku menikahinya, nanti kalau kamu tunda pernikahan ini maka Nayra bisa saja berubah pikiran dan meninggalkan kamu serta membawa Alden darimu, apakah kamu mau seperti itu," hasut nyonya Kumala agar Andrian mau secepatnya menikahi Nayra.
Nyonya Kumala memang sudah tak sabar melihat anaknya melepas status lanjagnya.
"Mama sudah membooking butik dan toko perhiasan untuk kalian pilih-pilih. Janjiannya nanti siang, jadi kamu ajak Nayra memilih gaun pernikahan serta cincin pernikahan di sana," seru mamanya.
"Bukannya ini terlalu cepat dan mendadak Mah? Andrian juga begitu banyak pekerjaan di kantor hari ini," keluh Andrian. Ia tak habis pikir dengan mamanya satu ini.
"Tapi Mama sudah janjian dengan manager butik dan toko perhiasan itu kalau kalian datang nanti siang. Masak Mama harus membatalkannya, kan Mama jadi malu sudah membooking orang."
"Makanya Mah kalau apa-apa menyangkut Andrian, omongin dulu dengan Andrian baru bertindak sesuai instruksi Andrian," ujar Andrian yang agak tak suka melihat tindakan mamanya yang semena-mena.
"Maafkan Mama! Kalau gitu Mama akan membatalkan semuanya," ujar nyonya Kumala dengan raut wajah sedih dibuat-buat. Dia sengaja agar Andrian mau pergi nanti siang bersama Nayra.
Dan rencananya pun berhasil, dengan mimik muka sedih tadi membuat Andrian luluh dengan perintahnya.
"Baiklah Mah! Andrian akan ke sana bersama Nayra, tapi Andrian tak janji bila Nayra mau ke sana."
"Kami usahain dong biar Nayra nya mau," mamanya agak terlihat memaksa tapi mau bagaimana lagi itu sudah sifat mamanya dari dulu.
"Iya-iya Mama ku sayang..." ujar Andrian sambil mengelus-elus pipi mamanya.
"Kalau gitu Andrian pamit ke kantor dulu," ujar Andrian sambil mencium tangan kedua orang tuanya saling bergantian.
"Kamu nggak sarapan An?" tanya taun Wijaya yang memang belum melihat Andrian menyentuh sarapannya dari tadi.
"Nanti Andrian sarapan di kantor saja, soalnya Andrian sudah terlambat datang ke kantor."
Andrian pun pergi dari sana menuju ke parkiran mobilnya. Hari ini dia mengunakan sopir pribadi untuk pergi ke kantor.
Di sisi lain terlihat nyonya Kumala begitu bahagia karena rencananya tadi berhasil.
"Akhirnya rencana ku dari semalam tak sia-sia, Mama tak sabar melihat anak kita satu-satunya menikah," ujar nyonya Kumala dengan sumringahnya.
Sedangkan tuan Wijaya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya itu.
***
Andrian yang baru sampai di kantor langsung dibukakan pintu oleh sopirnya ketika keluar dari mobil. Masuk ke dalam perusahaan semua tertunduk hormat pada CEO perusahaan itu seperti biasanya.
"Selamat pagi Pak!"
"Pagi Pak..."
"Selamat pagi Pak..."
Itulah ucapan para karyawan yang menyapa bosnya itu. Tapi dengan sifat Andrian yang masih dingin, ia tak pernah mau menyapa balik karyawannya itu.
Padahal bila berhadapan dengan mama dan Nayra pasti mental Andrian akan mencium di depan dua wanita yang ia sayangi itu. Tapi untuk saja para karyawan nya tak tau mengenainya itu kalau mereka tau bakal turun harga dirinya sebagai CEO dingin di perusahaan.
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^