My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 66



🍁🍁🍁


Sekilas Nayra mendengar pembicaraan mereka, ketika Andrian menyebut namanya ia merasa malu karena takut bila orang tua Andrian tau tentang kejadian tadi malam.


"Syukurlah kalau wanita itu tak bisa menjebak mu," nyonya Kumala merasa lega dan merasa emosi mendengar cerita dari anaknya itu. Ia tak menyangka Nadia bisa melakukan hal sekotor itu padahal keluarnya termaksud keluarga terpandang di kota ini.


"Papa sudah berfirasat dari melihat anak itu kalau anak itu tak baik, tapi Mama mu begitu kekeh ingin menjodohkan kamu dengan perempuan itu, untung saja kamu tak mau dijodohkan."


"Iya-iya! Mama yang salah sudah mengenalkan wanita itu kepada Andrian," walaupun mengaku tapi nyonya Kumala tak suka disalahkan oleh suaminya.


Selepas itu Andrian mengantarkan Nayra ke apartemen karena ia tau Nayra tak enak bila berlama-lama di rumah orang tau Andrian.


"Terima kasih telah mengantarkan kami," seru Nayra.


Alden tidur di jok belakang sedangkan Nayra duduk di depan bersama Andrian.


"Seharusnya aku yang berterima kasih dan meminta maaf kepada mu."


"Untuk?" tanya Nayra.


"Untuk semua yang sudah terjadi, aku sangat-sangat bahagia dan merasa beruntung kamu ada di sisiku, aku janji tak akan membuatmu sedih dan terluka lagi gara-gara aku."


Andrian menggenggam kedua tangan Nayra lalu memandangnya begitu lekat, terlihat dari bola matanya begitu tulus. Sedangkan Nayra tersenyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca mendengar ucapan tulus dari Andrian.


"Terima kasih juga telah memberikan ku kebahagiaan belakangan ini."


Andrian mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya lalu memberikannya kepada Nayra.


"Ini apa?" tanya Nayra.


"Buka saja!"


Nayra pun membuka kotak kecil itu yang berisikan kalung, Nayra terlihat bahagia. Bukan karena hadiah dari Andrian tapi kalung itu sangat berharga baginya.


"Dari mana Mas bisa menemukan kalung ini? Aku begitu sangat mencarinya selama ini."


"Aku menemukannya di gubuk itu setelah kepergian mu, aku sengaja mengambilnya agar aku bisa mudah mencari wanita yang bersama ku malam itu."


"Akhirnya kalung ini kembali lagi ke tanganku."


"Memangnya kalung itu kenapa sampai begitu berharganya buatmu?"


"Ini kalung peninggalan orang tuaku sebelum dia menaruh ku di panti, mungkin saja suatu saat aku bisa bertemu dengan mereka walaupun ibu panti bilang kalau orang tuaku sudah meninggal."


"Maaf! Aku tidak bermaksud mengungkit masa lalu mu."


"Tidak papa! Aku sudah terbiasa seperti ini, kalau begitu aku masuk dulu."


Nayra keluar dari mobil sport Andrian sambil menggendong Alden.


"Kamu tidak mau mampir ke dalam?" tanya Nayra menawarkan.


"Sebenarnya aku ingin sekali bermain dengan Alden tapi hari ini ada begitu banyak pekerjaan di kantor. Besok kalau pekerjaan nya sudah selesai aku akan datang ke sini."


Sebelum pergi dari sana, terlihat dahulu Andrian mencium pipi anaknya lalu mencium kening Nayra, ingin Nayra mengoceh karena Andrian tanpa izin menciumnya tapi Andrian dengan cepat masuk ke dalam mobil dan menancapkan mobilnya meninggalkan area itu.


***


Tok... tok... tok...


Awalnya suara yang hening di dalam ruangan itu seketika bergema kala ada orang di balik pintu mengetuknya.


"Maaf Tuan menganggu, saya Tiara ingin memperkenalkan anda dengan calon asisten Anda," seru Tiara dari luar ruangan Andrian.


"Masuklah!"


Akhirnya Tiara serta calon asisten itu masuk ke dalam ruangan Andrian.


"Perkenalkan Tuan ini Amanda calon kandidat yang terpilih untuk menjadi asisten Anda, sekarang tinggal Anda yang menentukan Tuan," jelas Tiara.


"Mana data wanita ini?"


Andrian terlihat begitu fokus membaca map yang tadi diberikan Tiara padanya, sesekali ia melirik calon asisten nya itu. Wajahnya yang terlihat lugu dan polos membuat nya sedikit tertarik untuk menerimanya bekerja di sini.


Sedangkan Amanda yang melihat calon bosnya itu agak sedikit terpana dengan ketampanan dan kewibawaannya itu. Tapi ia sadar tak mungkin seseorang Tuan Andrian tertarik padanya.


"Apa yang kamu pikirkan Amanda? Kamu dan Tuan Andrian begitu sangat beda, kamu tak pantas untuknya, sadarlah Amanda!!" gerutu Amanda dalam hatinya.


"Kamu kenapa?" tanya Andrian melihat Amanda sedari tadi bicara sendiri.


"Ah i-itu... saya tidak apa-apa Tuan," jawab Amanda terbata-bata.


"Bodoh kamu Amanda, bisa-bisanya terlihat bodoh dikesan pertama bertemu atasanmu," Amanda tak henti-hentinya mengutuk dirinya yang begitu bodoh.


"Baiklah! Karena saya begitu kerepotan akhir-akhir ini dan sangat membutuhkan asisten, jadi kamu saya terima kerja di sini. Dengan syarat kinerja kerjamu harus bagus dan tidak mengecewakan."


"I-ini beneran saya di terima kerja di sini?" Amanda tak menyangka semudah ini diterima kerja oleh atasan modelan Andrian.


"Atau kamu tak berminat kerja di sini?" tanya lagi Andrian mengintimidasi.


"T-tidak Tuan! Saya begitu senang masuk di perusahaan ini, ini impian saya dari dulu."


"Baguslah kalau gitu! Nanti sekertaris saya yang akan menjelaskan pekerjaan mu."


"Baik Tuan!" ujar mereka berdua dengan kompak.


"Kalau gitu saya permisi dulu Tuan," seru Tiara sambil menundukkan kepalanya memberi hormat begitu pula dengan Amanda.


Ketika berbalik keluar, Amanda berjingkrak-jingkrak sangking senangnya di terima kerja, bahkan sampai tak sadar bahwa Andrian sedari tadi melihatnya. Andrian hanya menggeleng-gelenggkan kepalanya.


Ia teringat kembali dengan Nayra yang sempat menjadi asistennya, tetapi reaksi mereka berbanding terbalik. Ketika Amanda di terima kerja, dia terlihat bahagia beda dengan Nayra yang langsung ketakutan ketika melihat dirinya pertama kali.


Awal bekerja terlihat kinerja Amanda cukup bagus membuat Andrian sedikit puas.


"Tuan, Anda ingin makan siang apa?' tanya Amanda karena ini sudah masuk waktu makan siang.


"Nasi goreng."


"Lalu minumannya?"


"Air putih."


Andrian tetap pada mode irit bicaranya, ia akan berbicara sesuai keperluan.


"Baiklah Tuan!"


Ketika membalikkan badannya, Andrian kembali memanggilnya.


"Saya tunggu 5 menit!!"


Amanda hanya menghela nafasnya, begitu sedikit waktu yang diberikan. Sedangkan tempat membelinya saja agak jauh dari ruangan, belum lagi mengantri tapi tidak pa-pa demi pekerjaan.


"Baik Tuan!" Amanda menundukkan kepalanya lalu pergi dari sana, ketika keluar dari ruangan itu dengan cepat Amanda berlari agar tidak membuang-buang waktu.


Tepat lima menit berlalu Amanda sampai di ruangan Andrian. Tetapi dia berhenti berjalan ketika melihat pemandangan yang begitu indah di dalam sana, rasa capeknya langsung terbayar oleh ketampanan seorang Andrian.


Andrian yang fokus ke laptop dengan menggunakan kaca mata membuatnya terlihat tambah tampan terlebih lagi wajahnya yang terlihat serius membuat wibawanya begitu tinggi.


"Ini Tuan makan siang Anda."


"Hm..."


Amanda yang lumayan dekat dengan tubuh Andrian merasa deg-degan, tangannya gemetar berhasil membuat Andrian tertuju pada tangan Amanda.


"Tangan mu kenapa gemetar seperti itu? Apa kamu sakit?" tanya Andrian tambah membuat Amanda gugup.


See you again...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN MASUKAN KE FAVORIT ^_^