
🍁🍁🍁
Flashback on...
"Selamat Pak anaknya lahir dengan selamat dan tak ada cacat sedikitpun," pak Wisnu menggambil anaknya dari gendongan bidan itu. Iya tersenyum kecut melihat putri yang baru saja datang di dunia itu.
"Maafkan Papa Nak, kamu terlahir di keluarga yang salah. Dunia ini keras dan mungkin kamu tak bisa menjalaninya," ujar pak Wisnu membelai wajah mungil putrinya.
Kondisi pak Wisnu dan buk Diana begitu berbeda saat itu. Kehidupan yang serba kekurangan, hutang dimana-mana bahkan untuk tinggal saja dia harus berpindah satu tempat ke tempat yang lain.
Untuk saat ini pak Wisnu juga bingung untuk membayar persalinan istirnya, sebab uangnya sudah habis untuk membayar seperempat hutangnya itu.
"Ya Tuhan aku harus bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan untuk menghidupkan titipan mu ini, aku benar-benar tidak sanggup lagi," tak terduga mata pak Wisnu jatuh dari pipinya.
Tak lama setelah itu terlihat bidan yang tadi membantu persalinan istirnya berlari datang menemui pak Wisnu dengan wajah yang begitu panik.
"P-pak!" seru bidan itu.
"Ada apa? Bagaimana dengan kondisi istri saya? Apakah dia sudah bangun?" tanya pak Wisnu yang masih mengendong malaikat kecilnya.
"I-istri Bapak sudah tiada," ujar bidan itu dengan mulut yang gemetar.
"Apa? Jangan main-main Buk Bidan! Saya tidak suka bercanda dengan hal seperti ini," ucapan pak Wisnu terlihat begitu marah.
"Saya tidak bercanda Pak, kalau Bapak tidak percaya silahkan lihat saja kondisi istrinya saat ini."
"Kalau gitu minta tolong pegang anak saya," ujar pak Wisnu memberikannya kepada bidan itu lalu berlari menuju istirnya.
Tubuhnya gemetar melihat istrinya sudah ditutupi dengan kain. Dengan memberanikan diri pak Wisnu sedikit demi sedikit membuka kain yang menutupi tubuh istrinya.
Terlihat wajah cantik istrinya begitu pucat, pak Wisnu menggoyang-goyangkan tubuh istrinya untuk memastikan kalau perkataan bidan itu salah.
"Ayok Sayang bangun! Apakah kau tak mau melihat putri kecil kita yang sudah lahir?" mata pak Wisnu sudah merah dengan ditambah air mata bercucuran turun kebawah pipinya.
"Kamu sudah janji akan berjuang bersamaku untuk membesarkan anak kita, kamu sudah berjanji akan berjuang bersama-sama untuk menjadi lebih baik. Tapi kenapa kamu lebih dulu meninggalkan ku? Apa salahku?"
Pak Wisnu memeluk istrinya dengan erat lalu menangis di atas pelukan istrinya itu.
"Aku tak bisa membesarkan anakku sendirian, aku tak sanggup lagi hidup tanpamu. Apakah kita sama-sama pergi ke surga untuk menemanimu?" kegilaan pak Wisnu sudah merasuk ke dalam dirinya, sangking stress nya dia berniat akan membunuh anaknya setelah itu ia akan bunuh diri.
Dengan cepat pak Wisnu menggambil anaknya dari gendongan bidan itu lalu pergi menuju jenazah istrinya.
"Lihatlah Sayang! Kita akan bersama-sama lagi, kita tidak akan merasakan lagi kejamnya dunia dan orang-orangnya.
Owek... Owek... Owek...
bayi itu tak henti-hentinya menangisi ketika digendong oleh Papanya, mungkin ia merasakan bahwa dirinya tak aman.
"Maafkan Papa Sayang!" pak Wisnu menjatuhkan air matanya ke pipi anaknya sebelum ia akan melakukan aksinya.
Karena mendengar bayi itu tak henti-hentinya menangisi dengan cepat bidan itu menghampiri bayi itu ditangan pak Wisnu.
"Apa-apaan Bapak ingin membunuh anak tak berdosa ini! Apakah Bapak sudah gila ingin membunuh anak sendiri?" bidan itu langsung mengambil bayi itu dari gendongan pak Wisnu lalu menepuk-nepuk bayinya agar tak menangis lagi.
"Iya aku sudah gila! Aku tak ingin anakku merasakan kejamnya dunia ini, kemarikan lah anakku!"
"Kalau Bapak tidak mau mengurus bayi ini, biarkan saja saya yang mengurusnya, saya tak akan pernah memberikan Bapak anak ini untuk dibunuh. Dia tak bersalah selama ini."
"Apa Buk Bidan serius untuk mengurus anak ini?" tanya pak Wisnu memastikan.
"Jika Bapak tak mau dengan kedatangan bayi ini, maka biarkan saya untuk mengurus nya. Saya janji akan mengurusnya dengan baik," ucap bidan itu terlihat begitu tulus.
"Terima kasih buk Bidan, saya bingung untuk menghidupkan anak saya kelak, saya begitu tak sanggup apalagi dengan kepergian istri saya membuat saya kehilangan arah saat ini."
Pak Wisnu berlutut di kaki bidan itu dengan menderai air mata, sedangkan bidan itu tak enak bila pak Wisnu ada di bawah kakinya.
"Berdirilah Pak! Lebih baik Bapak urus jenazah istrinya, lebih cepat lebih baik."
"Sebelum itu saya ingin memberikan hadiah terkahir untuk anak saya."
Pak Wisnu memasangkan sebuah kalung di leher bayinya itu. Itu adalah kalung bekas almarhumah istirnya, mungkin suatu saat dia akan mencari anaknya dan untuk bisa mengenalinya dia akan melihat kalung yang akan dia berikan kepada anaknya.
Pak Wisnu dengan berat hati meninggalkan malaikat kecilnya dengan orang lain, tapi saat ini dia tak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Dengan deraian air mata ia membawa jenazah istrinya ke kontraknya.
Orang-orang sudah berkumpul di kontrakan pak Wisnu, ada yang sedang mengurus kedatangan warga yang datang, ibu-ibu yang memandikan jenazah buk Diana. Sedangkan pak Wisnu hanya mengurung diri di kamar sambil memandangi foto almarhumah istrinya.
"Kenapa jadi seperti ini? Apa salahku sampai kau meninggalkanku sendirian di sini," pak Wisnu tak henti-hentinya membelai foto istirnya.
"Pak Wisnu! Pak! Pak...." teriak salah satu ibu sambil menggedor-gedor pintu kamar pak Wisnu.
"Pak tolong buka pintunya!" ujar lagi ibu tersebut.
Pak Wisnu yang mendengar dirinya dipanggil langsung membuka pintu kamarnya. Ia begitu terkejut melihat wajah ibu-ibu itu yang terlihat begitu panik.
"I-istri Anda Pak... Istri Anda..." ujar dengan suara begitu gugup.
"Istri saya kenapa?"
"Istri Anda masih hidup Pak."
"Apa?" pak Wisnu begitu kaget mendengar itu. Ia tak salah dengar kan tentang ucapan ibu tadi.
"Setelah kami memandikan istri Anda, tangannya bergerak dan tak lama kemudian membuka matanya. Dia mencari Anda sedari tadi. Para warga takut untuk mendekati istri Anda karena tiba-tiba saja terbangun dari kematia__"
Belum saja ibu itu menyelesaikan omongannya, pak Wisnu langsung bergegas menuju istirnya. Dia melihat istrinya menangis ketakutan ketika para warga melihatnya aneh.
"Hiks... apa yang sudah terjadi padaku?" tak henti-hentinya buk Diana menangis sambil menutupi tubuhnya yang tak menggenakan sehelai pakaian sedikitpun. Dia hanya menutupi tubuh polosnya dengan kain yang ada di sana.
"Kamu masih hidup Sayang?" pak Wisnu langsung memeluk istrinya dan menutupi tubuh istrinya menggunakan jaket yang ia sedang kenakan.
"Aku kenapa? kenapa aku seperti ini? Di mana anak kita? Kenapa banyak orang di kontrakan kita?" begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh buk Diana sampai pak Wisnu tak tau menjelaskan seperti apa.
"Nanti akan ku jelaskan Semuanya."
Pak Wisnu pun mengendong istirnya masuk ke dalam kamar. Sedangkan para warga kembali balik ke rumah masing-masing.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT ^_^