
🍁🍁🍁
Sedangkan Nayra tak memperdulikan pembicaraan di depannya itu. Ia hanya fokus kepada anaknya yang belum sadar juga sambil meneteskan air matanya begitu deras.
"Bangun Sayang! Maafkan Mama Sayang..." Nayra tetap mengoyang-goyangkan tubuh anaknya itu agar bisa terbangun.
"Mah..." lirih Alden menyebut nama mamanya. Tapi hanya bibirnya bicara tapi matanya masih tertutup.
"Iya Sayang, ini Mama! Ayok bangun Alden! Mama ada di sini," Nayra mengusap-usap wajah anaknya yang berlumuran darah.
Sedangkan Andrian melihat kesedihan Nayra yang begitu dalam ketika melihat anaknya terbaring lemas seperti itu. Andrian melihat Nayra dan Alden dari kaca mobil, ada rasa sakit ketika melihat Nayra begitu sedih dan melihat Alden bertumpahan darah seperti itu. Tapi ia tak tau apa penyebabnya seperti ini. Apa mungkin karena dia menyukai Nayra membuat ia juga iba kepada anaknya juga.
Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Tak butuh waktu lama Andrian langsung membopong tubuh mungil Alden ke dalam. Begitu juga dengan Nayra yang berada di samping Andrian sedangkan guru Alden ada di belakang mereka.
"Dokter tolong anak saya Dok! Hiks..." seru Nayra meminta dokter yang lewat didepan nya itu.
Tak lama kemudian beberapa perawat serta dokter langsung membawa Alden ke ruang IGD. Nayra ingin masuk ketika anaknya itu di bawa ke dalam tapi para perawat nya mencegah agar Nayra ikut masuk.
"Maaf Buk, Anda tidak boleh masuk dulu!" ucap perawat itu.
"Tapi anak saya ada di dalam. Saya ingin melihat anak saya," Nayra memaksa untuk masuk tapi Andrian langsung menahan tubuh Nayra untuk ikut masuk.
"Nay, Alden sedang diperiksa oleh dokter jadi kamu jangan ikut masuk," seru Andrian.
"Pak, tolong jaga istri Bapak di sini. Kita di dalam sedang berusaha untuk menyelamatkan anak Anda," ucap perawat itu kemudian langsung masuk ke dalam.
Mendegar hal itu membuat Andrian merasa bingung. Padahal ia bukan suami Nayra dan bahkan bukan ayah Alden juga. Sedangkan Nayra tak menyadari perkataan perawat tadi, ia hanya memikirkan kondisi anaknya saat ini.
"Hiks! Ya Tuhan selamatkan lah Anak hamba hiks..." Nayra tak henti-hentinya menangis menangis di depan ruang pemeriksaan Alden.
Sedangkan Andrian hanya bisa menenangkan Nayra agar tidak terlalu cemas seperti itu. Ia memegang kedua lengan Nayra untuk menopang tubuh Nayra yang lemas itu.
"Kamu tenang dulu Nay! Serahkan semuanya pada dokter, berdoa saja semoga Alden bisa selamat."
"Bagaimana saya bisa tenang Pak? Ini anak saya yang kecelakaan, dia separuh hidup saya di dunia ini. Bila ia kenapa-napa maka hidup saya tak ada artinya lagi hiks..."
"Yakinlah bahwa Alden baik-baik saja, dia anak yang kuat jadi kamu tak perlu khawatir. Lebih baik kamu duduk dulu, terlihat tubuhmu begitu lemas," Andrian menuntun tubuh Nayra menuju kursi yang ada di sana.
Setelah mereka duduk, terlihat Nayra agak sedikit lebih tenang tapi wajahnya masih terlihat pucat. Mereka sudah setengah jam menunggu tapi dokter sama sekali belum keluar-keluar dari ruangan itu.
"Pak bagaimana ini? Kenapa dokternya belum keluar sampai sekarang? Saya takut bila Alden kenapa-napa hiks..." Nayra kembali mengeluarkan air mata setelah beberapa menit belakangan tadi selesai menagis.
"Kamu sabar dulu, mungkin dokternya harus melakukan sesuatu membuat mereka lama di dalam."
"Aku takut Pak," Nayra menyenderkan kepalanya ke dada bidang Andrian sambil menagis di dada Andrian. Nayra tak menyadari perbuatannya itu, ia hanya memikirkan keselamatan anaknya tanpa menyadari perbuatannya itu.
Sedangkan Andrian begitu kaget melihat tindakan Nayra yang tiba-tiba menyenderkan kepalanya ke dadanya. Tapi karena ia tak mau menganggu Nayra, iapun agak sedikit memeluk Nayra agar lebih tenang.
"Hiks... Nak semoga kamu selamat hiks!"
"Bagaimana keadaan anak saya Dok? Apakah dia baik-baik saja? Apakah anak saya sudah sadar? Bagaimana Dok?" Nayra bertanya begitu banyak sehingga dokternya tak tau menjelaskan dari mana.
"Nay! Lebih baik kamu dengarkan dulu penjelasan Dokter terlebih dahulu, baru kamu bisa bertanya," bisik Andrian ke telinga Nayra.
"Lebih baik Bapak dan Ibu ikut ke ruang saya dulu, nanti di sana saya akan menjelaskan keadaan anak Bapak dan Ibu."
Mereka pun mengikuti perkataan dokter itu untuk ikut keruanganya. Mereka duduk sambil dijelaskan tentang kondisi Alden saat ini.
"Apakah Anda kedua orang tuanya pasien?" tanya dokter itu terlebih dulu.
"Iya, saya Ibu nya Dok," jawab Nayra.
"Kalau Bapak apakah Ayahnya pasien?" tanya lagi dokter itu kepada Andrian.
Andrian memang bukan ayah Alden tapi ingin sekali ia mengakui bahwa Alden itu anaknya. Sedangkan Nayra menatap wajah Andrian untuk mendegar apa tanggapannya dari pernyataan dokter itu, karena hanya dia yang tau bahwa Andrian adalah ayah dari Alden.
"B-bukan Dok! Saya bukan Ayah dari pasien," jawab Andrian ragu-ragu.
"Baiklah kalau gitu, saya hanya ingin menyampaikan bahwa anak ibu sekarang masih dalam keadaan koma. Anak ibu harus secepatnya mendapatkan donor darah yang cocok kalau tidak anak Ibu kemungkinan tak bisa diselamatkan."
"Apa tidak ada stok darah di rumah sakit ini untuk pasien?" tanya Andrian.
"Kalau stok darah pasti ada di rumah sakit, tapi golongan darah pasien agak sulit ditemukan," jawab dokter.
"Kalau gitu biar saya saja yang mendonorkan darah untuk anak saya, golongan darah saya A, apakah bisa?" ujar Nayra. Apapun bakal ia lakukan demi anaknya.
"Maaf Buk! Golongan darah Ibu berbeda dengan pasien."
"Memangnya golongan darah pasien apa?" tanya Andrian.
"Golongan darah pasien AB, dan AB agak sulit untuk didapatkan dalam waktu yang cepat. Kalau boleh tau di mana Ayah pasien. Pasti golongan darah pasien dan Ayahnya sama," ujar Dokter itu bertanya pada Nayra.
Seketika Nayra melirik Andrian. Karena Andrian lah ayah kandung pasien dan satu-satunya yang bisa menolong anaknya.
"Apakah aku harus memberitahu Pak Andrian bahwa Alden adalah anaknya?" batin Nayra yang masih ragu-ragu untuk memberitahu kebenarannya. Tapi tak mungkin ia mengorbankan anaknya demi keegoisannya seperti ini.
Nayra ingin memberitahu kebenarannya kepada Andrian tapi niatnya terhentikan dengan ucapan Andrian.
"Golongan darah saya AB, jadi biarkan saya yang mendonorkan darah kepada pasien," ujar Andrian membuat Nayra bernafas lega. Jadi ia tak perlu repot-repot membongkar semuanya.
"Kalau gitu Bapak ikut dengan asisten saya untuk mengecek kondisi Bapak. Apakah bisa layak untuk mendonorkan darah kepada pasien."
"Baik Pak!"
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^