
🍁🍁🍁
"Ini fotomu ketika seumuran dengan anaknya Nayra." sambil menunjukkan foto itu.
Andrian mengambil foto itu dari tangan mamanya, ia begitu kaget ketika menyadari bahwa dulu ketika ia kecil begitu mirip dengan Alden.
"Sekarang kamu percaya kan sama Mama?" ujar lagi nyonya Kumala.
"Percaya tidak percaya tapi ini sudah ada buktinya kalau memang Andrian begitu mirip dengan anaknya Nayra."
"Jadi anak itu benar anakmu?" tanya lagi nyonya Kumala memastikan.
"Tapi Andrian bukan Ayah dari anak Nayra. Bila memang benar mana mungkin Andrian menyembunyikan kebenaran itu kepada Mama dan Papa."
"Iya juga sih," pikir nyonya Kumala.
"Lalu kenapa dia begitu mirip dengan mu?" tanya lagi nyonya Kumala.
"Andrian juga tak mengerti dengan semua ini. Kenapa anaknya Nayra begitu mirip dengan Andrian. Tapi Andrian tak pernah melakukan hal itu bersama Nayra, bahkan Andrian baru mengenal Nayra satu bulan yang lalu."
"Atau kemungkinan besar Ayahnya anak ini mirip dengan Andrian?" ujar lagi Andrian.
"Mana mungkin kamu mempunyai kembaran, sedangkan Mama hanya melahirkan kamu saja."
"Bisa saja kan?"
"Ah sudahlah Mama jadi pusing memikirkan ini semua. Lebih baik kamu istirahat bila kamu lapar suruh pelayanan untuk membuatkan mu makanan."
Nyonya Kumala pun beranjak dari tempat duduknya tadi kalau pergi dari sana. Sedangkan Andrian kembali melihat foto nya waktu kecil. Ia sampai sekarang memikirkan kenapa semuanya begitu kebetulan dengan ia kembar dengan Alden. Apalagi ini baru pertama kalinya suka terhadap anak kecil, padahal selama ini ia anggap anak kecil itu sangat merepotkan.
"Arggghhh... mungkin ini cuma kebetulan saja."
Andrian tak mau memikirkan itu lagi. Lebih baik ia tidur karena besok pagi ia ada pertempuran penting dengan klien.
Andrian menaruh fotonya di nakas samping tempat tidurnya. Lalu ia mematikan lampu kamarnya dan menggantinya dengan lampu tidur. Tak lupa ia juga membuka bajunya sebelum tidur karena Andrian agak kurang suka tidur mengunakan baju.
***
Satu Minggu sudah berlalu, setelah kejadian itu Nayra dan Andrian tak pernah bertemu lagi. Andrian sebenarnya ingin bertemu dan menyapa Nayra tapi ia agak masih malu untuk menyapa Nayra gara-gara kejadian seminggu yang lalu.
Di saat Nayra renggang dengan Andrian di situ Baim mengambil kesempatan untuk lebih dekat dengan Nayra. Bahkan setiap hari Baim datang ke kontrakan Nayra untuk menjemput Nayra bekerja serta mengantarkan Alden pergi ke sekolah.
Sekarang ini Nayra bekerja di salah satu supermarket yang tak jauh dari kontrakannya. Hanya 15 menit perjalanan Nayra sudah sampai di tempat kerjanya.
"Mah, di mana Om Baim? Kenapa belum datang juga?" tanya Alden yang sudah dari tadi menunggu.
Mereka sekarang berada di teras kontrakan mereka. Mereka sedang menunggu Baim datang menjemputnya tapi sampai saat ini Baim tak kunjung datang padahal bila jam segini Baim sudah datang.
"Sebentar ya Sayang! Mama telpon dulu Om Baim nya."
Nayra merokok kantong celananya untuk mengambil ponselnya, ia menekan nomor Baim untuk menghubunginya. Tak lama menunggu Baim langsung mengangkat telpon dari Nayra.
Telpon.
Nayra :
Hallo Baim! Kamu di mana?
Baim :
Maaf Nay, aku lupa mengabarimu bahwa hari ini aku nggak bisa mengantarmu, soalnya ada begitu banyak pekerjaan di bengkel.
Nayra :
Oh ya nggak pa-pa! Lebih baik kamu kerjakan dulu pekerjaan mu, lagian aku bisa pakai angkot ke sana.
Baim :
Sekali lagi aku minta maaf Nay, nggak bisa antar kamu hari ini.
Nayra :
Baim :
Tapi kalau besok aku bisa mengantarkan mu.
Nayra :
Yasudah aku tutup dulu telponnya, selamat bekerja!
Tut... tut... tut...
Mendapatkan semangat dari Nayra membuat Baim merasa bahagia. Ia jadi tambah semangat bekerjanya hari setelah disemangati oleh wanita yang ia cintai.
"Mah, Om Baim nggak bisa antar kita?" tanya Alden yang memang mendengar kan pembicaraan mamanya seketika menelpon tadi.
"Om Baim nya lagi sibuk Sayang, jadi hari kita naik angkot aja ke sekolahnya."
"Yah... Nggak bisa naik motor dong," Alden terlihat memanyunkan bibirnya karena Om Baim nya tak bisa mengantarkannya pergi ke sekolah.
"Yasudah kita berangkat sekarang, kalau terlambat nanti angkotnya udah lewat."
Mereka pun menuju ke jalan raya untuk mencari angkot menuju sekolah Alden. Baru setelah itu Nayra pergi ke tempat ia bekerja setelah mengantarkan anaknya ke sekolah.
Tak lama menunggu akhirnya ada angkot yang lewat. Mereka berdua pun masuk ke angkot tersebut. Hampir 15 menit di perjalanan mereka pun sampai di tujuan. Mereka pun turun dari angkot tersebut.
"Ayok Mama antarkan sampai ke dalam!" Nayra mengandeng tangan anaknya untuk masuk ke dalam sekolah, tapi Alden tetap berdiam diri di tempatnya walaupun Nayra sudah menarik anaknya itu untuk masuk.
"Ayok Sayang masuk ke dalam! Sebentar lagi udah masuk kelas."
"Alden mau itu..." tunjuk Alden yang berada di seberang jalan itu. Nayra pun melihat ke arah Alden menujuk.
"Alden mau gula-gula?" tanya Nayra yang melihat penjualan gula kapas di sebrang jalan itu.
"Iya Mah, Alden mau makan itu."
"Kalau gitu Alden tunggu di sini dulu, Mama akan belikan untuk Alden."
Sebelum menyebrang jalan Nayra dikagetkan dengan seseorang ibu-ibu yang menyapanya dari belakang.
"Mamanya Alden bukan?" tanya wanita paruh baya itu kepada Nayra.
"Iya Buk! Ada apa memangnya?" tanya Nayra.
"Saya gurunya Alden di kelas. Saya ingin menyampaikan kepada Ibu kalau anak Ibu begitu nakal di dalam kelas."
"Maksud Ibu apa? Apakah Anak saya membuat ulah di sekolah?" tanya lagi Nayra.
"Alden anak Ibu sering menganggu teman-temannya di kelas, terutama teman-temannya yang perempuan, Alden sering menjahili dan menakut-nakuti temannya yang perempuan," jelas gurunya Alden.
Nayra mendegar penyataan dari gurunya Alden membuat Nayra begitu terkejut. Setahunya Alden anak baik-baik di rumah tapi pernyataan gurunya barusan berbeda jauh dengan apa yang ia lihat.
"Tapi anaknya di rumah tak pernah seperti itu, ia begitu penurut ke saya dan dia tak pernah nakal ketika di rumah."
"Kalau Ibu tidak percaya, Ibu bisa tanya langsung ke orang tua wali murid. Mereka sering melapor bahwa anak Ibu sering membuat anak-anaknya menangis."
"Astaga! Kenapa Alden berbeda jauh sifatnya di rumah dan di sekolah. Perasaan dulu aku tak pernah nakal seperti ini di sekolahan. Apakah ia menuruti sifat ayahnya yang memang nakal?" gumam Nayra di dalam hatinya.
"Ibu... Ibu!" guru itu menggoyang-goyangkan tubuh Nayra yang sedari tadi diam saja.
"Eh, ya Buk! Maaf tadi saya agak sedikit berpikir tadi."
See you again...
LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^