My Boss My Son's Father

My Boss My Son's Father
part 58



🍁🍁🍁


Setelah habis makanannya, Nayra berencana untuk menelpon Baim sekarang. Ia sangat khawatir karena tak pernah mendengar kabar dari Baim sudah hampir satu Minggu ini. Bukan masalah suka atau tidak, ia sudah menganggap Baim sebagai kakak laki-lakinya.


"Mas, saya mau izin ke kamar dulu," ujar Nayra. Dan Andrian hanya mengiyakan perkataan dari Nayra.


Sampai di kamar Nayra langsung mencari ponselnya. Setelah mendapatkan ponselnya ia langsung menelpon Baim tapi Baim tak mengangkat telpon darinya. Padahal telponnya saat itu masih tersambung saat itu.


Kedua kalinya Nayra kembali mencoba untuk menelpon Baim tapi Baim malah menolak panggilan dari Nayra. Nayra menjadi bingung kenapa Baim bersikap seperti itu.


Ting!


Tak lama kemudian setelah menelpon, terdengar suara pesan masuk ke dalam ponsel Nayra.


Terlihat Baim lah yang mengirim pesan ke ponsel Nayra.


Pesan :


"Nay! Maaf aku tak mengangkat telpon mu, sekarang aku sedang berusaha untuk melupakan mu karena aku tau kau sudah memilih Andrian menjadi pendamping hidup mu, jadi aku tak mau menjadi perusak hubungan antara kamu dan Andrian. Aku juga sudah menitipkan kamu di Andrian agar dia menjaga mu dengan baik. Jangan hubungi aku lagi karena nomor ini sebentar lagi akan aku ganti, oh ya aku juga berhenti tinggal di kontak biasnya, sekali aku berada di rumah orang tuaku jadi kami tak usah mencariku lagi. Salam baut Alden dari Om Baim yang manis ini"


Membaca pesan dari Baim membaut Nayra menangis agak kencang. Bagaimana mungkin Baim akan meninggalkannya seperti ini, apakah ia begitu jahat karena sering menolak Baim.


"Hiks... hiks... hiks..." Nayra sesugukan menangis karena Baim yang dia anggap sebagai kakaknya sudah meninggalkannya.


Andrian yang ingin membawa Alden masuk ke dalam kamar menjadi terhenti ketika mendengar suara Nayra menangis.


"Kenapa Nayra menagis? Apakah ada masalah?" Andrian bertanya-tanya di dalam hatinya.


Karena melihat Alden merengek meminta masuk. Akhirnya Andrian membuka pintu kamar itu. Nayra yang melihat ada orang masuk ke dalam membuatnya langsung menghapus air matanya dan langsung menaruh ponselnya.


Andrian melihat mata Nayra agak memerah menjadi yakin bahwa Nayra baru saja selesai menangis.


Sedangkan Alden langsung naik ke atas tempat tidur untuk mengambil mainan yang belum di buka. Karena begitu banyak sekali Andrian belikan mainan untuk anak nya.


"Mata kamu kenapa terlihat seperti orang baru menangis?" tanya Andrian yang memang penasaran apa yang sudah terjadi dengan Nayra.


"Tidak pa-pa! Mungkin mataku tadi merah gara-gara kelilipan," Nayra berbohong kepada Andrian tapi Andrian tak percaya dengan perkataan Nayra barusan.


Tapi Andrian hanya pura-pura percaya dengan kebohongan Nayra tadi. Mungkin memang ada masalah yang tak harus ia ketahui.


"Pah! Ayok main dengan Alden," ajak Alden sambil menarik papanya ke atas kasur.


Karena Andrian tak mau menolak permintaan anaknya itu akhirnya Andrian bermain mobil-mobilan bersama anaknya di atas kasur. Dan memang Andrian begitu menikmati bermain dengan anaknya sampai lupa waktu.


Sedangkan Nayra hanya melihat mereka berdua bermain sesekali Nayra tertawa melihat tingkah lucu anaknya untuk sedikit melupakan masalah Baim tadi. Nayra juga sesekali ikut bermain bersama mereka berdua tapi setelah itu Nayra bosan bermain robot-robot dengan mereka.


"Astaga! Ini sudah jam sebelas malam," ujar Andrian yang melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Alden Sayang Papa harus pulang," ujar Andrian untuk meminta izin pada anaknya itu.


"Papa nggak boleh pulang!" seru Alden.


"Papa harus pulang sekarang Sayang, Papa janji besok pagi Papa akan datang ke sini lagi dan bermain robot-robotan bersama Alden, bagaimana?" rayu Andrian agar Alden mau memberinya pulang, tapi Alden malah tambah merengek kepada Andrian agar tak pulang.


"Pokonya Papa nggak boleh pulang! Titik!!!" seru Alden.


Karena melihat sikap keras kepala Alden seperti itu terpaksa Andrian harus menginap di sini, sebelum itu ia melirik Nayra untuk minta izin ke Nayra untuk tinggal di sini. Dan respon Nayra hanya mengangkat kedua bahunya saja.


"Iya sudah Papa akan menginap di sini, tapi Papa tak bisa tidur di sini," ujar Andrian.


Tidak mungkin ia akan tidur sekamar dengan Nayra yang memang jelas-jelas belum sah menjadi istirnya, apalagi Nayra tak akan mengizinkan nya tidur di kamar ini.


"Kenapa Papa tidak tidur saja di sini? Kan Alden mau juga merasakan tidur bersama Papa," ucap Alden.


"Nggak bisa Sayang! Papa nggak bisa tidur di sini, Papa akan tidur di kamar sebelah jadi kalau Alden mau cari Papa nanti Papa ada di kamar sebelah."


"Kenapa Papa nggak mau tidur sama Alden dan Mama? Padahal kata teman-teman ku Papa, Mama mereka tidur sekamar dan saling pelukan, kenapa kalian tidak seperti itu?" tanya Alden dengan begitu polosnya.


Sedangkan Nayra mendegar itu menjadi malu dengan perkataan anaknya sendiri. Kalau Andrian ia malah melirik Nayra sambil menggodanya dengan perkataan Alden barusan.


"Lalu Papa, Mama temanya Alden setelah pelukan bagaimana?" tanya Andrian mengambil kesempatan dalam kesempatan untuk bisa menggoda Nayra.


Nayra malah melototkan matanya ketika Andrian bertanya seperti itu kepada anaknya yang masih kecil seperti itu. Karena Nayra tau apa maksud tujuan Andrinof bertanya seperti itu.


"Teman Alden tidak tau bagaimana selanjutnya, karena dia tertidur setelah itu," ujar Alden dengan polosnya.


"Kalau gitu Papa harus tidur di sini sambil memeluk Mama Nayra?" tanya Andrian tambah memanas-manasi Nayra.


"Iya Pah! Papa harus tidur di sini bersama Alden dan Mama. Biar nanti Alden akan menceritakan bahwa Alden juga pernah tidur dengan Papa Alden," ujar Alden sedangkan Nayra sudah keringat dingin memilih Andrian akan tidur di sini yang dimana mereka akan satu ranjang dengan Andrian.


"Kalau gitu mari kita tidur!" ajak Andrian sambil tertidur di samping Alden. Tanpa rasa malu dan bersalah Andrian menyelimuti tubuhnya bersama Alden lalu tertidur di kasur itu.


Dengan terpaksa Nayra tidur satu ranjang dengan Andrian. Untung saja Alden jadi penghalang di antara mereka jadi Nayra tak terlalu dekat dengan Andrian.


Sudah hampir satu jam dari mematikan lampu, tapi Nayra tak bisa tidur. Hatinya begitu gelisah karena ada Andrian di sampingnya.


"Kamu belum tidur," tiba-tiba suara bariton dari Andrian mengejutkan Nayra.


"Bagaimana Mas tau saya belum tidur?" tanya Nayra yang terkejut karena Andrian juga belum tidur.


"Aku melihat kamu dari tadi gelisah jadi aku tau sekarang kamu masih belum tidur."


See you again...


LIKE DAN KOMEN YA! KALAU IKHLAS BOLEH DI VOTE JUGA ^_^