
🍁🍁🍁
"Kamu jangan emosi seperti ini, kendalikan dirimu saat ini. Kamu sedang terpengaruh gara-gara keadaan Nayra kritis saat ini."
"Pokoknya aku tak mau tau, mereka semua harus mencari pelakunya. Aku kasih mereka 24 jam untuk mencari pelakunya bila dia tak menemukannya akan ku penggal semua kepala mereka," ujar Andrian terdengar begitu serius membuat Nathan juga menjadi takut mendengarnya.
Baru kali ini Nathan melihat Andrian seseram dan menakutkan ini. Tapi dia harus cepat-cepat memberitahu anak buah mereka untuk mencari pelaku sebenarnya.
Sebenarnya mereka mempunyai pesuruh dan mata-mata yang lumayan cukup banyak. Mereka bertiga Andrian, Nathan dan Kelvin bersatu untuk mengumpulkan pesuruh agar bisa memudahkannya ketika berbisnis dan masalah seperti ini, jadi mereka lebih mudah mengetahui info.
Setelah lama Nathan menelpon anak buah mereka. Akhirnya ia mengakhiri percakapannya.
Di sela-sela menunggu kabar dari Nayra, salah satu perawat pun keluar dari ruang operasi. mereka semua berkumpul untuk menanyakan kabar Nayra.
"Bagaimana keadaan anak saya Sus?" tanya nyonya Diana.
"Anak Anda begitu sangat kritis, dia harus ditindak lanjuti."
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya dan calon cucu saya," ucap tuan Wisnu.
"Di mana suami pasien? Dia harus memutuskan siapa yang akan dia selamatkan."
"Maksudnya apa Sus?" tanya mereka semua.
"Saya suaminya Sus, Ada apa dengan istri saya?" tanya Andrian.
"Anda harus memutuskan untuk menyelamatkan nyawa Istri Anda atau anak Anda Tuan," suster itu memberikan pilihan yang begitu sulit untuk Andrian saat ini. Dia tidak tau harus memilih siapa di antara mereka.
"Apakah tidak ada cara yang lain biar mereka berdua bisa diselamatkan?" tanya nyonya Kumala.
"Kondisi pasien saat ini begitu lemah, dan bayi di dalam kandungannya juga begitu lemah jadi kita harus memilih untuk menyelamatkan salah satunya. Bila tidak mereka berdua tidak bisa tertolong kan."
Andrian hanya diam sedari tadi. Dia tidak tau harus memilih siapa di antara istrinya atau anaknya. Ini benar-benar pilihan yang sulit untuk Andrian pilih selama ini dalam hidupnya.
"Berikan kami keputusan secepatnya Tuan! Nyawa mereka berdua sudah ada diujung tanduk," seru suster itu yang melihat Andrian tak ada jawaban sama sekali.
"Tolong selamatkan istri saya! Dia harus hidup hiks..." ucap Andrian dengan bibir gemetar ketika memilih salah satunya. Memang dia sangat menyayangi calon anaknya tapi dia tak mau kehilangan Nayra secepat ini.
"Baik kami akan menindak lanjuti operasi! Para keluarga pasien tolong menunggu," ucap suster itu masuk kembali ke dalam ruang operasi.
"Arghhhh hiks... hiks..." Andrian bersimpuh di lantai sambil menjambak rambutnya. Dia menangis dan berteriak dengan apa yang sudah dia hadapi saat ini. Untung saja tidak ada orang selain mereka di sana jadi tak ada yang terganggu dengan teriakan Andrian.
"Ini salahku! Ini semua salahku! Maafkan Papa Sayang tak bisa menyelamatkan mu, Papa tak bisa hidup tanpa Mama mu," lirih Andrian begitu hancur sehancur-hancur nya saat ini. Dia yang telah membunuh anaknya.
"Kamu tenangkan diri An! Mama tau bagaimana perasaan mu saat ini, tapi kamu tak boleh menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi. Kamu kuat, mana Andrian yang Mama kenal kuat tak takut apapun?" ujar mamanya untuk menenangkan anaknya yang sudah kehilangan arah saat ini.
Wajahnya lesu, capek dan bajunya yang kusut membuat Andrian terlihat tak seperti Presdir sebuah perusahaan besar, sekarang ini dia sedang berperan sebagai suami dan Ayah yang kehilangan arah.
"Kamu sudah benar mengambil keputusan Sayang! Nayra harus diselamatkan, soal anak mu dia pasti akan bahagia di surga nantinya," nyonya Kumala kembali menghibur Andrian agar tak menyalahkan diri sendiri.
Andrian pergi dari sana ke pojokan. Dia ingin menangkan pikirannya saat ini. Dia benar-benar begitu buntu dan tak tau harus berbuat apa saat ini, dia benar-benar begitu kehilangan arah.
"Di mana Andrian yang ku kenal kuat, kejam dan palyboy? Aku sekarang melihat orang lain di dalam dirimu, suami yang bucin dan Ayah yang baik," tiba-tiba Nathan duduk di samping Andrian saat ini, dia sengaja mendekati Andrian untuk menghiburnya."
"Aku bukan Ayah yang baik, dan aku juga bukan suami yang baik. Jadi kamu tak usah memuji ku seperti ini."
"Di mana Andrian yang selalu tau mengambil keputusan dengan yakin? Sekarang kenapa kamu tak yakin dengan keputusan mu ini?"
"Itu berbeda dengan sekarang, kamu jangan menganggu ku dulu aku ingin sendiri dulu," ucap Andrian dengan suara yang sudah terdengar serak dan lemah.
Nathan pun beranjak dari sana. Dia memberikan Andrian kesempatan untuk sendiri terlebih dahulu.
Di dalam ruang operasi, Dokter dan para perawat di sana akan melakukan tindakan operasi tapi sebelum itu Nayra tersadar untuk mengatakan sesuatu pada mereka.
"T-tolong__ b-biarkan an-ak___ S-saya hidup! S-sela-matkan anak s-saya! S-saya mohon!!" ujar Nayra dengan terbata-bata.
"Bagiamana Dok? pasien ingin anaknya tetap hidup tapi keputusan sudah diambil," ucap perawat itu.
"S-saya mohon se-lamtkan a-anak__ s-saya! P-percuma s-saya hidup__ bila anak saya tak se-lamat___ tolong selamatkan bayi i-ini!!" ujar Nayra dengan menderai kan air matanya sambil mengelus perutnya yang besar.
"Bagiamana Dok? Apa yang harus kita lakukan saat ini?" perawat itu jadi bingung harus menyelamatkan nyawa siapa.
Sedangkan dokter juga hanya diam saja karena dia tak tau harus mendengar siapa saat ini. Tapi dia seorang perempuan sekaligus seorang ibu dan tau bagaimana perasaannya bila ada di posisi perempuan ini.
"Kita selamatkan bayinya! Kita tidak boleh menghiraukan permintaan Ibunya karena dialah yang berhak atas bayinya," ujar dokter itu mengambil keputusan.
"Tapi dengan keluarganya bagaimana?"
"Kita akan jelaskan nanti, yang terpenting saat ini kita harus menyelamatkan bayi ini."
Mendengar itu Nayra tersenyum. Wajahnya yang pucat dengan tubuh yang penuh dengan alat-alat medis. Dia sudah siap menerima kematian nya saat ini. Dia rela dan ikhlas bila sudah takdirnya untuk menghadapi kematian. Dia sudah bahagia selama di dunia ini dengan kasih sayang suami dan keluarganya.
"Terima kasih dunia telah memberikan ku banyak pelajaran, aku tau mengapa kau memberikan ku takdir seperti itu karena aku bisa menjalaninya sampai akhir hayatku," ucap Nayra di dalam hati.
Detik-detik sebelum dibius, Nayra kembali mengingat kenangannya bersama anak dan suaminya. Tentang apa yang sudah mereka buat momen selama dirinya hidup. Ada pahit dan senang ketika menjalaninya. Tapi dia bersyukur sebelum kematiannya dia sudah merasakan namanya kebahagiaan.
See you again...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN TAMBAHKAN DI FAVORIT^_^