Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 99 : Pesta Ulang Tahun



Elle tersenyum setelah melihat tampilannya yang lebih cantik dari biasanya. Gaun berwarna nude melekat di tubuhnya, riasan natural juga begitu menyatu dengan kulit wajahnya, kalung juga anting yang menghiasi menambah kesan cantik dari Elle semakin memancar. Hari ini adalah hari ulang tahun Elle yang ke dua puluh satu, hari ulang tahun yang menjadi saksi bagaimana pahit manisnya beberapa tahun yang lalu, dan akan menjalani hidup baru dengan usia baru. Sudah beberapa tahun semenjak Ibunya meninggal, Elle tidak pernah merayakan lagi ulang tahunnya yang berdekatan dengan dengan hari dimana Ibunya meninggal. Tapi karena perjalanan hidup setahun belakangan ini, dia merasa patut mensyukuri bertambahnya usia, yang berarti dia sukses menjalani waktu sebelumnya meski menangis, tersiksa, mengeluh, marah, kecewa, nyatanya dia menunjukkan kepada Tuhan jika dia menerima dan siap menjalani tantangan baru.


" Kak? " Panggil Penelope yang baru saja membuka pintu dan langsung berjalan mendekati kakaknya. Doa tersenyum melihat Elle yang juga tersenyum ke arahnya dengan begitu cantik.


" Kau sudah datang dari tadi? " Tanya Elle.


" Belum lama kak, mungkin berbarengan dengan kak Jarvis keluar dari kamar. "


Elle tersenyum lalu mengusap wajah adiknya dengan lembut.


" Selamat ulang tahun kak, ini hadiahku untuk kakak. Memang bukan hadiah yang mahal, tapi seperti biasanya, aku membuatnya sendiri. "


Elle tersenyum lalu menerima bingkisan hadiah dari Penelope. Iya, memang Penelope selalu menyiapkan hadiah di setiap tahunnya dan hadiah itu pasti adalah buatan tangan Penelope sendiri. Elle membuka bungkusan hadiah itu, lalu membukanya dengan semangat.


" Wah, kau benar-benar membuat ini sendiri? " Tanya Elle setelah mendapati hadiah yang di berikan oleh Penelope adalah baju dari kain wall yang di sulam oleh Penelope sendiri.


" Iya. "


Elle tersenyum dengan mata berkaca-kaca, lalu memeluk Penelope.


" Terimakasih, kau pasti banyak bekerja keras untuk hadiah ini. "


" Hadiah ini mana mungkin bisa di samakan dengan kakak ku yah super berharga? Tapi aku hanya ingin terus mencoba sebaik mungkin setiap tahun agar dapat memberikan hadiah yang layak. "


" Ini sudah jauh dari kata layak, ini sangat bagus, dan lihat! Tangan mu banyak handsaplast nya pasti kau sangat bekerja keras ya? "


" Tidak sebegitunya juga kok kak. "


Di luar ruangan.


Jarvis menyambut hangat para orang-orang terdekat yang datang ke rumah untuk ikut merayakan acara ulang tahun Elle yang berarti juga acara peringatan satu tahun pernikahan mereka. Yah, tadinya Jarvis ingin merayakan di hotel saja, tapi Elle keberatan dan mengatakan jika itu terlalu banyak membuang uang. Jadilah mereka menggelar pesta di rumah, dan tamu yang di undang hanyalah orang dekat saja.


" Selamat. "


Jarvis membalikan tubuhnya menatap pria yang mengatakan satu kata tersebut dari balik punggungnya. Jarvis tersenyum dengan tatapan dingin, menatap pria itu dengan tatapan yang tak bisa di artikan apa maksudnya.


" Aku ingat kalau aku tidak mengundang mu. " Ujar Jarvis. Pria itu adalah Bryant.


" Aku datang bersama dengan Penelope dan Ayahnya, jadi kau tidak bisa mengusir ku. "


Jarvis tak lagi ingin bicara, entah harus mengatakan apa lagi memangnya? Bryant memang tidak gencar lagi mendekati Elle beberapa waktu ini, tapi tatapan tidak nyaman saat berada di hadapan Jarvis tentu saja dapat Jarvis rasakan dengan jelas. Yah, mungkin saja dia belum bisa menerima kenyataan bahwa Elle memilih untuk kembali kepada Jarvis yang brengsek dan bajingan.


" Kalau begitu, nikmati saja pestanya. Kau pasti sudah tahu di mana tempat untuk mendapatkan makanan dan minuman kan? Kau silahkan, bersantai lah dan nikmati pesta ini dengan baik. " Ucap Jarvis karena dia sudah tidak ingin berbicara lagi dengan Bryant dan merasa jika tamu yang lain lebih pantas untuk di ajak bicara.


" Katakan apa yang ingin kau katakan, tapi jangan mengatakan kalimat yang sudah pernah kau katakan, harus yang baru, karena kalau tidak, aku akan menjadi sangat muak sekali. " Ucap Jarvis masih dengan mimik yang dingin.


Bryant menghela nafasnya dan tersenyum dengan sangat mengejek membuat Jarvis sedikit mengeryitkan dahi mencari tahu lagi apa sebenarnya yang ingin di katakan oleh Bryant.


" Jarvis, kau bukan pria yang begitu romantis dan memuja perasaan cinta. Kau membenci cinta dan wanita karena menganggap mereka akan seperti Ibu mu bukan? Perasaan mu yang sekarang ini adalah perasaan bersalah yang begitu dalam, kau tidak mencintai Elle. Kau, tidak mengerti apa itu cinta yang sesungguhnya, Jarvis. "


Jarvis menatap Bryant yang kini tengah menatapnya dengan begitu yakin.


" Lalu? " Tanya Jarvis yang tentunya dengan mimik tak bersahabat.


" Lepaskan saja perasaan bersalah itu, karena kalau sampai Elle menyadari perasaan mu yang sesungguhnya, dia akan sangat sedih sekali. "


Jarvis tersenyum, kenapa dia merasa Bryant begitu lucu sekarang? Bahkan Bryant sudah sok tahu seperti ini, meskipun menjelaskan itu penting, tapi jika orang itu tak berniat menerima penjelasannya, maka apa gunanya?


" Jarvis! " Panggil Bryant yang mulai terlihat marah karena Jarvis justru mengacuhkannya dan memilih pergi. Sialnya, Elle dan Vivian ternyata mendengar semua yang mereka bicarakan sehingga Elle menjadi sedih karena takut jika ucapan Bryant itu memang benar.


" Kau tidak bisa bersikap seperti itu, Jarvis! "


" Diam! Tutup mulut mu dan jangan mengatakan apapun. Kau siapa dan kenapa aku harus menjelaskan bagaimana perasaan ku padamu, hah? Cinta atau tidak, itu urusan ku dengan Elle, bukan dengan mu! "


Bryant tak lagi bicara karena dia tak sengaja melihat Elle dan juga Vivian yang berada tak jauh dari mereka.


Jarvis meninggalkan Bryant di sana tanpa menyadari jik ada Elle, lalu duduk di depan sembari menunggu Elle untuk datang.


Jarvis, aku tidak akan tinggal diam sampai kau menunjukkan benar-benar bahwa kau mencintai Elle, karena setelah aku yakin barulah aku akan berhenti dan merelakan Elle sepenuhnya untukmu.


" Kak? " Vivian menatap Elle dengan tatapan melas.


" Jangan bicara apapun. " Ujar Elle lalu berjalan mendekati Jarvis yang sudah menunggunya.


" Jarvis? " Panggil Elle laku sebisa mungkin dia tersenyum tak ingin membuat Jarvis mencurigai apapun.


Jarvis tersenyum dengan sumringah, dia menyodorkan tangannya untuk meraih tangan Elle, lalu menggenggamnya erat-erat.


" Selamat ulang tahun, Istriku. Terimakasih karena sudah bersedia menjadi istriku dan bertahan meski banyak sekali luka yang kau dapatkan karena menjadi istriku. " Ucap Jarvis menatap Elle dengan tatapan tulus.


Di luar rumah.


Vivian sudah datang di sana, dia menyembunyikan senapan di balik gaun yang kebesaran. Yah, dia tahu ada acara di rumah Jarvis maka dari itu dia juga sudah menyiapkan apa yang dia butuhkan.


Bersambung.