
Elle menghela nafas.
" Bisakah anda memenuhi syarat-syarat yang aku inginkan? "
" Tentu saja, apapun syaratnya asalkan Jarvis tidak pergi, atau dia tidak memiliki minat tinggal lama di sana, maka aku akan memenuhi syarat yang kau ajukan pada ku. "
Elle tersenyum, lalu menatap Ibu Diana dengan sungguh-sungguh.
" Jangan mengusik kehidupan kami setelah ini, entah bahagia atau tidak, anda tidak boleh ikut campur. Kedua, aku ingin anda meminta maaf kepada Ayah serta adik ku tentang apa yang sudah anda lakukan. Ketiga, Vivian, wanita gila itu pasti akan membalas dendam suatu hari nanti, pastikan dia tidak bisa menyentuh ku, juga Ayah dan Adik ku. Ke empat, akan saya pikirkan nanti. Tapi yang jelas, permintaan selanjutnya bukanlah hal yang mudah untuk anda, bisa juga di bilang tidak mudah untuk di penuhi. "
" Tidak masalah, sungguh! Asalkan Jarvis kembali dan aku bisa sedikit berusaha untuk menjadi Ibu yang baik, maka apapun syaratnya tida masalah. Aku sudah bilang juga nyawa ini juga bukan masalah kan? "
Elle terdiam, sungguh aneh sekali, bagiamana bisa jadi Ibu yang baik kalau nyawanya tidak ada?, batin Elle menggerutu di dalam hati.
Kembali ke masa kini.
" Bagiamana bisa? Bagaimana bisa kau disini? Bagiamana kau bersikap seperti ini? " Tanya Jarvis dengan tatapan yang masih terlihat tak percaya atau syok. Iya, maklum saja kalau Jarvis benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi, maklum saja beberapa waktu belakangan setelah mereka berdua menikah sikap Elle semakin dingin setiap harinya, tatapan penuh dendam dan kebencian begitu terasa, dan sekarang tiba-tiba Elle bersikap seolah semua luka yang ada tidak pernah terjadi? Bahkan jika ini di dalam mimpi pun Jarvis benar-benar tidak akan bisa menerimanya meski ini adalah hal yang dia inginkan.
" Kau membuat ku tersinggung, kenapa kau melihat ku seperti melihat hantu? " Elle tersenyum setelah mengatakan itu, posisinya tak berubah, mereka masih begitu dekat, hanya beberapa centimeter saja jarak wajah mereka.
Jarvis masih tak bicara, antara percaya dan tidak, sungguh perasaan itu sulit untuk dia yakini. Dia ingin bahagia, tapi takutnya ini adalah mimpi. Tidak ingin merasa bahagia, tapi perasaan yang nyata sekali itu membuat Jarvis mulai menginginkan lagi cinta dari Elle yang jelas itu tidak boleh dia lakukan bukan?
" Kalau kau diam seperti ini, aku bisa saja lompat dari pesawat loh. "
" Aku "
Elle kembali menyatukan bibirnya bersama bibir Jarvis, tidak hanya kecupan seperti sebelumnya, Elle menggerakkan bibirnya berharap Jarvis tak lagi banyak bengong seperti orang yang tak habis kebingungannya.
Jarvis, pria itu hanya terdiam sampai beberapa detik, begitu bibir Elle mulai bergerak dnegan lembut, dia baru benar-benar sadar jika ini adalah nyata. Elle, matanya masih bisa dengan jelas melihat jika itu memang benar-benar Elle.
Entah Sebenarnya apa yang terjadi, tapi jika ini benar-benar adalah kau, maka jangan salahkan aku yang akan menjadi tidak tahu diri, mementingkan perasaan ku sendiri, semua salahmu! Salah mu yang tiba-tiba saja saja datang pada ku di saat aku sedang mencoba merelakan mu. Terimalah sisi egois ku, Elle. Aku tidak akan melepaskan mu, biar aku sudah menjadi hantu nanti, aku akan terus menghantui mu.
Jarvis merah tengkuk Elle, perlahan menutup matanya menikmati apa yang tengah dia rasakan setulus hati. Dia juga membalas ciuman itu dengan lembut sembari berharap benar-benar jika perasaan hangat itu akan bertahan selamanya.
" Ehem! "
Elle dan Jarvis tersentak, dan Elle membenahi posisinya dengan segera.
Seorang peragawati tersenyum sopan, yah ternyata yang berdehem barusan adalah dia.
" Nyonya dan Tuan, silahkan duduk di tempat masing-masing, kegiatan tadi bisa di lanjutkan saat sudah sampai tujuan ya? "
Elle menggigit bibir bawahnya menahan malu.
Elle tersenyum, dia juga mengeratkan genggaman tangan itu dengan tatapan yang begitu lembut membuat Jarvis semkin bertanya-tanya di dalam hati.
" Aku ingin ikut dengan mu, toh kita belum melakukan bulan madu kan? "
Jarvis terdiam sebentar karena merasa bingung.
" Bukan madu? Tapi, bukannya kau mau kita bercerai? "
" Bagaimana mungkin bercerai buru-buru? Menikah saja belum satu tahun, bulan madu belum juga, kenapa bercerai? " Elle tersenyum dan Lagi-lagi membuat Jarvis tambah kebingungan.
" Surat permohonan cerai yang kau kirimkan padaku? Elle, kau tidak lupa semua yang terjadi setelah kita menikah kan? "
Elle menghela nafas, lalu menatap Jarvis dengan tatapan sebal.
" Kenapa aku harus mengingat itu? Memangnya aku harus terus mengingat masa menyebalkan itu? Berhubung kau sudah menyadari kesalahan mu, maka tugas mu adalah, membahagiakan ku, menuruti semua yang aku katakan, harus jadi budak cinta ku, harus menjadikan aku ratu, tidak boleh ada wanita lain, dengan kata lain, kau, beserta hidup dan mati mu adalah milik ku seorang. Kau mengerti tidak? "
Jarvis tak lagi bisa menahan senyum bahagianya, tapi dia masih tetap bingung bagaimana bisa Elle berubah pikiran seperti itu?
" Elle, sebenarnya aku penasaran sekali apa yang membuat mu berubah pikiran seperti sekarang ini. Tapi apapun alasannya, mau sendiri yang sudah datang pada ku, kau yang memintaku menjadi budak cinta mu, maka jangan salah kan aku benar-benar akan menempel padamu tidak perduli kondisi, tidak perduli waktu juga. "
Elle tersenyum.
" Baiklah, biar aku lihat seberapa keras usaha mu. "
" Baik, kau yang minta, jadi juga harus siap menerima. "
Jarvis mengecup punggung tangan Elle setelahnya.
Sepanjang perjalanan mereka banyak sekali bercerita, entah apa yang mereka bicarakan tapi dari obrolan itu mereka bisa merasakan bahwa sebenarnya mereka memiliki kesamaan, dan cara mereka mengobrol benar-benar nyambung. Sebenarnya hal semacam ini sudah pernah di rasakan keduanya sebelum mereka menikah dulu, tapi karena adanya beberapa hal yang terjadi dan cukup mengguncang hati, akhirnya mereka berdua mulai kehilangan perasaan dekat seperti sebelumnya.
" Kau bukan hanya jadi budak cinta ku saja loh, kau juga harus menghidupi ku, tidak boleh mengatakan tidak saat aku meminta sesuatu. " Ujar Elle setelah mereka mengobrol panjang lebar sedari tadi dengan nada bicara pelan karena tidak pantas juga mengganggu telinga orang lain.
" Tentu saja, tapi jangan lupa kalau aku juga pasti akan meminta sesuatu yang penting dari mu. "
Elle mengeryit menatap Jarvis.
" Apa? Sesuatu yang penting apa? "
Jarvis tersenyum, mendekatkan dirinya untuk berbisik di telinga Elle. Elle membulatkan matanya, pipinya merona menahan malu atas apa yang Jarvis ucapkan.
Bersambung.