
" Aku tahu melupakan sebuah luka yang sangat menyakitkan jelas adalah tidak mungkin, aku tahu sulit bagi mu untuk bisa bersikap baik-baik saja di saat kau sudah mengalami banyak hal yang menyakitkan. Aku ingin menggantikan dan menerima rasa sakit yang sama, berkali lipat juga bukan masalah untuk ku. Tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan itu, aku tidak bisa menggantikan rasa sakitnya, aku tidak bisa mengatakan semua akan baik-baik saja karena aku lah pemberi luka itu. Jika bisa aku memberikan nyawaku untuk mengembalikan kebahagiaan mu, maka aku akan dengan suka rela menyerahkan nya. Tapi sayangnya aku masih buta dalam hal itu, tolong jangan terlalu membenci ku, aku akan memberikan sisa hidup ku untuk mu. Ambilah apa yang kau inginkan dari ku, hanya biarkan saja aku mencoba yang terbaik versi ku untuk bisa mengembalikan kebahagiaan hingga mengingat masa lalu yang menyakitkan itu tidak lah lagi terasa menyakitkan untuk kita. " Ucap Jarvis setelah menyeka air mata Elle, lalu dia menggenggam tangan Elle dengan posisi mereka yang saling berhadapan dalam satu selimut yang sama.
Elle tentu saja tak bisa mengatakan apapun karena memang dia tidak bisa menggunakan suaranya sedikitpun. Dia memilih diam tak bereaksi karena dia sendiri tidak tahu harus bagiamana menanggapi apa yang di katakan Jarvis, lebih besar alasannya adalah karena dia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang di katakan oleh Jarvis.
Jarvis memaksakan senyumnya karena saat itu dia sama sekali tidak bisa merasakan sedikit saja perasaan nyaman setelah melihat Elle meneteskan air mata. Ini bukan soal sok baik, hanya saja dia sungguh-sungguh merasakan sakit dari air mata Elle yang jatuh.
" Tidur ya? Ini sudah malam, besok kau akan memiliki kegiatan baru yaitu, mengurus dua ana anjing yang lucu itu. " Jarvis mendekatkan tubuhnya, melingkarkan lengannya untuk memeluk Elle sembari menepuk pelan punggung Elle agar Elle merasa nyaman dan perlahan mulai tertidur.
Elle tak bereaksi apapun, dia terdiam dan hanya matanya saja yang terbuka dan tertutup, tapi lama kelamaan dia mulai memejamkan mata dan mulai tertidur. Saat itulah Jarvis kembali membuka mata, dia masih tak menghentikan tangannya yang masih mengusap punggung Elle, sebentar dia menatap Elle, tersenyum senang karena pada akhirnya Elle tertidur dengan cepat.
Pagi harinya.
Pagi ini Elle tak lagi di mandikan oleh Jarvis, dia bahkan sudah mandi, berganti pakaian dan sudah pula meninggalkan kamar saat Jarvis terbangun. Terkejut tentunya, tapi Jarvis yakin Elle tidak akan jauh pergi jadi segera dia bangun dan mulai mencari keberadaan Elle. Sesuai dugaannya, rupanya Elle berada di kandang anjing dan kini tengah menentukan makanan untuk kedua anjingnya. Jarvis menghela nafas lega, kemudian dia berjalan untuk mendekati Elle yang masih saja sibuk dengan dia anjing kecil itu.
" Kau bangun pagi sekali, kau juga sudah rapih demi menemui mereka? " Jarvis tersenyum bahagia sembari mengusap rambut Elle. Tentu saja Elle tak mengatakan apapun dan diam seribu bahasa dengan segala pemikirannya yang masih lose sulit untuk dia kontrol karena dia sendiri kadang merasa sadar juga kadang tidak sadar.
Jarvis mengambil satu anak anjing dan memainkan bulu halus di tubuh anjing itu, juga mengusapnya dengan lembut.
" Bagaimana kalau kita beri mereka nama? Yang betina kita beri nama Jessi, yang jantan kita beri nama Jason? "
Elle tersenyum tipis, saat ini dia tengah memangku anak anjing betina sedangkan Jarvis memegang anak anjing jantan. Melihat senyum yang terbit di bibir Elle, Jarvis merasa kala nama itu bisa Elle terima dan dia sukai pula.
" Baiklah, anggap saja dia anak-anak kita, Jessi dan juga Jason. Kita akan jadi Ayah dan Ibu mereka berdua, kau setuju? "
Elle masih tersenyum sembari mengusap dengan lembut anak anjing betina di pangkuannya itu, jadi Jarvis anggap saja kalau Elle setuju dengan apa yang semua dia katakan.
" Jessi, Jason, mulai hari ini kami adalah orang tuamu, jadi kau harus menurut, tidak boleh nakal terutama kepada Ibu mu, oke? " Jarvis tersenyum menggelitik anak anjing yang di pangkuan oleh Elle.
Jarvis bangkit dengan dahi mengeryit, tamu?
" Siapa? "
" Sekarang gadis, dia bilang adiknya Nona Elle, karena wajahnya sangat mirip jadi saya memperbolehkan satpam membuka kan pintu, dan mempersilahkan dia masuk. "
Jarvis mengangguk, sepertinya kali ini dia tidak bisa menyembunyikan lagi keadaan Elle. Jarvis menoleh ke arah Elle yang juga terlihat terkejut, bahkan tidak tahu juga kapan Elle sudah bangkit dan kini tengah berdiri. Jarvis menghela nafas, kedepannya tentu akan semakin sulit untuknya mempertahankan rumah tangganya bersama dengan Elle, tapi tetap dia tidak akan menyerah semudah itu. Dia memang salah, dia tentu saja akan terima jika di salahkan, di hukum juga akan dia terima dengan lapang dada.
Jarvis mengulurkan tangannya berharap Elle memberikan tangannya agar mereka bisa berjalan beriringan menemui Penelope, tapi Elle justru mengacuhkannya dan berjalan dengan mimik datar menuju ke ruang tamu. Jarvis tentu saja segera menyusul Elle, karena tujuan mereka juga sama, yaitu menemui Penelope selaku adik nya Elle.
" Kak? " Penelope bangkit begitu Elle sampai di sana, lalu di susul oleh Jarvis.
Penelope tersenyum lega, lalu dia berjalan cepat untuk memeluk Elle yang terdiam di tempat dengan mimik datar.
" Kak, syukurlah kita bisa bertemu. Tadinya aku ingin menunggu kakak karena hari ini kan hari ulang tahun ku, tapi aku takut kakak lupa jadi aku pergi menemui kakak di sini, kakak tidak marah kan ? " Tanya Penelope seraya mengurai pelukannya, dan begitu tatapan mereka berdua bertemu, Penelope terdiam membeku karena dia benar-benar terkejut sekali melihat ekspresi kakaknya yang sangat tidak biasa. Kedua bola matanya jelas menatap ke arahnya, tapi kenapa terasa kosong tak di rasakan sama sekali tatapan hangat seperti biasanya.
" Kak, apa yang terjadi dengan kakak? " Penelope menajamkan matanya bersiap mencari tahu segala ucapan kakaknya yang biasanya akan banyak berbohong. Cukup lama Penelope menatap Elle yang terus terdiam dengan sorot mata yang sama sekali tak terbaca, atau lebih tepatnya seperti ada orang lain dalam tubuh Elle membuat Penelope mengalihkan pandangannya kepada Jarvis dengan maksud untuk bertanya.
Jarvis terdiam sebentar, do dalam hati dia benar-benar memohon kepada Tuhan untuk bisa berani mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Jarvis membuang nafasnya, lalu perlahan menceritakan semua yang terjadi dari awal hingga saat itu sesuai dengan apa yang dia lihat, dia lakukan, juga dia rasakan.
" Bajingan! Mati saja kau! Biarkan aku membunuh mu! "
Bersambung.