
Elle sesok dah bersiap untuk pindah rumah, seperti yang di minta Elle sebum pergi, dia ingin agar Eliza menemaninya untuk tinggal di rumah baru, dan Jarvis juga sudah menyetujuinya. Vivian yang baru tahu tentang Elle yang akan tinggal di luar rumah yang ia tinggali bersama dengan keluarga Jarvis serta Jarvis juga, Vivian merasa benar-benar sangat bahagia. Yah, mungkin semalam terjadi sesuatu yang lumayan ekstrim hingga pada akhirnya Jarvis kesal dan mengeluarkan Elle dai rumah itu.
Baguslah, sepertinya Elle akan di buang ke tempat yang jauh. Sekarang aku tidak perlu repot-repot menyingkirkan Elle, dia sendiri yang sudah membuat dirinya di usir oleh Jarvis.
Seperti itulah bunyi dari isi hati Vivian begitu Elle akan keluar dari rumah.
Elle, wanita itu memang benar-benar sangat pintar mengatur mimik wajahnya seperti yang dia harapkan. Jika boleh jujur, saat itu dia benar-benar bahagia sekali dan ingin tersenyum rasanya, tapi karena dia harus berpura-pura lebih lama, jadilah Elle hanya meninggalkan mimik sedih, dia terus berusaha sebaik mungkin agar yang orang lihat hanyalah ketidak relaannya saja untuk meninggalkan rumah itu.
Berbahagialah, Vivian. Kau akan lihat bahwa keluarnya aku dari rumah ini akan membuatmu sangat menderita, jauh lebih menderita dari pada sebelumnya.
Elle menunduk membiarkan orang menganggapnya tengah menangis pilu, tapi nyatanya di tengah tersenyum tipis karena tidak tahan akan perasaan lega yang luar biasa itu.
Sekarang dia sudah berada di dalam mobil bersama dengan Eliza dan juga Jarvis karena memang dia lah yang akan mengantar Elle sampai ke tempat tujuan. Tidak ada obrolan apapun yang terjadi, Elle memilih untuk diam dan membiarkan Jarvis mengemudi dengan baik, sementara Eliza memilih untuk diam karena dia yang hanya seorang pelayan tentu saja tidak pantas sekali kalau sok dekat apalagi sekarang dia sedang berada satu mobil bersama dengan Tuan rumahnya.
" Turunlah, ini rumahnya. " Ucap Jarvis seraya keluar dari mobil dengan buru-buru lalu dia membantu membukakan pintu untuk Elle membuat Elle terkejut dan bertanya maksud dari apa yang Jarvis lakukan barusan.
" Kau masuk duluan, biar aku yang bawa koper mu. "
Elle jadi sekian bingung dengan sikap tidak jelas Jarvis sekarang, tapi biarpun di sangat penasaran, Elle memilih untuk diam saja dulu dan melihat apa yang akan terjadi begitu masuk ke dalam rumah. Entah kejutan menyakitkan apa yang akan dia lalui nanti, tapi satu langkah dari sekarang dia sudah menggenggam hatinya dan bersiap dengan penuh tekad serta keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja dan semua akan berjalan sesuai yang dia inginkan asalkan dia tetap berusaha sebaik mungkin untuk mengendalikan keadaan dan perlahan membaca situasi dengan benar, memperhitungkan dengan tepat.
Begitu membuka pintu rumah, Elle dan juga Eliza terdiam karena mereka begitu terkejut. Rumah itu memang tidak terlaku besar, atau jauh lebih kecil dari pada rumah yang di tinggali mereka sebelumnya, tapi semua perabotan yang berada di dana adalah perabotan yang berkualitas tinggi. Warna cat yang sangat rapih, dan semua yang terlihat di mata Elle sepertinya memang memiliki harga yang mahal.
" Kau masuk lah ke dalam, lihat saja dulu. Jika ada yang kurang nyaman atau kurang tepat peletakannya, kau bisa bilang padaku, aku akan memperbaiki jika bisa, kalau tidak tunggu besok dan buatkan tukang yang membenarkannya. "
" Tidak, ini sudah jauh lebih dari cukup. " Elle memaksakan senyumnya meski dia semakin tidak memahami keadaan ini, terutama semakin tidak paham dengan sikap Jarvis yang begitu ambigu.
" Baiklah, kau ikuti aku saja. Eliza bisa langsung masuk ke kamar untuk istirahat, nanti setelah selesai baru kau bisa berkeliling untuk mencaritahu letak ruangan di rumah ini. "
Sekarang tinggal Elle dan Jarvis saja, mereka berdua berjalan bersamaan untuk melihat detail ruangan di rumah baru mereka. Tidak terllau besar, tapi ternyata rumah itu memiliki empat kamar yang di gunakan untuk dua kamar tidur utama, kamar tamu, sedangkan di belakang atau sebelum menuju dapur ada kamar yang cukup luas sebagai kamar pelayan.
" Kau menyukai rumah ini atau tidak? " Tanya Jarvis sebentar menatap Elle.
" Iya. " Tentu saja jawabannya adalah ia, bagaimanapun yang dia pahami sekarang adalah dia tidak bisa menolak apapun dan wajib untuknya mengikuti saja apa yang di katakan oleh Jarvis sembari menganalisa kemungkinan apa saja yang bisa terjadi di rumah itu. Ah, ataukah Jarvis pikir rumah sepi ini cocok untuk mengukurnya jika Jarvis sedang kesal atau saat Elle membangkang? Entah benar atau tidak, Elle masih kesulitan untuk mendapatkan jawaban pastinya.
Bryant membuang nafas kasarnya, saat ini dia tengah berdiri di sebuah bangsal rumah sakit. Tangannya memegang seikat bunga mawar, juga buah-buahan segar yang dia beli di toko buah sebelum dia datang kesana. Tujuannya berada di sana adalah untuk menemui atau menjenguk Wendy yang masih berada di sana untuk mendapatkan perawatan setelah percobaan bunuh diri nya gagal beberapa hari yang lalu.
" Ah, sial! Kalau bukan karena ini permintaan dari Elle, aku benar-benar ogah untuk sampai di sini. " Gerutu Bryant sebelum dia benar-benar masuk kedalam kamar dimana Wendy berada.
" Selamat siang, Wendy dan juga Bibi? " Sapa Bryant sebisa mungkin tersenyum manis dan ramah seperti biasanya saat Bryant bertemu dengan orang yang dia kenal.
" Kak Bryant? " Wendy.
" Bryant? " Ibu Diana.
" Maaf aku datang mengganggu, aku dengar Wendy sedang di rawat jadi aku memutuskan untuk datang dan melihat secara langsung bagaimana keadaan Wendy. "
Wendy benar-benar terlihat bahagia hingga tak bisa menahan bibirnya yang sedari tadi terus tersenyum menatap wajah Bryant. Ibu Diana juga merasa cukup bahagia karena setidaknya Bryant masih memiliki sifat perduli kepada Wendy yang bisa saja nanti akan membuat Wendy jadi tidak sembarangan bertindak, dam semoga saja setelah ini Wendy dan juga Bryant bisa lebih dekat serta memiliki ketertarikan yang cukup kuat.
" Kebetulan sekali nak Bryant datang, Bibi belum membeli sarapan jadi boleh titip Wendy sebentar? Bibi akan kembali secepatnya. "
Bryant tersenyum dan mengangguk setuju.
" Kak, terimakasih sudah datang untuk melihatku ya? " Ucap wendy dengan pipi yang bersemu merah ketika berbicara kepada Bryant.
Bryant sebenarnya muak harus menghabiskan waktunya yang berharga dengan wanita yang sama sekali tidak ia sukai, tapi ya mau bagaimana lagi kalau yang meminta melakukan ini adalah Elle?
" Yah, aku juga khawatir sekali. Elle menghubungiku, dia sangat panik saat kau di katakan ke rumah sakit. Semua orang menyalahkan dia, dan menuduh dia menggodamu. Aneh sekali ya? Padahal dia tidak melakukan apapun saja aku sudah pasti akan tergoda kok. "
Wendy mencengkram kuat selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
" Apa kak Bryant datang kemari karena Elle? "
Bersambung.