Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 20 : Wanita Penggoda



Jarvis meninju tembok setelah mengetahui dimana dia bangun pagi ini. Padahal dia jelas masuk ke dalam kamar Elle semalam, tapi begitu membuka mata dan mendapati Vivian memeluknya dia benar-benar merasa terhina luar biasa. Apakah sebegitu tidak berhak nya dia berada di kamar Elle? Kenapa dia kesal dia sendiri juga tidak tahu, semalam dia hanya ingin memperingati Elle saja agar tidak betingkah dan menggoda Bryant karena Bryant terlihat sekali tertarik dengan Elle.


" Sayang, kenapa? Biar aku obati tanganmu. " Ucap Vivian yang sempat terkejut begitu bangun dia mendapati Jarvis terlihat sangat kesal, punggung tangan Jarvis juga lecet, merah, bahkan mengeluarkan sedikit darah.


" Tidak perlu, ini hanya luka kecil. " Ucap Jarvis lalu bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju ke kamarnya sendiri yang terhubung dengan ruangan kerja pribadinya. Jarvis langsung membersihkan tubuhnya karena dia harus bertemu dengan orang penting pagi ini, jadi dia tidak bisa membuang waktu lagi.


Begitu selesai mandi, Jarvis keluar dari kamarnya, dia mencari keberadaan Elle tapi karena tidak juga menemukannya, dia akhirnya melanjutkan langkah untuk menuju meja makan dan sarapan sebelum berangkat bekerja.


Di sana Jarvis akhirnya bisa melihat Elle yang sibuk dengan pekerjaannya, bahkan menatap kearah Jarvis barang sedikitpun juga tidak.


Jarvis tak mengatakan apapun, dia duduk dengan tenang menunggu pelayan masakan sarapan. Hanya ada Vivian dan juga Jarvis, itu semua karena Wendy dan juga Ibu Diana sedang berkunjung ke rumah saudara di luar kota, kemungkinan malam nanti baru akan kembali ke rumah.


" Sayang, aku boleh ikut denganmu tidak? " Tanya Vivian yang sebenarnya hanya untuk mencoba membuat suasana hati Jarvis sedikit membaik, tahu ini juga karena kesalahan yang dia lakukan, jadi kali ini dia harus bisa lebih berusaha lagi memperbaiki mood Jarvis.


" Tidak usah, aku akan sibuk. "


Vivian memakai senyumnya, tadinya dia ingin diam dan mengalah saja, tapi saat dia tak sengaja melihat tatapan Jarvis terus mengarah kepada Elle, Vivian tentu saja merasa kesal dan cemburu. Bagaimanapun dia tetap tidak bisa mempercayai Jarvis, dia tidak bisa yakin akan perasaan Jarvis, dia juga dalam ketakutan setiap waktu karena hampir mencurigai setiap orang yang berhubungan dengan Jarvis bahkan dalam lingkup pekerjaan juga tidak terkecuali.


Elle, dia adalah wanita yang dinikahi Jarvis secara sah, jadi tidak menutup kemungkinan kalau pada akhirnya Jarvis akan sedikit tergoda olehnya kan? Memang benar Elle menggunakan pakaian pelayan dan tidak menggunakan make up sama sekali, tapi dengan wajah semacam Elle pria mana yang tidak akan terkesima melihatnya?


Setelah sarapan siap, Elle dan Eliza segera menghidangkan menu sarapan untuk Jarvis dan juga Vivian. Sepanjang mengerjakan pekerjaan itu semua, Elle sama sekali tak mengatakan apapun, menatap Jarvis juga masih tidak di inginkannya membuat Jarvis merasa kesal sendiri.


Sudahlah, hari ini Jarvis benar-benar tidak bisa membuang waktu karena bertemu orang pagi ini adalah hal yang sangat penting, dia tidak ingin melewatkan uang miliaran jadi memilih untuk segera berangkat bekerja setelah selesai memakan sarapannya.


Berbeda dengan Jarvis yang begitu sibuk, Vivian justru lebih banyak dia dan memperhatikan segala tingkah polah seorang Elle yang masih berada di dapur untuk membereskan bekas sarapannya dengan Jarvis tadi.


Tidak tahan lagi, Vivian benar-benar bisa gila karena selama menatap wajah Elle dia terus membayangkan akan kehilangan Jarvis dan kembali terkatung tidak jelas nantinya.


" Elle, ikut aku! Bantu aku membereskan kamarku. "


Elle membuang nafas kasarnya, dia jelas tahu kalian sedari tadi Vivian terus menatap ke arahnya, tapi dia benar-benar tidak menyangka kalau dia sudah di suguhkan dengan pekerjaan yang mestinya itu bukan pekerjaannya. Membereskan kamar dan mencuci adalah pekerjaan dua pelayan lain, dan setahu Elle, dua Pelayan itu juga tidak begitu sibuk hari ini, tapi anehnya kenapa juga harus dia yang diminta untuk membereskan kamarnya? Kenapa bukan Eliza saja? Bukankah ini sudah pasti adalah jebakan?


Vivian menaikkan sebelah alisnya.


" Aku bilang kau saja, kau ingin membantahku? Aku ini adalah Nyonya rumah, berani sekali kau menolak perintahku? "


Elle membuang nafasnya, sungguh dia benar-benar amanat jengah menghadapi penghuni rumah itu. Padahal Elle benar-benar menginginkan satu hari saja untuk dia bisa merasa tenang tanpa harus memilki perselisihan dengan orang-orang di sana, tapi sepertinya itu tidak akan mungkin terjadi selama Elle belum keluar dari rumah itu atas kehendak Jarvis.


" Nona, perasaanku tidak enak. Tolong cari alasan lain supaya Nona tidak usah ikut dengan Nyonya Vivian. " Bisik Eliza, dari cara dia berbicara yang pelan dan wajah yang takut dan khawatir benar-benar membuat Elle merasakan ketulusan dari Eliza sehingga memberikan keberanian kepada Elle untuk tetap maju karena apapun yang terjadi, Elle pasti bisa menghadapinya.


" Tidak apa-apa, Eliza. Aku pasti bisa melewatinya dengan baik. " Ucap Elle, kalau segera dia meletakkan semua peralatan yang tengah ia pegang untuk ikut Vivian menuju ke kamarnya.


" Kalau begitu aku akan mulai dari tempat tidur. " Ucap Elle yang ga mendapati tanggapan apapun. Karena tidak merasa di karang oleh Vivian, Elle melanjutkan niatnya dan mulai membersihkan ranjang tidur sampai rapih. Barulah setelah itu Elle melanjutkan kegiatannya untuk membersihkan sofa di dekat jendela.


Vivian terdiam dan terus menatap Elle, tai di belakang punggungnya, Vivian sudah memegang karter yang niatnya akan dia gunakan untuk melukai wajah Elle berharap wajah Elle rusak parah dan menjadi jelek sehingga Jarvis tidak akan pernah Sudi menatap Elle seperti tadi sebelum sarapan.


" Tidak terlalu kotor, aku yakin ini sudah di bersihkan, katakan saja apa sebenarnya yang kau inginkan? kenapa membawaku kesini? " Elle berbalik dan betapa terkejutnya dia karena Vivian sudah bersiap dengan pisau karter yang terarah kepada wajahnya. Dengan reflek Elle melindungi wajahnya menggunakan kedua lengannya membuat kulit lengan terbuka dan mengeluarkan banyak darah.


" Kau gila ya?! Kalua ingin membunuh seharusnya kau lebih pintar sedikit! " Kesal Elle, seraya menahan tangan Vivian yah masih ingin melukai wajahnya.


" Iya, aku gila! Kau harus menjadi jelek, wajahmu harus jelek supaya tidak ada yang akan Sudi untuk melihatmu! Kau harus memiliki wajah cacat dan jelek kalau kau mau hidup dengan baik! "


Melihat tatapan yang begitu berkeinginan membuat Elle benar-benar terkejut. Tatapan seperti itu adalah tatapan seperti seorang yang tengah merasakan kemarahan yang luar biasa hingga ingin melukai, bahkan melenyapkan seseorang.


" Tidak waras! Menggoda apa?! siapa yang aku goda?! " Elle masih kuat menahan tangan Vivian tak perduli dengan kedua lengannya yang berdarah-darah.


" Kau! Kau mau merebut Jarvis ku kan?! "


" Sinting! "


Bersambung.