
" Hah! Bodoh..... Benar-benar sangat bodoh! " Elle terkekeh sendiri.
" Bagaimana bisa orang berbohong sepayah ini? " Gumam Elle sembari menggeleng heran menatap selebar kertas yang mulainya di remas menjadi bulatan sebesar bola pingpong dan hampir saja di buang oleh Elle. Benar-benar Tuhan sedang berpihak padanya karena ternyata kertas itu adalah laporan media tentang keberanian kondisi Vivian yang sesungguhnya. Ternyata Vivian hamil anggur dan tidak ada janin di dalam perutnya, jadi pastilah dia sengaja membuat tragedi gila ini untuk membuat Elle di hukum oleh kemarahan Jarvis, dan juga menyelamatkan dirinya sendiri agar tidak perlu menghadapi kekecewaan dari Jarvis dan keluarganya.
" Bagus, bagus sekali, Vivian. Kau benar-benar sedang menunjukan betapa tidak tahu malunya dirimu itu. " Elle melipat kertas itu lalu memasukkan kedalam kantung celana yang ia gunakan. Kali ini dia akan melihat dulu sampai dimana Vivian akan memfitnah dirinya, barulah jatuhkan Vivian dengan bukti itu agar dia bisa semakin malu luar biasa dan bila perlu Elle ingin melihat Vivian memohon ampun padanya.
Tiga hari setelah kajian itu Jarvis sama sekali tidak pernah menemuinya karena katanya Jarvis menemani Vivian di rumah sakit. Hanya ada Ibu Diana dan juga Wendy yang terus menatapnya sinis dan marah, masih memperlakukannya bak pelayan yang tidak memiliki arti sama sekali. Masih bisa santai seolah tak terjadi apapun, Elle benar-benar bekerja seperti biasanya apalagi luka di tubuh nya sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
Pagi ini, adalah hari dimana Vivian akan kembali ke rumah jadi para pelayan sudah menyambut hangat meski yang mereka rasakan di hatinya adalah keterpaksaan untuk hormat.
Beberapa saat kemudian Vivian berada di atas kursi roda duduk dengan santai sementara Jarvis mendorong kursi roda itu untuk masuk ke dalam rumah bersamaan.
" Selamat datang, Tun dan Nyonya? " Sapa para pelayan sembari menunduk hormat, yah terkecuali Elle. Gadis itu benar-benar ogah dan tidak Sudi kalau harus menunduk kepala saat melihat Vivian dan Jarvis.
Vivian menatap Elle yang rupanya juga melihat ke arahnya dengan tatapan sinis dan mengejek, tapi bibirnya tersenyum miring untuk mendukung tatapannya.
" Sayang, dia! Dia yang sudah membunuh anak kita! " Teriak Vivian berakting histeris saya melihat ke arah Elle. Yah, memang benar-benar aktris yang hebat, hanya saja muak sudah Elle melihat orang semacam Vivian itu.
Jarvis menatap ke arah Elle dengan begitu tajam seolah mengusir dengan tatapannya. Elle tentu saja paham benar apa maksud tatapan itu, sayangnya dia masih tidak ingin mengikuti jadi dia memilih diam saja di sana.
" Sayang, hukum dia! Bila perlu buat dia tidak bisa memiliki anak di kemudian hari! "
Elle menatap tak percaya kepada Vivian. Bagiamana bisa seorang wanita tega meminta orang untuk menghukum wanita lain agar tidak bisa hamil? Bukankah itu sangat keterlaluan? Bukankah dia berpura-pura hamil saja untuk kepentingannya sendiri? Gila, Vivian pasti benar-benar gila karena Elle saja sampai tidak bisa berkata apapun begitu mendengar ucapan Vivian barusan.
" Pergilah, dan bersiap untuk menerima hukumanmu! " Jarvis dengan kesal menatap Elle yang masih saja memilih untuk tetap berada hingga pada akhirnya dia harus mendengar keributan yang tidak dia sukai.
Elle membuang nafasnya, dia beranjak pergi dan sebentar menatap Vivian untuk menunjukkan senyum di bibirnya yang memiliki banyak sekali arti.
Jarvis melanjutkan langkah kakinya dan mengantarkan Vivian sampai ke dalam kamar.
" Istirahatlah, aku harus pergi untuk mengurus sesuatu. " Ucap Jarvis begitu dia sudah membantu Vivian untuk merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
" Sayang! " Vivian meraih lengan Jarvis dan menahannya.
" Temani aku ya? Please....."
" Aku bilang ada yang harus aku urus apa kau tidak dengar? " Jarvis menatap dingin Vivian membuat wanita itu memilih untuk diam dan menurut saja.
Begitu keluar dari kamar Vivian, Jarvis segera menuju ke ruang kerjanya. Dia duduk di kursi kerja, mengaitkan jemarinya menjadi satu dan menopang dagunya. Padahal dia pikir dia sudah tidak perlu melakukan apapun lagi karena dia benar-benar mengharapkan penerus keluarnya sudah lahir, tapi ternyata dia malah di buat kecewa seperti ini.
" Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa juga kamera pengawas tiba-tiba banyak yang mati hari itu? Aku jadi tidak punya bukti untuk menghukum Elle kan? "
Di tempat lain, Vivian perlahan menurunkan kedua kakinya untuk bangkit dari posisinya. Dia sebenarnya sudah bisa berjalan sendiri, hanya saja karena ingin lebih di perhatian oleh Jarvis dia mengatakan jika kepalanya pusing sekali, tapi tidak tahunya dia malah di tinggalkan di kamar sendirian dan Jarvis sendiri entah pergi kemana.
Vivian perlahan menggerakkan kakinya menuju keluar ruangan dan berpura-pura memamerkan wajah kesakitan agar bisa menyita simpati semua orang. Sebenarnya tidak terlalu berguna juga karena Wendy dan juga Ibu Diana kini tengah menghadiri acara keluarga untuk menggantikan ketidak hadirannya Jarvis ke sana. Tapi bagaimanapun Vivian masih ingin berakting lebih serius lagi agar dia benar-benar tidak mengecewakan Jarvis nantinya.
" Wah, Nyonya? Anda sudah bisa berjalan ya rupanya? " Elle yang tadinya hanya ingin Mesa menuju ruang tengah dan membersihkan malah salah fokus saat melihat Vivian sedang berjalan keluar dari kamar entah apa yang sebenarnya dia cari dan kemana tujuannya.
Vivian menatap marah Elle, dia benar-benar mengalahkan Elle karena dia menganggap kehamilan anggur yang terjadi padanya itu adalah akibat dari stres yang berlebihan, dan pastilah Vivian menunjuk Elle sebagai sosok yang membuatnya stres parah. Padahal dia sudah susah payah mengejar Jarvis, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk di nikahi malah semua berjalan tidak sesuai rencana dan Jarvis jadi menikahi Elle yang menurut Vivian adalah, Elle telah merebut semua posisi yang seharusnya menjadi miliknya, menjadi Nyonya yang tercatat dalam catatan negara.
" Kalau bukan karena mu, aku pasti bisa melahirkan anak ku dengan baik. "
" Pft! " Elle menahan tawanya yang seolah ingin meledak begitu saja. Masih kah ingin berakting lebih lama? Apakah berakting seperti itu tidak membuat lelah? Ataukah seharusnya Vivian menjadi wanita tidak tahu malu terus untuk bisa menjadikan Elle sebuah pelajaran yang berarti untuknya.
" Kenapa kau mengeluarkan suara seperti itu , hah?! " Kesal Vivian.
Elle menggeleng dengan cepat.
" Tidak ada, aku hanya salut sekali dengan kepercayaan dirimu itu. Oh iya, ada pepatah mengatakan jika, jika nilai setitik maka rusaklah susu Sebelanga. "
Vivian mengernyitkan dahinya tak mengerti maksud ucapan Elle barusan.
" Lebih baik menjauhlah dariku segera karena aku muak di dekatmu. " Perintah Vivian.
" Aku juga tidak terlalu menyukaimu. " Elle melangkahkan kakinya kembali untuk meninggalkan Vivian, tapi dengan gilanya Vivian menjatuhkan diri ke lantai laku teriak kesakitan sendiri juga.
Bersambung.