
Setelah Ayah Elle dan juga Penelope sadar, lalu bertanya bagiamana bisa Elle terluka, maka Elle hanya bisa menceritakan apa yang dia ceritakan kepada Penelope. Memang Elle sendiri tidak tahu apakah Ayahnya akan mempercayainya atau tidak, tapi setidaknya cerita yang ia jarang secara spontan itu memang cerita yang di rada paling masuk akal untuk luka yang ia miliki.
Jarvis juga datang di pagi hari, hanya saja dia tidak memiliki keberanian untuk masuk ke dalam karena saat dia datang kesana, mereka sedang membicarakan tentang luka yang ada di tubuh Elle. Awalnya Jarvis pikir dia benar-benar tidak akan bisa mengelak lagi, tapi mendengar Elle menjelaskan semua dengan lancar dan masuk akal, Jarvis benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi saat itu. Menyesal itu sudah tentu, dia merasa bersalah juga jelas ia rasakan, di tambah Elle yang begitu menjaga perasaan keluarganya. Sudah tidak mampu lagi kalau harus bergabung detik itu juga, maka Jarvis memilih untuk diam dan menunggu saja sampai mereka bertiga selesai mengobrol barulah dia akan masuk karena dia datang untuk membawakan sarapan.
Setelah mereka benar-benar tidak lagi membicarakan masalah luka, Jarvis akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke dalam sana.
" Selamat pagi, semua? " Sapa Jarvis masih belum berani lama menatap kedua bola mata Elle, Jarvis dengan cepat memeluk sang Ayah mertua setelah meletakkan paper bag berisi sarapan untuk mereka.
" Maaf aku baru datang kemari, Ayah mertua. "
Ayah tersenyum dan mengangguk, sebenarnya bagi dia sendiri bisa bangun dengan keadaan sehat dan bisa minat kedua putrinya adalah hal yang sangat ajaib dan menyenangkan. Tapi melihat perhatian dari Jarvis untuknya, rasanya Ayah benar-benar bersyukur sekali memiliki menantu seperti Jarvis. Sementara Penelope, dia terdiam menatap Jarvis yang memeluk Ayahnya lalu menatap Elle yang yang tak berekspresi apapun. Di dalam hati Penelope membatin, mungkinkah luka di tubuh kakaknya adalah karena perbuatan Jarvis? Apakah kakaknya sengaja menutupi semua itu karena dia sangat mencintai Jarvis?
" Terimakasih sudah datang, kau pasti banyak pekerjaan di kantor kan? Aku benar-benar senang sekali karena kau masih menyempatkan waktu untuk datang. " Ujar Ayah masih terlihat senang. Melihat dan merasakan itu Elle jadi lega, setidaknya Ayahnya percaya dengan alasan yang dia ucapkan tadi, berbeda dengan Penelope yang masih terlihat curiga kepadanya.
" Tidak juga, aku punya banyak waktu luang hari ini. "
Tak lama setelahnya, Jarvis dan Ayah nampak akur membicarakan masalah kesehatan dan juga apa yang di rasakan Ayahnya saat ini. Jarvis banyak memberikan saran mulai dari senam jantung, mengurangi minyak dalam makanan, kolesterol, juga banyak hal lain yang dapat membahayakan kesehatan jantungnya.
Merasa tak sedang di butuhkan sekarang, Elle meminta izin untuk sebentar pergi ke kamar mandi. Begitu sampai di kamar mandi Elle kembali mengecek apakah dia di ikuti atau tidak. Begitu dia yakin benar tidak ada yang mengikuti, Elle dengan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Bryant.
Elle?
" Hai, Bryant? Apa aku mengganggumu? "
Tidak, ada apa?
" Boleh aku minta tolong lagi padamu? "
Boleh tentu saja, apa yang harus aku lakukan?
" Aku ingin kau mengatur momen agar aku bisa bertemu dengan Johan, tapi tolong pastikan Johan tidak tahu menahu dan buat kesan pertemuan itu benar-benar seperti pertemuan yang tidak sengaja. "
Hening sebentar.
Johan, dia bukan pria yang baik, Elle.
" Tentu saja aku tahu, tapi tolong saja aku ya? Aku tahu bagaimana menjaga diri, aku membutuhkan dia sebagai umpan. "
Iya, lalu apa kau tidak butuh aku lagi?
Elle mengeryit mendengar pertanyaan serta nada bicara Bryant yang seperti pria tengah merajuk kepada kekasihnya. Tidak, sekarang ini Elle tidak boleh memikirkan hal yang macam-macam, dia hanya boleh fokus dengan tujuannya.
Syukurlah, kalau begitu gunakan saja aku, eh! Maksudku sudahkan saja dan ganggu aku sesukamu, aku tidak masalah kok.
" Baiklah, Bryant. Aku akhiri panggilan ini dulu ya? Saat ini aku sedang berada di rumah sakit, Aku sedang menjaga Ayahku jadi aku sibuk dulu ya? "
Oke, baik-baik di sana.
" Terimakasih. Ah, jangan lupa lanjutka rencana yang selanjutnya ya? "
Haha.... Oke! Aku akan langsung menjalankannya, Nyonya!
" Sekali lagi terimakasih, Bryant. "
Ayolah, berhenti mengatakan terimakasih.
" Ya. Aku akhiri sekarang ya? "
Oke!
Elle mengakhiri panggilan telepon dengan tatapan datarnya, sungguh dia tidak tahu harus bagaimana jika Bryant menginginkan lebih, atau menginginkan balasan dari segala bantuannya. Tapi apapun itu, manusia memang kebanyakan memiliki sifat seperti itu kan? Nanti baru pikirkan bagaimana caranya membalas budi tanpa harus mengorbankan diri, karena bagaimanapun hidup yang hanya satu kali ini harus dia nikmati dengan baik-baik setelah semua urusannya selesai nanti.
" CK! Wanita cantik ini benar-benar tidak berperasaan sekali ya? Sama sekali tidak suka mendengar gombalan atau pujian, hah..... Untung saja cantik dan manis sehingga aku rela di manfaatkan begini. " Gumam Bryant menatap ke sembarang arah dengan pipi yang masih meninggalkan rona merah mirip sekali seperti pria muda atau gadis muda yang sedang jatuh cinta.
" Guk! "
Eh? Bryant baru sadar kalau sedari tadi dia terus meremas kepala anjingnya alias Bulgo. Anjing itu sebenarnya dia sudah menggonggong berkali-kali, hanya saja Bryant benar-benar sangat fokus dengan Elle hingga Bulgo sudah menatap marah pun dia tidak menyadarinya.
" Maaf, Bulgo! " Bryant malu sendiri jadinya, dengan segera dia melepaskan anjingnya dan membuatkan dia bermain di dekat kandangnya. Setelah itu, Bryant mengeluarkan ponselnya untuk mengunggah photonya bersama dengan Elle saat berada di toko kue kemarin. Photo mereka memang tidak mesra, tapi keterangan yang di berikan untuk photo itu benar-benar spesial karena dari hati sekali Bryant mengetuknya.
Wanita istimewa, dia milik siapa ya? Ah, akan aku doakan agar menjadi jodohku. Kalau masih saja bukan, aku akan berdoa agar jodohnya cepat mati agar aku bisa menggantikannya.
Setelah melihat unggahan Bryant di media sosial, Elle tersenyum tipis dan kembali menyimpan ponsel. Sekarang dia sedang bersama adik, Ayah juga Jarvis, jadi dia tidak terlalu fokus dengan ponsel, hanya untuk melihatnya unggahan itu saja Elle menunggunya.
Wendy, kau yang memulainya jadi jangan salahkan aku membalasnya dengan kejam.
Benar saja, Wendy memang begitu aktif memantau media sosial milik Bryant, dan begitu membaca keterangan serta melihat gambar yang di unggah nya, dia benar-benar menjadi marah luar biasa. Padahal saat itu dia sedang bertemu dengan teman-temannya, tali masa bodoh saja tidak perduli. Wendy membanting ponselnya, bahkan membuang sisi meja yang banyak makanan dengan histeris.
Bersambung.