
Elle masuk ke dalam taksi, dia menunduk memegangi wajahnya dan mulai meneteskan air matanya karena sudah benar-benar lelah terus terlihat bahagia selama bersama Ayah dan juga adiknya tadi. Sakit dan sulit ketika harus tetap terlihat tersenyum bahagia padahal hati hanyalah butuh menangis karena kesedihan yang begitu dalam.
Ayahnya sempat menceritakan betapa baiknya Jarvis karena baru beberapa hari setelah menikahi Elle, Jarvis sudah memberikan banyak hal termasuk bantuan untuk restauran milik keluarnya Elle yang mulai menjalani penurunan sejak setahun belakangan ini. Bahkan, untuk kebutuhan rumah tangga juga Jarvis banyak memberikan, biaya operasi usus buntu Ayahnya Elle juga Jarvis yang sudah membayarnya. Belum lagi Penelope, gadis berusia delapan belas tahun itu terus memuji kebaikan Jarvis dan terus menyebutkan banyak hal yah dia dapatkan dari kakak iparnya itu. Mulai dari ponsel baru, kebutuhan kuliah, biaya kuliah sampai sarjana, uang jajan, bahkan uang bulanan untuk keperluannya juga Jarvis sudah memberikannya.
Jarvis, sebenarnya apa tujuanmu yang sebenarnya? Apa kau membeli kesedihanku untuk membiayai keluargaku? Sebenarnya apa untungnya untukmu?
Elle menyeka air matanya begitu taksi yang ia tumpangi sampai di luar pagar rumah milik Jarvis dan keluarganya. Dia keluar dari taksi setelah air mata di wajahnya menghilang, dia juga sudah memperbaiki penampilannya karena tidak ingin menunjukan kepada Jarvis atau keluarganya yang lain bahwa dia menangis karena kesedihan Elle adalah kebahagiaan untuk mereka. Mereka itu bukan orang baik jadi untuk apa Elle membahagiakan mereka dengan menunjukan penderitaannya?
" Wah, hebat sekali ya kau ini? Kau pikir kau siapa bisa pergi dan pulang seenaknya saja? "
Suara itu, suara yang jelas tidak bisa untuk tidak di ingat oleh Elle. Suara lantang dan sinis Ibu mertuanya yang selalu seperti itu kedengarannya saat berbicara dengan Elle mulai Elle sudah begitu keras menahan diri untuk tidak membalas tapi semakin lama siapa yang akan bertahan kalau seperti itu terus menerus?
" Kalau aku tidak keluar dan memperlihatkan betapa bahagianya aku hidup setelah menikah dan hidup bersama keluarga suamiku, orang jelas akan berpikir kala aku sudah mati, mungkin saja mereka akan berpikir kalau aku mati di dalam rumah suami karena tekanan batin, atau juga di bunuh oleh keluarga suamiku sendiri. " Akhirnya kalimat panjang dan jelas menyakitkan keluar dari mulut Elle untuk Ibu mertuanya yang selalu menjadi penonton saat dia mendapat siksaan dari Jarvis, atau Vivian bahkan Wendy juga.
" Benar-benar keras kepala dan tidak tahu diri. Kau seharusnya tahu benar apa yang akan terjadi padamu kalau kau membantah ucapan ku kan? "
" Masalah tahu diri, tentu saja akulah orang yang paling tahu diri di antara semua orang yang ada disini. "
" Tutup mulutmu! Siapa kau sampai berani terus membantahku?! "
" Aku? Siapa aku tentu saja Ibu mertua sudah sangat paham kan? Ibu belum terlalu tua untuk lupa siapa aku kan? Lagi pula, Ibu mertua terlalu sehat kalau harus terkena demensia. "
Plak!
Tamparan mendarat di pipi Elle, sakit, jelaslah sakit tapi Elle menahannya dan tidak bereaksi apapun Selian tersenyum kelu tanpa bicara.
" Dasar sinting! Sudah di peringatkan berkali-kali untuk jangan membantah, aku rasa kau bukan manusia melainkan monyet karena tidak tahu bahasa manusia. "
" Aku benar-benar kasihan sekali karena Jarvis harus menikah dengan monyet. "
" Dasar wanita murahan! " Ibunya Jarvis sudah bersiap dengan satu tangannya naik ke atas dan lagi dia ingin memukul wajah Elle. Tapi sayangnya kali ini Elle menahan tangan itu dan menjauhkannya dengan agar kasar.
" Usiaku dua puluh satu tahun, aku masih dalam keadaan suci asal Ibu mertua tahu. Perempuan murahan, henti saja label seperti itu tidak akan cocok untukku. "
Elle membuang nafasnya setelah Ibu mertuanya memilih untuk meninggalkannya di sana. Segera Elle kembali menjalankan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya dan sebentar menenangkan diri barulah dia akan membantu pelayan untuk mengurus dapur atau membersihkan rumah.
***
Jarvis menatap photo keluarganya yang masih beranggotakan lengkap. Matanya sayu dan pilu tapi mau bagaimana lagi perasaan sedih sebesar apapun itu tak bisa membuat perasaannya membaik.
" Sayang? "
Jarvis menatap ke arah sumber suara yang tak lain adalah Vivian. Tidak perlu heran kenapa Vivian bisa berada di tempat yang seharunya di gunakan untuk bekerja itu karena Jarvis sudah membuka akses tanpa batasan untuk Vivian bebas masuk kapanpun dia mau.
" Ada apa? Kenapa kau datang kesini? Kau seharunya lebih banyak istirahat di rumah saat sedang hamil muda seperti ini kan? "
Vivian membuang nafasnya, dia segera berjalan mendekat dan menyusup untuk duduk di pangkuan Jarvis dan melingkarkan lengannya memeluk Jarvis.
" Aku kesal setiap kali melihat Elle, jadi aku kemari saja. Kau tidak keberatan aku lebih memilih kesini kan? Ini kan maunya bayi kita, jadi jangan kesal kalau aku kesini dari pada bibir bayi kita nanti terus meneteskan air liur. "
Jarvis menghela nafas, tersenyum dan mengangguk saja setuju. Sebenarnya bukan tidak ingin Vivian datang karena bagaimanapun Vivian memang senang sekali menemani Jarvis bekerja. Tapi bayi di dalam perut Vivian sangatlah penting untuknya, karena bayi itu adalah penerusnya di masa depan nanti. Tentulah Jarvis tidak salah kalau meminta Vivian untuk banyak-banyak istirahat dan menghindari hal-hal bahaya yang bisa terjadi kapan saja.
" Sayang, dalam hitungan bulan kedepan anak kita akan segera lahir, masalah dokumen anak kita pasti akan sulit kalau kita tidak terikat dalam hubungan pernikahan yang tercatat di negara kan? "
" Bersabarlah, Vivian. Sekarang aku belum bisa memutus pernikahan dengan Elle karena aku masih ingin menahan dia dan membuat dia tidak mudah kabur dari genggaman kita. "
" Kan bisa diam-diam melakukannya? Sekretaris yang bekerja denganmu itu kan sangat lihai dalam banyak hal, dia pasti bisa membantu semua itu tanpa ketahuan Elle kan? "
Jarvis terdiam, dia tahu benar kalau terus mengelak keinginan Vivian yang ada Vivian akan berpikir macam-macam dan menuduh kalau Jarvis menyukai Elle. Padahal bukan itu alasannya, dia hanya ingin menjerat Elle serumit mungkin agar tidak mudah baginya untuk bisa lepas dan lari dari genggamannya.
" Nanti akan aku pikirkan, sekarang berhentilah membicarakan masalah itu, lebih baik kau pesan makan saja dan jangan membiarkan tubuhmu merasa lapar. "
Bersambung.