
" Pilihan ini, kau tidak boleh menyesalinya, Elle. Kau yang datang sendiri pada ku, entah alasan apa aku tidak perduli. Kau yang meminta ku untuk mencintai mu, seumur hidup hanya boleh dengan mu, dan memperlakukan mu dengan baik. Jangan pernah mundur atau menarik kata-kata mu, karena kalau kau melakukannya, aku akan menjadi gila, atau aku akan memilih untuk mengakhiri hidupku saja. " Ucap Jarvis begitu mereka keluar dari bandara, dan sekarang mereka sedang berada di dalam taksi untuk menuju ke hotel yang akan mereka gunakan untuk tinggal beberapa waktu ini.
Elle mengeratkan genggaman tangan mereka, sebenarnya Elle juga merasa heran dengan dirinya sendiri. Luka yang dia dapatkan dari pria bajingan, brengsek gak berperasaan itu memang sangat dalam, tak begitu mengingat hari-hari dimana Jarvis mengetahui semua kebenarannya, dia berubah menjadi sangat berbeda. Awalnya Elle pikir perubahan sikap Jarvis adalah karena rada bersalah saja, tapi selain hari Jarvis terus memperlihatkan betapa perasaan cinta itu dia miliki. Memang sempat menolak perasaan itu dan bimbang, tapi ketika Ibunya Jarvis datang dan memohon dengan cara yang mengemis seperti itu, Elle sadar benar seberapa besarnya arti dirinya untuk Jarvis di mata Ibunya. Keputusan untuk menyusul Jarvis tentu lah mendapatkan larangan keras dari Adik juga Ayahnya, tapi karena Elle sudah begitu yakin, maka mereka menyerah dan mengikuti saja keputusan Elle, tapi juga tetap berharap, berdoa di dalam hati mereka masing-masing untuk kebahagiaan Elle, dan jangan sampai apa yang terjadi sebelumnya terulang kembali.
Sesuai dengan janji Elle, jika nanti Jarvis berlaku kasar dan menyakiti fisik serta mentalnya, maka Elle harus segera kembali dan membiarkan Ayah serta Adiknya turun tangan dalam hal itu. Tapi, dengan sikap Jarvis yang seperti orang bodoh dan sangat takut kehilangan, serta takut setengah mati akan kenyataan ini adalah mimpi, Elle bisa memastikan jika Jarvis yang kasar dan menatap penuh kebencian tidak akan pernah dia lihat lagi.
" Berhentilah mengancam ku, siapa yang akan menyesal? Terkecuali kau melakukan kesalahan seperti dulu, aku akan kabur dengan kekuatan cahaya supaya kau tidak bisa mengejar atau menahan ku. " Elle mengakhiri ucapannya dengan senyuman yang begitu manis.
" Aku akan mengutuk diri ku sendiri sampai mati kalau sampai itu terjadi. " Ucap Jarvis dengan mimiknya yang terlihat begitu yakin. Yah, tidak tahu Tuhan terlalu baik atau apa, tapi Elle yang sudah menyerahkan dirinya seperti ini tidak akan dia sia-siakan apapun kondisinya.
" Kenapa kau terlihat serius sekali? "
" Karena aku memang tidak main-main dengan ucapan ku. "
Elle tersenyum, lalu menyadarkan kepala di lengan Jarvis. Tahu, Elle benar-benar tahu dan bisa merasakan benar bagaimana kesungguhan dari ucapan Jarvis barusan.
Jarvis, aku sempat berpikir seperti ini, jika saja kau tidak salah paham apakah mungkin kita akan bertemu? Pertemuan kita kala itu juga sudah kau rencanakan bukan? Jika tidak ada salah paham itu, siapa wanita yang akan berada disisi mu sekarang? Haruskah aku merasa bahagia dan mengatakan terimakasih kepada salah paham mu, bahkan setelah aku mengalami masa paling gila dan hancur? Hah! Bodoh! Aku benar-benar bodoh bukan? Padahal ada pria lain yang mengejar ku, tapi sialnya hati ku malah dengan bodohnya begitu setia pada mu. Di kehidupan ini, aku akan menikmati baik-baik waktu kita bersama ini, jadi jangan mengecewakan ku, Jarvis suamiku.
" Jarvis, jika suatu hari nanti aku mati lebih cepat dan lebih dulu dari mu, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan mencari gadis cantik untuk menemani mu menua? "
" Mati bersama dengan mu. "
" Mati? Begitu banyak pilihan untuk bahagia, kau malah lebih memilih mati bersama ku? Jangan gila, Jarvis! " Elle memukul pelan lengan Jarvis karena terkejut juga dengan ucapan Jarvis yang begitu serius. Padahal bisa kan bercanda seperti, ya menikah lagi dengan gadis yang lebih cantik, memiliki tubuh yang sehat agar tidak di tinggal mati lagi sampai aku mati. Hah! memang Jarvis sangat tidak punya ide mengenai cinta.
" Menurut mu mustahil, tapi aku akan membuktikannya pada mu jika itu benar-benar terjadi. Setelah semua ini, aku lah yang tidak bisa hidup tanpa mu. Aku akan kesulitan sekali, maka berdoalah saja aku mati lebih dulu, jika aku mati, aku tentu hanya ingin kau bahagia dan tidak bersedih terlalu lama. Aku tidak masalah melihat mu dai atas sana bersama pria lain, karena yang paling penting adalah, Elle ku bahagia, maka aku juga bahagia. "
" Sudahlah, jangan bicara tentang kematian lagi. Kita baru saja kembali bersama, aku tidak ingin membayangkan hal itu terjadi. "
Jarvis tersenyum tipis, dia memindahkan lengannya dan merangkul Elle dengan hangat.
Beberapa saat kemudian.
Jarvis dan Elle akhirnya sampai di hotel yang akan mereka tinggali, begitu masuk ke dalam tadinya Elle ingin sebentar berbaring lalu pergi mandi setelahnya. Tapi Jarvis yang baru saja meletakkan koper mereka berdua dengan cepat meraih pinggangnya dan memeluknya dari belakang.
" Apa kau tahu, Elle? Aku menahan ini dia puluh empat jam selama perjalanan kita. " Ucap Jarvis lalu mencium pundak Elle, tengkuknya, satu tangannya terarah untuk menyingkirkan rambut Elle yang terurai panjang agar Jarvis bisa lebih bebas untuk menciuminya.
" Ja Jarvis, kita kan baru sampai. Ki kita istirahat dulu ya? Aku, Aku, lelah sekali. " Ucap Elle yang tentu belum siap untuk hal ini.
Jarvis langsung melepaskan Elle, bukan marah atau kecewa, tapi dia merasa begitu jahat karena tida mengerti situasi mereka saat ini. Ini adalah perjalanan pertama ke negara asing yang cukup jauh untuk Elle, dan dia malah tidak tahu malunya menginginkan hal yang sangat tidak sopan.
" Maaf, aku benar-benar lupa. Kalau begitu, kau istirahat saja dulu sebentar. Aku akan pergi mandi, nanti kau baru menyusul ya? " Jarvis mengecup kepala Elle, mengusapnya sebentar lalu pergi dengan segera ke kamar mandi.
Begitu Jarvis masuk ke dalam kamar mandi, Elle menjatuhkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur sembari memegangi dadanya yang berdebar begitu kencang seperti ingin copot saja dari tempatnya.
Sejenak Elle berpikir, lalu dia mengepalkan kedua tangannya dengan mimik yakin. Dia bangkit dari tempa dia duduk, membuang nafas sembari membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Setelah itu, dia berjalan menuju kamar mandi dengan debaran jantung yang lagi-lagi begitu kuat. Elle meraih handle kamar mandi, perlahan menggerakkannya untuk membuka pintu, lalu menjalankan kakinya menghampiri Jarvis yang berdiri di bawah shower yang menyala dengan derasnya air berjatuhan.
Bersambung.