
Elle memekik sakit saat lengannya di cengkram kuat oleh pria yang tak lain adalah salah satu teman Jarvis, seolah tak terdengar suara rintihan sakit dari bibirnya, pria yang bernama Johan itu menghempaskan tubuh Elle begitu dia sampai di kamar paling ujung sesuai dengan pesan dari Jarvis.
" Shh ...... " Desis Elle saat punggungnya merasakan benturan dengan tempat tidur. Memang empuk, tapi luka di punggung Elle yang masih basah itu seperti seakan di siram air garam dan lagi-lagi harus merasakan sakit perih yang lebih parah dari pada sebelumnya.
" Kau beruntung sekali karena kau cantik, karena kalau kau tidak cantik, kau pasti akan sangat menderita. " Pria itu tersenyum miring dengan tatapan yang begitu menakutkan, tangannya tergerak menyentuh pengait celana panjangnya membuat Elle ketakutan bukan main.
" Mau apa kau?! " Elle membelalak tajam, takut memang dia amat takut, tapi demi langit juga seisinya lebih baik dia mati dari pada dia harus menanggung penderitaan karena tubuh kotornya nanti.
Pria itu terkekeh seolah reaksi Elle barusan semkin memancing keinginanya untuk menyentuh Elle semakin kuat, dan entah mengapa melihat Elle yang begitu galak dia justru semakin tertarik. Ayolah, jangan begitu terkejut karena dia hidup di dunia modern dimana banyak sekali pemuda pemudi yang tanpa memikirkan apapun melakukan pergaulan bebas di usia muda.
" Dasar bajingan! Kau seharusnya tahu di mana batasanmu! " Elle melemparkan bantal dan guling yang mampu ia raih untuk mengusir Johan menjauh darinya. Elle segera bangkit dari tempat tidur, mengabaikan rasa sakit di punggungnya untuk berlari keluar dari kamar itu tapi sayangnya Johan bisa dengan cepat menahan tubuh Elle dengan mencengkram lengannya dan kembali menghempaskan tubuh Elle ke telat tidur.
" Bajingan? Aku bahkan belum melakukan apapun tali bisa-bisanya aku mengataiku bajingan? "
Elle benar-benar semakin marah saat ini, dia sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi saat Johan sudah menunjukan bagian bawahnya yang dalam keadaan telah bereaksi. Sungguh hancur sekali hatinya saat ada pria yang bukan suaminya memperlakukan dia seperti wanita rendahan yang bisa seenaknya di sentuh dan di lecehkan semudah itu.
Johan semakin mendekat dengan tatapan mengancam dan berkeinginan, sementara Elle juga semakin memundurkan tubuhnya terus dengan mimik waspada di barengi keringat dingin yang jatuh membasahi seluruh tubuhnya.
" Ayo sayang, mari kita bersenang-senang sebentar. " Johan sudah membungkuk untuk merengkuh tubuh Elle sehingga Elle semakin menjauh dan dia kembali bangkit dengan cepat, dan lagi-lagi dia di kejar oleh Johan.
" Ah! " Pekik Elle saat Johan mampu meraih tubuhnya dan membenturkan punggungnya di dinding. Johan mencoba untuk mencium Elle tapi Elle tetap menolak sebisanya sembari tangannya tergerak mencari sesuatu yang bisa dia gunakan sebagai alat untuk memukul Johan agar menjauh darinya.
Dapat, sebuah vas bunga yang terbuat dari kaca sudah berhasil dia raih dan tanpa pikir panjang dia pukul ke kepala Johan dengan kuat.
Di ruang depan.
Eliza membawa nampan berisi minuman itu dengan tangan gemetar dan masih mengeluarkan darah. Wajahnya terlihat sangat pucat dan ketakutan membuat Jarvis mengeryit penuh tanya dan terkejut melihat darah di tangan pelayan rumahnya.
" Kau kenap- "
" Tuan, tolong selamatkan Nona Elle, dia tidak bersalah, aku yang salah, aku akan menerima hukumannya tapi tolong selamatkan Nona Elle. "
Jarvis mengeryit lalu bangkit semakin mendekati pelayan rumahnya yang tertunduk dengan tubuh gemetar serta terus menitihkan air mata.
" Apa maksudmu? Kenapa lagi Elle? Dia membuat ulah apa lagi? "
" Dia, " Eliza menceritakan segalanya sembari menangis dan terus tersendat karena dia tida bisa menahan Isak tangisnya. Di luar dugaan, rupanya Jarvis benar-benar tidak terlihat cuek, dia menatap marah dan rahangnya mengeras serta kedua tangannya mengepal kuat. Jarvis segera menuju kamar ujung ruangan dengan langkah kaki cepat bahkan saat dia melintasi Vivian dia sama sekali tidak menghiraukan sapaan serta senyuman Vivian membuat Vivian bingung dan membatin, apa yang membuat Jarvis semarah itu?
Brak!
" Mati, dia pasti sudah mati. Dia mati, bagai mana kalau dia mati? " Ucap Elle ketakutan sendiri memandangi tubuh Johan yang terkapar tak sadarkan diri dengan kepala yang mengeluarkan lumayan banyak darah.
Jarvis berjalan cepat, meraih kerah kemeja yang di gunakan Johan membuat tubuh Johan berada di posisi duduk dan menatapnya seperti tatapan marah.
" Dia bukan orang lemah sepertimu! Jadi berhenti menganggap dia mati! "
Entah itu memang benar-benar kenyataan yang di pikirkan Jarvis entah apa, tapi mendengar bentakan Jarvis barusan dia sedikit lega. Bagaimanapun Elle juga telah membuat orang lain celaka, jadi mana mungkin dia akan bisa begitu tenang dan terus berpikir positif.
Tak lama datanglah dua orang pelayan rumah Jarvis yang langsung membawa tubuh Johan untuk keluar dari kamar.
" Bawa dia kerumah sakit secepatnya dan paling dekat sebelum dia kehabisan darah. " Ucap Jarvis kepada dua pelayan rumahnya.
" Baik. "
Setelah itu Jarvis menatap Elle yang masih terdiam dengan tatapan terkejut dan seluruh tubuhnya masih saja gemetar.
" Jangan jadi orang bodoh, kau pikir kau bisa menyelesaikan masalah dengan bengong seperti itu? Ingat baik-baik, jangan membuat ulah lagi karena mau tidak mau aku jadi harus mengurus masalah mu. Kau seharunya sadar diri dan jangan menimbulkan masalah, kau mengerti? "
Tak mungkin mendapatkan jawaban dari Elle, Jarvis segera meninggalkan Elle di sana dan keluar dari kamar.
" Tempatkan dia satu ruangan dengan pelayan yang tangannya terluka tadi. Siapkan obat-obatan untuk mereka gunakan, biarkan mereka saling mengobati, kau bantu mereka merawat luka, Kau mengerti? " Ucap Jarvis kepada satu pelayan yang berada di luar ruangan.
" Baik. "
" Jangan lupa, sebelum meninggalkan mereka berdua nanti, periksa luka di punggung wanita itu dan beritahu aku bagiamana kondisinya. "
" Baik. "
Setelah menyelesaikan masalah di kamar, Jarvis kembali bergabung dengan temannya dan meminta mereka untuk mengakhiri pesta itu dengan alasan keributan yang di timbulkan oleh Johan tadi.
Rupanya apa yang terjadi beberapa saat tadi dengan cepat sudah Vivian ketahui detail kejadiannya dari seorang pelayan yang menyaksikan beberapa adegan langsung bahkan saat Jarvis berada di kamar itu dan tidak melakukan apapun kepada Elle dia juga bisa langsung tahu kalau Jarvis setidaknya memiliki rasa iba kepada Elle yang membuatnya tak suka.
Vivian kembali masuk ke dalam kamar, dia menatap susu hangat yang tadi di bawakan Elle ke kamarnya dan sudah dia minum sedikit. Susu itu tadinya memang akan dia gunakan sebagai rencana penting, dan sekarang adalah saatnya.
Bersambung.