Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 58 : Sikap Yang Membingungkan



Elle terdiam sembari memeluk kedua lututnya, dia duduk di lantai, menyenderkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur dengan perasaan yang tidak bisa dia jelaskan melalui kata-kata. Rasanya lelah, lelah sekali karena perasaan tidak tenang selalu ia rasakan, dia ingin memejamkan mata tapi dia sama sekali tak bisa melakukannya.


Beberapa saat lalu dia berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan bersamaan dengan Jarvis, tadinya Elle ingin mengambil jalan tengah dengan memberikan jawaban yang akan membuatnya tak terseret terllau jauh, dan membuatkan Jarvis menanggungnya sendiri. Tapi, Jarvis justru mengakui semuanya tanpa pikir panjang, dia mengakui apa yang seharusnya tidak ia akui juga tanpa sekalipun menoleh untuk melihat Elle.


Elle bingung, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi karena Jarvis dengan jelas memberikan keterangan yang akan semakin memberatkan nya, dan tidak ingin Elle masuk dalam masalah itu terlalu jauh.


" Saya terlalu cemburu, saya memukul Johan tanpa berpikir panjang karena saya tidak menyukai istri saya di sentuh oleh pria lain. Istri saya juga bukan wanita yang mudah di ganggu, jadi saya hanya takut dia akan tertekan. "


" Bagaimana anda bisa membiarkan istri anda bersama pria lain di tempat sepi seperti itu? Anda datang bersama dengan istri anda kan? "


" Iya, saya meninggalkan istri saya bersama sahabat saya karena saya ingin sebentar saja bergabung dengan kenalan bisnis, tapi saat saya berbalik saya tidak mendapati istri sana, saya mencari dia kemana-mana dan akhirnya sampailah ke tempat itu. "


Seperti itulah secuil keterangan yang di ucapkan Jarvis untuk membela Elle. Padahal tadinya Elle sudah memikirkan dengan baik bagaimana dia akan memberikan keterangan untuk membela dirinya sendiri, di tambah pertama kali yang mendapatkan pertanyaan adalah dia, jadi dia menentukan keterangan sesuai dengan keinginannya.


" Tuan Johan bilang ada yang ingin dia bicarakan, kemudian aku tidak tahu kenapa dia menyentuh wajahku. "


Dari hasil ketengan yang di dapatkan oleh Jarvis dan Elle, akhirnya Elle di perbolehkan pulang, sementara Jarvis akan tinggal di kantor polisi menunggu untuk proses selanjutnya.


Tok Tok


Suara ketukan pintu terdengar, Elle enggan menjawab jadi dia membiarkan saja karena dia tahu kalau itu pasti adalah Eliza. Benar saja, Eliza datang ke kamar dengan segelas susu hangat.


" Nona, kenapa duduk di lantai? " Eliza dengan cepat meletakkan susu hangat itu ke meja, lalu membantu Elle untuk bangkit dan duduk di atas tempat tidur karena itu akan membuat tubuh Elle nyaman.


" Nona, apa yang terjadi? Kenapa Nona terlihat pucat? "


" Aku sudah selesai menghukum Johan menggunakan tangan Jarvis, aku sudah berhasil melakukannya. Tapi, kenapa aku semakin tida tenang? Kenapa aku hanya merasa senang beberapa detik saja saat melihat Johan kesakitan? Aku ingin menjadi orang jahat, tapi kenapa aku malah seperti yaitu akan sesuatu yang aku sendiri bahkan tidak tahu apa. "


Eliza menghela nafasnya.


" Nona, aku tidak tahu apakah yang aku katakan ini benar atau tidak karena usiaku juga masih muda, pengalaman hidup ku tidak sebanyak orang dewasa di luar sana, tapi bisakah Nona mendengar baik-baik ucapanku? "


" Nona, di usia lima tahun aku sudah di paksa untuk bisa membaca dan menulis karena hanya dengan itu aku bisa mengetahui dosis obat untuk Ibuku, aku menjadi begitu dewasa di usia yang masih muda karena kejamnya takdir padaku. Aku memang marah dan menyalahkan takdir, aku membenci takdirku yang harus di pukuli oleh Ayahku sendiri, Bibiku, bahkan juga nenek ku. Aku tahu benar bagaimana dendam yang timbul karena itu, aku tahu benar bagaimana sakitnya, tapi ketika aku mengetahui jika Ayahku stres dan menjadi sangat kasar karena kehilangan Ibuku, aku tidak bisa marah padanya. Bibiku sering memukuliku tujuannya adalah untuk membuatku Patuh, nenekku yang diam-diam menangis menyesali apa yang dia lakukan padaku, lalu saat tengah malam dia akan diam-diam masuk ke kamar dan mengobati lukaku. Perlahan aku menerimanya, aku berhenti meminta di mengerti dan di kasihani, aku belajar mengerti mereka, dan pada akhirnya seiring berjalannya waktu bibi dan nenek ku menjadi orang pertama yang akan melindungi ku saat Ayah mabuk dan ingin memukulku. " Eliza memaksakan senyumnya.


" Nona, pembelajaran hidup yang aku dapatkan adalah, lebih baik kita tumbuh dengan dunia yang keras karena saat kita berada di kehidupan luas ini kita memiliki keyakinan yang kuat untuk bertahan hidup sampai akhir. Jangan terus memaku hidup dengan kebencian, jangan menahannya, coba dekati Tuan Jarvis dan tanyakan dengan nada bicara dan suasana yang tenang, kesalahan apa yang anda lakukan hingga anda harus dihukum, karena selama ini yang saya lihat adalah, Nona sama sekali tak mencoba menanyakan secara langsung dengan baik, sehingga satu persatu kesalahpahaman menumpuk dan membuat Nona, serta Tuan Jarvis menjadi buta akal. "


Elle mengigit bibir bawahnya dengan air mata yang mulai jatuh. Benar, meksipun Elle sering bertanya di dalam hati, tapi tak sekalipun dia menanyakan itu dengan baik kepada Jarvis, dia selalu mengiyakan semua tuduhan Jarvis dan menentang serta begitu brutal menunjukan emosinya.


" Sulit sekali untukku bisa tenang saat berhadapan dengan Jarvis dan keluarganya, Eliza. Memang aku bisa berpura-pura, tapi rasanya sangat menyakitkan, dadaku sesak karena terus mengingat wajah Jarvis yang begitu dingin, menatapku marah, mencambuk punggungku, memukulku, semua yang dia lakukan untuk menyakitiku seolah seperti anak panah yang sengaja dia tancapkan, lalu perlahan mendorongnya semakin dalam untuk mematikan ku. "


" Kalau begitu lepaskan saja, Nona. Lepaskan rasa sakit itu, jangan menggenggamnya dan menahannya karena rasa sakit itu akan semakin dalam. Dunia ini luas, kebahagiaan yang tersedia untuk Nona bukan hanya ada di satu tempat saja. "


Elle mengusap wajahnya, rasanya dia memang ingin sekali pergi dari kehidupan yang menyakitkan ini, hanya saja egonya seperti ingin menahan dia dan menuntut untuk balas dendam. Padahal Elle tahu rasanya tidak membahagiakan, tidak membuatnya merasa lebih baik, lalu kenapa hatinya sangat kukuh sekali?


***


Jarvis terdiam sedari tadi, sekarang dia di tahan di sel sementara yang ada di kantor polisi setempat. Sebenarnya posisi sudah mengubungi keluarga Jarvis, tapi sampai tiga jam Jarvis berada di sana tak ada satupun yang datang kecuali asisten sekretarisnya yang kini tengah membicarakan sesuatu dengan polisi yang tengah bertugas di sana.


Sudah tidak heran, Ibunya pasti lebih memilih untuk menjaga Wendy ketimbang mengurusi Jarvis yang berurusan dengan kejahatan.


" Tuan, rekaman kamera pengawas sudah aku serahkan kepada polisi. Mungkin Tuan akan tetap mendapatkan hukuman, tapi nanti kita akan coba agar Tuan tidak di tahan dengan uang jaminan. "


" Terserah saja. " Ujar Jarvis tak berekspresi.


" Tuan, maaf kalau saya lancang, tapi saya merasa agak aneh dengan sikap istri Tuan. "


" Aku tidak bodoh dan buta, jadi jangan mengatakan apapun tentang istriku. "


" Baik. "


Bersambung.