Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 29 : Wanita Rendahan?



Sekembalinya Elle dari berbelanja bersama dengan Eliza, Jarvis rupanya sudah menunggu di ruang utama dengan satu kaki berada di atas kaki yang lain. Tatapannya dingin saat melihat Elle masuk melintasinya, menunduk dengan sengaja seolah mengikuti Eliza yang bersikap sopan, tapi jelas Elle hanyalah enggan menatap Jarvis.


" Berhenti kau! "


Eliza dan Elle kompak berhenti di tempat yang sama, mereka berdua tidak tahu pasti siapa yang sebenarnya di minta untuk berhenti meski Eliza tahu tidak ada gunanya kalau dia yang berhenti. Yah, tapi siapa tahu juga Jarvis memintanya untuk melakukan sesuatu kan?


Jarvis menatap tajam, dan arah tatapan itu adalah untuk Elle.


" Kau bisa pergi. " Ucap Jarvis kepada Eliza, tentu saja Eliza langsung beranjak karena dia sempat sebentar mendongakkan kepala melihat ke arah mana mata Jarvis menatap. Sementara Elle, dia tahu benar kalau dia lah yang harus bertahan di sana. Tidak perlu bertanya apa yang akan di lakukan Jarvis, toh semua pasti sudah bisa menebaknya bukan?


Jarvis bangkit dari posisinya, berjalan mendekati Elle yang masih menunduk dengan tatapan marah.


" Kau cukup bersenang-senang hari ini hah? "


Elle tak bergeming, dia masih tetap menunduk dan berekspresi, tidak senang tidak pula sedih apalagi takut. Dia hanya mendengar kalimat yang keluar dari mulut Jarvis dengan artian hambar tak berarti apapun.


" Sudah di peringati untuk tidak menggoda pria, tapi rupanya kau sangat gatal dan juga keras kepala ya? "


Jarvis meraih pergelangan tangan Elle, membawanya pergi dengan mencengkram cukup kuat. Sakit, tapi apakah jika mengeluh akan di lepaskan oleh Jarvis? Tidak, itu tidak akan terjadi jadi nikmati saja siksaan demi siksaan agar hatinya semakin kuat dan tangguh.


Bruk!


Jarvis menghempaskan tubuh Elle ke lantai, sial sekali Elle tak bisa menahan tubuhnya saat punggungnya membentur tempat tidur dan akhirnya membuat bibirnya mengeluarkan pekikan. Rasanya ingin bangkit, menatap Jarvis dengan tatapan marah sama seperti Jarvis yang kini tengah menatapnya. Tapi dia sedang harus menahan emosi, menunjukkan sisi lemah, bodoh, dungu, dan lugu serta sedikit pemarah menjadi satu.


" Apa? Aku tidak melakukan apapun, kenapa aku di lempar seperti ini? " Elle bertanya dengan suara bergetar seperti menahan tangis. Cih! Benar-benar sulit sekali berakting sedih di saat dia ingin menggigit orang sampai daunnya terkoyak. Tapi untunglah sedikit apapun dia harus berakting di depan Jarvis pada akhirnya dia sukses untuk melakukannya.


Jarvis mengeluarkan beberapa lembar photo dari balik jas hitam yang ia kenakan. Yah, kalau tanya kenapa dia masih mengunakan pakaian kantor, sepertinya Jarvis juga belum lama sampai rumah dan sengaja langsung menunggu Elle untuk menunjukkan photo itu.


" Aku benar-benar salut dengan caramu menggoda pria. Kau bisa dengan leluasa menempel seperti itu kepada pria asing, bahkan kau tertawa terbahak-bahak seolah tidak ada batasan di antara kalian berdua. Bukankah yang seperti itu hanya bisa di lakukan oleh wanita rendahan? "


Elle yang saat itu tengah memegang selembar photo dirinya dengan Bryant yang ada di pusat belanja tengah tertawa saat mereka sedang membahas satu hal. Elle sebenarnya ingin sekali menampar wajah Jarvis yang dengan mudahnya mengatakan dia adalah wanita rendahan, tapi setidaknya kemarahan Jarvis ini telah menunjukan kepada Elle harus seperti apa dia mengacaukan Jarvis di waktu nanti.


Elle kembali menunduk, dia sebentar menggigit bibir bawahnya berharap kemarahan yang ia rasakan segera menghilang karena dia harus berusaha sebaik mungkin tak menunjukkan seperti apa suasana hatinya yang sebenarnya.


Anda? Elle barusan menyebut Jarvis dengan sebutan Anda? Apakah sekarang Elle ingin membuat batasan yang seolah mereka tidak ada hubungan sama sekali? Hah!


" Siapa yang menyuruhmu menyebut nama Bryant dengan begitu santai seolah kalian dekat?! Kau juga sejak kapan begitu sopan hingga menyebutku anda? Kau ingin membuatku marah atau bagaimana, hah?! " Jarvis meraih paksa tangan Elle, membuat Elle berdiri dan menghempaskan ke atas tempat tidur.


" Ma maafkan aku, aku hanya mencoba sebaik mungkin untuk memperbaiki sikap. Kalau memang aku salah, tolong beritahu saja aku dan aku akan memperbaikinya lagi. " Elle mencengkram kuat kain setelah dia dengan cepat membenahi posisinya menjadi duduk bersimpuh di atas tempat tidur.


" Tidak bisa, karena semua yang kau lakukan akan nampak salah di mataku. Mulai hari ini kau tidak di izinkan untuk keluar rumah lagi kecuali mengunjungi keluargamu! Dan kau hanya bisa melakukanya satu bulan sekali, kau mengerti. "


Elle mengeryit tidak setuju, baru semalam adiknya mengutuk pesan bahwa Ayahnya sedang tidak enak badan, dan rencananya besok pagi-pagi sekali dia akan menemui Ayahnya dan membawanya untuk pergi ke Dokter.


" Besok aku ingin mengantar Ayah ke Dokter, tolong biarkan aku pergi. Aku janji akan kembali sebelum waktu yang di tentukan, aku juga tidak akan mengisahkan untuk meminta di antar atau di jemput. "


Jarvis tersenyum dengan tatapan kesal tidak percaya kepada ucapan Elle barusan.


" Jangan mencari alasan terus menerus, Elle! Aku tahu itu hanyalah alasannya mu saja kan? Kau pasti tidak puas karena waktu yang kau habiskan bersama Bryant tidak lama kan? Kalian pasti ingin diam-diam bertemu kan? Katakan, dimana kalian akan bertemu besok? Di hotel mana, cepat katakan! "


Elle menatap Jarvis dengan tatapan marah, kali ini dia benar-benar tidak sanggup kalau harus berpura-pura lagi.


" Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, tapi kau masih saja menganggap ku berbohong. Aku mana bisa berbuat apa-apa kalau pikiranmu tentang ku adalah seburuk itu! Lagi pula di mana salahku kalau Bryant mengajakku berbincang? Walaupun aku memang sadar jika Bryant itu memiliki kharisma yang kuat, tapi aku masih bisa menahan diri jadi berhentilah berpikir kalau aku ini sama dengan wanita rendahan! "


" Diam! " Jarvis meraih dagu Elle, mencengkram kuat membuat wajah Elle tertekan tak bis melakukan apapun karena tangan Jarvis benar-benar keras seperti batu.


" Jangan membantah ucapanku, karena kau hanya punya satu kata saat aku memerintah yaitu, iya! Kau hanya boleh mengikuti ucapanku, kau paham tidak?! "


Elle ogah menjawab ucapan Jarvis barusan karena dia tahu pertengkaran akan makin besar dan menguras energi.


" Kalau kau begitu gatal dan ingin di sentuh, aku akan memenuhinya. Aku akan memuaskan mu! " Jarvis tersenyum miring sembari membuka ikat pinggang yang ia gunakan.


Bersambung.