
" Berhentilah memanggil ku seperti itu, Vivian. Kau tahu aku sudah tidak membutuhkan mu untuk berakting bukan? "
Vivian terdiam sebentar, tapi bukan berarti dia akan diam dan menurut saja. Dia akan mencoba bersikap manja dan membuat kesan yang berbeda kepada Jarvis.
" Sayang, bukankah sudah waktunya kita memikirkan hubungan kita berdua? Kita kan juga perlu memiliki anak. "
" Diam! Diam kau, Vivian! Malam sialan itu, andai saja aku tidak mabuk sampai tidak sadar mana mungkin kau hamil?! Aku tidak menginginkan anak, jadi jangan membuat ku kesal. "
Vivian tersentak, dia tak bisa bicara untuk beberapa saat karena malam itu juga cukup membuatnya tak tenang selama ini. Sebenarnya dia sendiri juga bingung bagaimana dia akan mempertahankan rumah tangga yang tidak biasa bersama dengan Jarvis karena terlalu banyak sandiwara di dalamnya. Tapi menjadi istri Jarvis adalah hal yang sangat sulit untuk dia relakan begitu saja meski dia juga sadar keadaannya sulit untuk memiliki keturunan.
" Jarvis, biarpun hubungan pernikahan kita ini sangat aneh, tapi apakah tidak bisa kita memulainya menjadi suami istri sungguhan? Dulu kita hanya melakukan semuanya dengan pura-pura, bahkan sampai berpura-pura juga melakukan hubungan suami istri demi menyakiti hati Elle. Tapi aku sungguh jatuh cinta padamu, Jarvis. Aku benar-benar sangat mencintai mu, aku tidak bohong. "
Jarvis tersenyum miring.
" Sebenarnya sampai batas apa kau ingin. Berbohong, Vivian? Aku sudah berpura-pura bodoh, aku sudah memberikan banyak kebebasan untuk mu, tapi rupanya kau justru semakin gila dengan obsesi mu. Pergilah, Vivian. Pergilah sejauh mungkin, jangan biarkan aku melihat mu, karena kalau aku terus melihat mu, aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi, dan jangan salahkan aku jika tangan ku ini bergerak untuk menyakiti mu. "
Vivian mencengkram tangannya satu sama lain, gila! Tatapan Jarvis dan nada bicaranya benar-benar membuatnya tertekan. Mungkinkah Jarvis sudah mengetahui segalanya? Tidak, kalau benar Jarvis sudah tahu segalanya bagiamana dia akan mejelaskan?
" Ja Jarvis? "
" Benar, aku tahu segalanya, Vivian. Aku membiarkan mu membohongi ku karena aku tidak perduli pada mu. Aku memberikan waktu untuk kau menyadari segalanya, lalu pergi tanpa aku harus mengusir mu karena aku juga tidak bisa mengabaikan kebaikan mu. Tapi aku sudah muak, aku juga sudah tidak membutuhkan apapun lagi dari mu. "
" Tapi, kita kan pernah hampir memiliki anak? "
" Konyol! Anak? Kau masih ingin menipu ku? Anak itu tidak ada, kalaupun kau hamil itu juga bukan karena ku! Aku sudah mencari tahu semuanya, Vivian. Malam itu tidak terjadi apapun, aku pingsan semalaman, dan selanjutnya kita tidak pernah melakukan aktivitas yang bisa membuat mu hamil. Aku hanya memancing mu agar kau jujur dengan sendirinya, tapi sepertinya kau tidak memiliki minat untuk jujur, jadi terserah kau saja dan masa bodoh mau seberapa banyak lagi kebohongan yang ingin kau berikan. "
Vivian terdiam dengan perasaan hancur, sebenarnya bagian mana yang tida pantas darinya untuk menjadi istri seorang Jarvis? Malam itu, malam di mana Jarvis menikahi Elle, dia diminta untuk menanggalkan semua pakaiannya, dia pikir Jarvis benar-benar akan melakukan hubungan suami istri sungguhan dengannya, tapi yang ada Jarvis hanya berpura-pura saja memposisikan diri seperti sedang melakukan hubungan suami istri, dan separuh tubuhnya tertutup oleh selimut. Jarvis sengaja tidak menutup pintu agar Elle bisa masuk untuk melihatnya, tapi begitu Elle pergi menjauh dengan air mata bercucuran, Jarvis menghempaskan tubuhnya menjauh seperti orang yang merasa jijik. Sakit, tentu saja rasanya sambat sakit. Dia sudah cukup menderita karena perceraian kedua orang tua yang pada akhirnya membuat dia harus menjadi lontang lantung tak memiliki tujuan, dan saat itu pun dia masih harus merasakan bagiamana di cintai dan di perlakukan dengan baik hanya di hadapan satu orang saja yaitu, Elle.
" Jarvis, aku sudah tahu salah. Tapi aku tidak mau pergi dari mu, aku mau menjadi istrimu dan menjalani kehidupan rumah tangga yang sebenarnya. "
Jarvis membuang nafas kasarnya. Sebenarnya lelah sekali beradu mulut dengan Vivian, tapi jika dia terus diam tidak mengatakan apapun, Vivian akan semakin tidak tahu malu dan dengan percaya diri akan mengikuti siapapun tanpa perduli apapun.
Vivian menunduk tak berani berkata-kata karena dia tahu sepintar apapun dia mencari alasan, Jarvis akan dengan mudanya bisa melihat dan menyadari kebohongannya.
" Jarvis, aku minta maaf untuk semua yang aku lakukan, semua kebohongan ku aku meminta maaf. Tapi aku benar-benar mencintai mu, Jarvis. Aku tidak bohong, aku benar-benar ingin hidup bersama dengan mu. Tidak apa-apa kalau kau tidak mencintai ku, tidak masalah kalau kau akan memperlakukan ku dengan dingin, asalkan bisa hidup dengan mu selamanya, aku akan berusaha yang terbaik, dan menemani mu selalu. "
Jarvis semakin menunjukkan ekspresi dingin.
" Vivian, waras lah sedikit saja. Kau menginginkan apa dariku? Aku tidak bisa menyentuh tubuh mu karena aku bukan pria bajingan yang bisa melakukan itu tanpa perasaan apapun. Kau ingin uang? Aku akan memberikannya, kau hanya perlu pergi saja dan jangan datang pada ku. "
" Tapi- "
" Cukup! Aku sudah benar-benar cukup mendengar semua itu. Kau apa tidak lelah memohon permohonan yang sama? "
" Aku- "
" Pergi! "
Vivian tak lagi bicara karena tatapan Jarvis benar-benar sangat menakutkan kala itu.
Tak jauh dari sana, tepatnya di balik dinding. Elle menutup mulutnya dengan air mata yang begitu banyak berjatuhan. Tadinya dia hanya ingin mengembalikan ponsel Jarvis yang terjatuh, tapi karena saat di luar tadi satpam sedang tidak ada dan gerbangnya juga tidak di kunci, jadilah Elle masuk ke dalam sana. Tapi siapa sangka kalau dia akan mendengarkan banyak hal di luar dugaannya selama ini.
" Sebenarnya kenapa kau tidak bisa mencoba denganku, Jarvis? "
" Aku tidak memiliki minat, aku tidak memiliki keinginan terhadap mu. Kau, tidak memiliki sesuatu yang bisa membuat ku sedikit saja merasa tertarik. Paling parahnya dan fatal, kau bukan Elle yang bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. "
Elle semakin kuat menekan bibirnya tak ingin kalau sampai dia kelepasan dan mengeluarkan suara tangis dari sana.
Bersambung.