
Elle dan Jarvis tersenyum saling menatap satu sama lain, hari ini dia sudah di bandara untuk kembali ke negara asal mereka. Awalnya sih Jarvis masih merasa malas untuk kembali ke negara asal mereka, tapi karena nasehat dan juga pengertian dari Elle, dia mulai luluh apalagi setelah Elle menceritakan apa yang dilakukan Ibunya saat dia akan pergi kala itu.
Jarvis meraih jemari Elle, membuatnya saling bertautan dan menggenggam dengan erat. Baiklah, kembali ke tempat semula, tempat yang telah memberikan banyak sekali pengalaman hidup, pahit serta manis yang datang silih berganti. Tidak masalah, dia sanggup mengahadapi segalanya asalkan di sisinya ada seorang wanita yang sangat dia cintai.
Dua puluh empat jam mereka di dalam perjalanan, akhirnya Elle dan juga Jarvis kini telah sampai ke rumah. Rumah yang beberapa saat mereka tinggali bersama, di sana sudah ada Ibu Diana serta Eliza yang menyambut dengan bahagia kedatangan mereka.
" Ibu.... " Ucap Jarvis seraya berjalan mendekati Ibunya, sungguh dia merasa canggung karena ini adalah untuk pertama kalinya Ibu Diana menyambut kedatangan Jarvis seperti ini.
" Putra ku, putra ku...... " Ibu Diana memeluk erat-erat tubuh Jarvis sembari menangis tersedu-sedu. Sungguh dia tidak tahan lagi dengan air matanya yang jatuh karena penyesalan mendalam itu. Jarvis masih terdiam tak memberikan respon seperti yang Ibunya berikan. Jujur dia bukan tidak senang bisa merasakan bagaimana di peluk oleh Ibunya seperti ini, hanya saja Jarvis yang sudah puluhan tahun hidup dengan luka dari Ibunya seperti sulit untuk menerima karena dia juga cukup takut kalau saja apa yang terjadi sekarang ini hanyalah sandiwara Ibunya saja untuk membuat Jarvis terpengaruh sama seperti saat Ibunya meminta agar Jarvis membalaskan dendam atas kematian adiknya.
Setelah itu mereka makan malam siang bersama, bercerita banyak hal dan tertawa bersamaan. Biarlah semua berjalan dan mengalir begitu saja seiring berjalannya waktu pasti kecanggungan di antara mereka akan menghilang. Meskipun perasaan sakit masih mereka rasakan, toh yang lalu tidak mungkin bisa kembali, jadi biarkan saja semua berjalan seperti ini.
" Ngomong-ngomong, apa tidak sebaiknya kalian tinggal di rumah Ibu saja? " Ucap Ibu Diana yang membuat Jarvis serta Elle terdiam. Yah, rumah itu memberikan banyak sekali kenangan menyedihkan, menyakitkan yang sulit untuk mereka lupakan. Benar, masa lalu yang sudah terjadi tidak akan mungkin bisa di lupakan, tapi jika mengingat masa lalu dan tak merasa sakit lagi, tentu saja itu adalah hal yang di inginkan setiap orang setelah menjalani kehidupan yang pahit.
" Kalian, tidak setuju ya? " Tanya Ibu Diana dengan perasaan tidak enak. Yah, kalau dia ingat kembali, jelas lah kalau Jarvis dan Elle ogah berada di rumah itu, rumah itu kan sudah memberikan banyak luka untuk keduanya.
" Maaf, kami nyaman tinggal di sini. " Jawab Jarvis karena memang dia tidak siap jika harus kembali ke rumah yang dulu dia tinggali.
" Ya sudah kalau begitu, Ibu juga hanya mengusulkan saja tidak ingin memaksa kalian. Toh kalau Ibu rindu kalian Ibu bisa datang dan menginap di sini kan? "
Elle dan Jarvis tersenyum untuk mengiyakan ucapan Ibu Diana.
***
Di tempat lain, Vivian terdiam dengan jengkel karena dia merasa benar-benar di tekan habis, juga di peras benar tenaganya di dana. Entah apa maksud si pemilik kuda di sana, tapi dia jelas sekali seperti ingin menyekap Vivian. Mulai dari tidak di izinkan keluar apapun alasannya dan harus mementingkan kesehatan kuda-kuda disana. Kalaupun ingin membeli kebutuhan bulanan Seperti pembalut, pasta gigi, dan lainnya, Vivian hanya bisa meminta pekerja lain untuk membelinya.
Benar-benar sulit di mengerti, tapi Vivian juga tak kehabisan informasi karena dia juga terus memantau Jarvis, Elle, dan Lainnya lewat media sosial. Hanya saja yang Vivian tidak ketahui adalah, Jarvis dan Elle sudah kembali bersama, tapi karena mereka berdua bukan penguna media sosial yang aktif, mereka bahkan lupa untuk mengunggah photo mereka ke media sosial. Yah, di banding sibuk dengan media sosial, bagi keduanya tentu akan lebih indah jika sibuk berdua saja.
" Sialan! Sampai kapan sih aku harus mengurusi kotoran kuda dan memberi makan kuda? Belum lagi memberikan vitamin, mengganti sepatu kuda, memandikan kuda, ah! Brengsek aku bosan! " Kesal Vivian sembari menjauhkan kain lap yang dia gunakan untuk menyeka keringatnya dengan kasar.
" Seharusnya aku tuh tidak di sini, kalau saja tidak ada tuh yang namanya Elle dan juga Kelie, mana mungkin aku akan hidup menderita untuk membayar hutang seperti ini? Elle, Kelie, kalian tentu saja tidak boleh hidup dengan bahagia. Kalian harus menderita barulah kehidupan ini akan terasa adil. " Gumam Vivian dengan mimik kesal. Dia meraih ponselnya, lalu membuka media sosial milik Elle dan Jarvis, gila! Mereka berdua benar-benar sangat tertutup. Sudah berbulan-bulan, bahkan tahun photo yang di unggah Elle bahkan hanya sebelas photo yang semuanya tidak ada gambar wajah Elle sama sekali. Hanya ada anak kucing, lalu yang terbaru adalah sepasang anak anjing berbulu berwarna putih, yah lucu juga sih, batin Vivian. Sementara Jarvis, pria itu juga sama saja. Dia malah hanya mengunggah photo pena, jari telunjuk, jendela kaca yang menyuguhkan padatnya pemukiman di sekitar gedung kantornya, gambar awan, dan terakhir juga sepasang anak anjing.
Vivian tersentak, anak anjing? Dengan segera Vivian mencocokkan dua anak anjing itu dengan anak anjing yang di unggah photonya ke media sosial oleh Elle, dan ternyata dua anak anjing itu sama.
" Sialan! Kenapa mereka sepertinya baik-baik saja? Mereka kan tidak boleh begini! Kalau aku tidak bersama Jarvis, seharunya Elle juga tidak boleh kan? Tidak, tidak! ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku harus segera bertindak cepat, karena kalau tidak, bisa-bisa hubungan mereka bertambah dalam. "
Vivian meletakkan ponselnya, kalau memegangi pelipisnya sembari berpikir. Pertama yang harus dia lakukan adalah keluar dari penangkaran kuda, mengambil uang yang sengaja Vivian simpan sebagai dana mendadak di suatu tempat. Setelah itu baru dia bisa pikirkan baik-baik bagaimana cara yang tepat untuk berundak selanjutnya.
" Iya, aku harus keluar dulu dari sini. " Vivian melepaskan sepatu both yang dia gunakan selama berada di kandang kuda. Kemudian dia juga bersiap dengan tasnya yang berukuran sedang saja. Malam ini pemilik penangkaran kuda pasti akan tidur cepat karena yang Vivian tahu hari ini dia sedang tidak enak badan jadi pas untuk dia bisa kabur.
Bersambung.