
" Apa kau tidak puas membunuh calon anakku? Kenapa kau masih ingin menyakitiku, apakah bila aku mati kau sudah bisa merasa puas dan senang?! "
Seperti itulah barisan kalimat yang keluar dari mulut indah Vivian, kalimat menyakitkan serta tuduhan dari mulut indah tapi bau busuk yang menyengat membuat Elle terdiam dengan tatapan heran yang luar biasa. Tidakkah memiliki sifat tidak tahu diri juga harus memiliki batasan?
Elle membuang nafasnya, dia kembali berbalik menatap Vivian dengan tatapan jengah dan tentulah dia malas untuk membantu Vivian bangkit dari posisinya. Jelas kalau dia melakukan itu, Vivian akan menggunakan kesempatan untuk membuat ulah lagi dengan tuduhan-tuduhan bodoh yang tidak masuk akal.
" Sudah tua jangan banyak tingkah, kalaupun terlalu senggang bukanya lebih baik mencuci piring di dapur? Dari pada meracuni diri sendiri, menjatuhkan tubuhnya sendiri, histeris sendiri, bahkan juga gila sendiri. "
Vivian semakin melotot kesal, tadinya dia ingin langsung bangkit lalu menampar Elle, menarik rambutnya bila perlu sampai rambutnya lepas dari kulit dan botak. Tapi saat dia akan bangkit, di sana ada dua pelayan yang berjalan mendekat saat mendengar Vivian berteriak, jadi untuk melanjutkan aktingnya Vivian mengurungkan niat untuk bangun, lalu mendesis seperti sedang kesakitan sembari memegangi perutnya.
" Nyonya! "
Dua pelayan itu segera berlari untuk membantu Soraya bangkit, dan perlahan membawanya untuk masuk ke dalam kamar.
" CK! Tukang akting! " Maki Elle dengan suara rendahnya.
Setelah membantu Vivian untuk berbaring di tempat tidur, satu pelayan berlari untuk mengadukan kejadian itu kepada Jarvis yang berada di ruang kerja pribadinya. Sementara Elle, dia kembali ke kamarnya karena pekerjaan yang harus dia kerjakan memang sudah selesai.
Begitu mendengar apa yang terjadi kepada Vivian, Jarvis segera berjalan cepat untuk melihat kondisi Vivian sekarang ini.
" Vivian? "
Vivian yang sudah tahu kalau pada akhirnya Jarvis akan datang padanya, cepat-cepat dia memandang wajah sedihnya, dia bahkan sampai sesegukan dengan mimik yang terlihat begitu menyedihkan.
" Sayang, Elle benar-benar keterlaluan sekali! Dia sudah membunuh calon anak kita, tapi dia juga masih ingin mencelakai ku. Dia mendorongku sampai jatuh padahal sudah tahu bagaimana kondisi ku, dia juga mengatakan bahwa wanita sepertiku tidak lantas melahirkan anakmu, dan dia juga bilang kalau pria jahat sepertimu tidak pantas memiliki anak. "
Jarvis terdiam, jujur saja dia sangat kesal seandainya benar apa yang di katakan Vivian barusan. Tapi melihat Vivian yang sangat sedih, dia jadi menunda dulu niatnya untuk menemui Elle, dan sekarang dia memilih untuk memenangkan Vivian sampai Vivian tertidur barulah dia akan menemui Elle nanti.
Seperti yang dia rencanakan, sekarang Vivian sudah tertidur pulas jadi inilah waktunya dia menemui Elle untuk memberikan hukuman padanya. Tanpa mengetuk pintu dulu, Jarvis langsung saja masuk ke dalam kamar dan sialnya Elle lupa tidak mengunci pintu kamarnya, jadilah Jarvis jadi melihat tubuhnya yang hanya terbungkus kain penutup segitiga bagian bawah, juga penutup kedua benda kembarnya di bagian dada.
" Astaga! " Pekik Elle dengan cepat-cepat dia meraih bajunya dan segera mengenakannya. Sementara itu, Jarvis memilih sebentar menatap ke arah lain sampai Elle selesai berpakaian.
" Kenapa kau datang kesini? " Tanya Elle yang tidak ingin bosa basi lagi. Jelaslah Jarvis tidak memiliki niat baik, jadi untuk apa dia berlama-lama melihat Jarvis.
Elle menatap wajah Jarvis yang selalu saja dingin saat menatapnya setelah mereka menikah. Meksipun di dalam hati menginginkan tatapan penuh cinta seperti sebelumnya, kenyataan rupanya tak bisa juga di tolak begitu saja.
" Pria bajingan seperti itu tentu saja lantas mendapatkannya, masalah anakmu yang mati itu, seharunya kau tanyakan saja langsung kepada wanita tercintamu itu. Ah, mungkinkah anak itu tidak mau dilahirkan karena dia tidak Sudi memiliki Ayah sepertimu? "
Jarvis mengeraskan rahangnya dengan tatapan marah yang begitu luar biasa dia berjalan cepat dan meraih leher Elle, mencengkramnya kuat seolah menginginkan agar tidak ada lagi kata-kata seperti tadi yang akan keluar dari mulut Elle.
Elle terdiam tak mengatakan apapun, dia tidak memberontak meskipun tatapannya terlihat begitu menghina dan merendahkan Jarvis yang jelas semakin membuat Jarvis marah.
Bagus, terus sakiti aku Jarvis. Terus sakiti aku sampai perasaan cintaku habis dan berganti dengan perasaan benci yang ada di level teratas. Jika hari itu tiba, kau yang menatapku dingin, tajam, memperlakukan ku seperti kau makhluk suci dan aku kotor, akan aku pastikan bahwa kau akan bersujud di kakiku, memohon maaf dan mencintaiku melebihi ekspektasi mu. Lihatlah nanti, lihat siapa yang akan menang di akhir cerita. Lihatlah betapa menderitanya tersiksa oleh perasaanmu sendiri sampai kau tidak segan-segan menggunakan tanganmu sendiri untuk menghukum dirimu sendiri pula.
" Bukanya meminta maaf, beraninya kau mengatakan omong kosong seperti itu, hah?! " Jarvis menjatuhkan tubuh Elle di ranjang. Sebenarnya Elle masih lah merasa aneh, kenapa harus di atas ranjang? Bukankah kalau menjatuhkan tubuhnya ke lantai pasti Elle akan merasa sangat sakit? Bukan kah minat Elle sedih dan kesakitan adalah hiburan Jarvis?
Elle bangkit dari posisinya, dia menatap Jarvis dengan tatapan berani.
" Mulut ku tidak akan pernah mengucapkan kata maaf karena yang harus mengucapkan kata maaf adalah kau, Ibumu, adikmu, dan wanitamu itu. Ah, bahkan anak khayalanmu itu juga perlu meminta maaf padaku. "
" Rupanya hukuman yang aku berikan padamu malah semakin membuatmu berani ya? " Ucap Jarvis lagi-lagi masih dengan tatapan dingin yang menakutkan, hanya saja Elle sudah mulai tak merasakan takut lagi.
" Aku tidak akan menyesal mati saat kau memukuliku, atau mengurungku di gudang yang pengap itu. Tapi, aku akan sangat menyesal jika hanya diam saja ketika kau dan juga keluarga gilamu terus melukai harga diriku. Setidaknya, aku bisa dengan bangga mengatakan kepada malaikat apa alasanku meninggal yaitu, mati karena mempertahankan harga diriku yang di injak-injak oleh sampah. "
Plak!
Jarvis menampar pipi Elle membuat Elle berpaling dan setitik noda darah keluar dari sisi bibirnya. Tak mengaduh, tak terlihat ingin menangis, Elle justru terkekeh dan mengekang keheranan membuat Jarvis jadi semakin marah. Elle mengeluarkan selembar kertas hasil uji kehamilan Vivian yang coba Vivian singkirkan.
" Baca, dan cari tahu saja kalau kau merasa ini tipuan. Setelah itu temui lagi wanita tercintamu itu, lebih keras lagi usahamu untuk membuat anak. Barangkali yang kemarin karena benihmu yang sudah busuk, atau rahim wanitamu yang terkontaminasi sampah sehingga tidak sanggup menampung anakmu. "
Jarvis membulatkan matanya begitu terkejut saat membaca selembaran itu.
Bersambung.