
Vivian mondar mandir mencari cara bagaimana bisa dia menghasilkan uang tiga miliar sesuai keinginan Kelie. Rasanya dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik sekarang karena semua yang dia pikirkan hanyalah tentang memusnahkan nyawa orang lain, yaitu Kelie.
Tiba-tiba Vivian terdiam karena dia mendapatkan satu ide yang sepertinya akan membantunya. Bibirnya tersenyum, lebar, dan semakin lebar seolah dia yakin benar apa yang akan dia lakukan nanti pasti akan tetap membatunya aman dan tetap bisa menikmati hidup dengan damai di samping Jarvis, dan tetap menjadi istri atau Nyonya Jarvis seutuhnya.
" Ibu Diana akan pergi ke luar negeri untuk bertobat kan? Kalau begitu aku bisa mencari barang berharga miliknya, aku yakin sekali juga kalau pada akhirnya aku akan mendapatkan sesuatu yang berharga. Sekarang aku harus mulai bersiap, tidak mungkin juga kan Ibu Diana pergi ke luar negeri membawa semua asetnya juga? Ah, Wendy juga akan pergi bukan? Perempuan setengah gila itu mana mungkin memikirkan masalah hartanya, jadi aku harus benar-benar bertindak cepat, dan juga teliti, jangan sampai aku melewatkan satu pun benda berharga mereka. Masalah nanti ketahuan, aku kan hanya tinggal buat alibi dan buang saja semua itu kepada pelayan, mudah sekali! "
Vivian tersenyum jahat, niat seperti itu sudah benar-benar bulat di hati serta pikirannya, jadi kalaupun ada orang yang mengetahui niat Vivian dan menasehatinya, yang ada Vivian akan mengamuk karena tekad yang sudah sebulan itu sulit untuk di cegah oleh siapapun juga pastinya.
" Sekarang aku hanya perlu mendatangi Ibu mertuaku, memasang wajah sedih dan pilu. Aku benar-benar harus memastikan bahwa semua akan berjalan sesuai rencana ku. Sudah tidak ada lagi si wanita sialan yang namanya Elle di rumah ini kan? Aku yakin semua akan berlangsung mudah dan cepat. "
Vivian berjalan keluar meninggalkan kamarnya, dia menuju kamar wendy, tempat dimana Ibu mertuanya juga tinggal karena dia benar-benar menjaga Wendy hampir dua puluh empat jam. Sebelum masuk ke dalam, Vivian membasahi sisi matanya menggunakan tetes mata yang ia simpan di saku celananya agar terlihat bahwa dia sangat sedih dengan keadaan Wendy.
" Ibu, Wendy? Maaf aku mengganggu kalian berdua, aku benar-benar khawatir, aku tidak bisa tenang dan terus menerus menangis karena keadaan keluarga kita, jadi aku boleh kan tinggal disini untuk ikut bergabung? "
Ibu Diana mengangguk saja, Wendy juga sama. Sebenarnya Wendy tidak bisa di bilang frustasi parah, atau stres berat karena dia masih bisa berbicara dengan baik dan sejalur. Dia hanya tidak bisa percaya jika kenyataan tak sama seperti yang dia harapkan. Dia hanya mengalami sedikit kendala yang masih belum ada apa-apanya kalau di bandingkan Elle. Tapi ya, Ibu Diana yang super mencintai putri satu-satunya itu benar-benar tida ingin megambil resiko apapun dan memilih mengambil pengobatan yang dia anggap maksimal dan terbaik.
" Wendy, semua pakaian mu sudah Ibu siapkan, tidak perlu membawa terlalu banyak, kita kan bisa membelinya di sana. Oh iya, kau tidak lupa kalau besok kita berangkat pukul sepuluh pagi kan? "
" Iya Bu, tentu saja aku ingat. Ngomong-ngomong, kakak masih juga belum pulang ke rumah Bu? " Tanya Wendy yang belum melihat Jarvis beberapa hari belakangan ini. Padahal sebelumnya Jarvis sangat rajin menemuinya untuk menguatkannya dan meminta Wendy agar tetap kuat dan berusaha untuk menggapai saja apa yang jelas memang di ciptakan untuk dia. Jujur saja rasanya hampa sekali tidak melihat Jarvis beberapa waktu ini.
Ibu Diana membuang nafas sebalnya.
" Sudahlah, jangan terlalu memikirkan kakak mu, dia itu sulit di kontrol dan sangat tidak suka mematuhi ucapan orang tua. Dia hanya melakukan apa yang dia inginkan saja, jadi jangan bertanya lagi tentang kakak mu. Paling juga dia sedang bersenang-senang dengan wanita itu. "
" Maksud Ibu, Elle? "
Vivian membulatkan matanya terkejut, kompensasi? Kalau mengingat seberapa susahnya hidup Elle selama berada di rumah itu, tentu saja Jarvis akan memberikan banyak sekali uang kan? Mungkinkah sepuluh, dua puluh, tiga puluh, atau lima puluh miliar? Vivian menggelengkan kepalanya. Tidak, dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan itu. Padahal dia sedang sangat kesusahan uang, tapi Elle malah kebanjiran uang kompensasi.
Aku harus bertindak, aku harus bisa merebut itu dari Elle, bila perlu membunuhnya juga tidak masalah.
" Ibu, sudahlah. Selama ini aku terus berpikir keras untuk kak Bryant memiliki perasaan yang sama, atau membalas perasaanku, tapi ya memang tidak bisa jadi tidak perlu di pikirkan lagi. Aku hanya perlu perlahan melupakan kak Bryant kan? Tidak usah memikirkan masalah kompensasi apapun, toh nyatanya sebanyak apapun kompensasi juga tidak akan menghilangkan traumanya Elle kan? "
Ibu Diana mengeryit dengan tatapan yang menjelaskan bahwa dia amat sangat tidak setuju dengan apa yang di katakan oleh Wendy.
" Wendy, penyakit mental mu sepertinya sangat parah ya? Bisa-bisanya kau membela wanita yang sudah membuat mu hampir mati?! "
Wendy menghela nafasnya.
" Sebenarnya, bisa di bilang Elle sudah menyadarkan ku, Bu. Perasaanku untuk Kak Bryant membagi harus segera di hilangkan karena kalau tidak, aku bisa akan lebih gila dari kemarin ketika aku mendapati kenyataannya. "
" Wendy, kau ini- "
" Ibu, kak Jarvis mengatakan ini padaku beberapa hari lalu. Wendy, jika mencintai satu nama pria begitu sulit, maka cobalah untuk mencintai pria lain, lihatlah dan bandingkan, siapa yang akan memberikan senyuman manis dan hangat terhadapmu, siapa yang akan dengan cepat mengulurkan tangan padamu saat sedang kesulitan. Siapa yang rela mendatangi tidak perduli jarak dan waktu, maka pria yang seperti itulah yang pantas untukku. "
" Dia hanya sedang membual saja karena dia tidak ingin merepotkan diri membujuk Bryant untuk menikahimu. Kalau dia benar-benar menyayangimu, maka dia akan menyeret Bryant dan memintanya segera menikah denganmu. "
" Aku juga pernah mengatakan itu kepada kak Jarvis, dan dia bilang seperti ini, kalau iya aku dan kak Bryant menikah, maka hubungan rumah tangga kami hanyalah segudang masalah yang akan terus menyakitiku juga kak Bryant sendiri. Kak Jarvis bilang padaku bahwa, sakit dan patah hati lebih awal akan lebih mudah sembuh di banding sakit setelah berkali-kali gagal bertahan hingga waktu yang terbuang sudah sangat banyak. "
Bersambung.