
Elle membongkar semua isi laci dari kamar Ibu mertuanya dan perlahan mencari apa yang bisa di jadikan bukti untuk semua tindakan jahat mereka. Tapi Elle tak menemukan apapun, selain sebuah photo keluarga lengkap milik keluarga Jarvis. Ah, tapi tunggu dulu! Elle menatap kembali photo keluarga Jarvis dan memperhatikan dengan seksama wajah seorang pria muda yang tidak asing untuknya.
Elle memasukkan semua barang ke dalam laci sebisa mungkin seperti semula letaknya lalu bangkit untuk melihat dengan jarak yang lebih dekat dan agar lebih jelas tentunya.
" Pria itu, dia kan? "
Tiga tahun yang lalu.
" Elle, hari ini aku antar pulang ya? " Seorang pria muda yang tampan entah dari arah mana kini berada di hadapan Elle yang sedari tadi sibuk dengan buku yang ia baca. Elle sebentar menatap pria itu lalu mengeryit bingung karena sebelumnya dia tida terlalu dekat dengan teman sekelas yang belum lama pindah ke sekolahnya.
Elle menutup bukunya, dia tersenyum lalu menggeleng.
" Maaf, tidak perlu repot-repot. Aku harus menghampiri adikku dulu, karena kami biasa pulang pergi sekolah bersama-sama. "
Pria itu nampak kecewa, tapi dari cara dia menatap Elle, sepertinya dia sama sekali tidak ingin menyerah.
" Lain kali boleh? "
Elle kembali tersenyum, dan menggeleng setelahnya.
" Kalau istirahat nanti boleh tidak kita mengobrol? "
Sepertinya sekarang ini Elle tidak bisa menggelengkan kepala lagi.
" Iya. "
Pria itu nampak bersemangat, lalu menyodorkan telapak tangannya.
" Kau harus tahu namaku dulu, kenalkan namaku Fredon. "
Elle menghela nafasnya. Tentu saja tidak perlu mengenalkan diri karena di juga sudah tahu nama pria itu, bagaimanapun dia satu kelas jadi tidak mungkin Elle tidak tahu namanya.
Setelah hari itu, Fredon benar-benar mencoba mendekati Elle dengan banyak cara. Mulai dari menghabiskan jam istirahat untuk membuntuti Elle yang lebih suka berada di perpustakaan, pulang sekolah akan meminta Elle untuk bertemu dan mengobrol panjang lebar di sebuah taman yang dekat dari rumah Elle, juga Fredon yang menggemaskan saat menyukai makanan kesukaan Elle. Maklum saja Fredon memang terkenal dari keluarga kaya, sedangkan Elle dari keluarga sederhana yang sudah pasti Elle bukan pemilih soal makana, dan selera Elle justru makanan pinggiran jalan yang sederhana saja.
Cukup lama hubungan persahabatan mereka terjalin, dan bulan ini sudah empat bulan mereka dekat. Fredo memutuskan untuk menyatakan cinta kepada Elle di taman biasa mereka bertemu, tapi jawaban Elle benar-benar membuat Fredo tercengang tak percaya.
" Fredo, maafkan aku karena tidak bisa menjanjikan lebih. Aku pikir kita hanya perlu berteman dekat saja seperti ini, tapi aku tidak menyangka kalau kau memiliki kerasan semacam itu padaku. Aku sudah berjanji untuk tidak memilki kekasih sebelum aku benar-benar lukis sekolah. "
" Ujian sekolah hanya tinggal beberapa tiga hari lagi, jadi apa bedanya kalau terima aku sebagai kakesihmu dari sekarang? "
Elle menggelengkan kepala, sebenarnya Elle juga merasa kalau dia menyukai Fredo, hanya saja dia benar-benar tidak ingin mengingkari janjinya kepada Ayahnya. Ujian sekolah sebentar lagi selesai, dan setelah itu hanya tinggal menunggu saja pengumuman lulus. Tapi, bukankah akan lebih baik jika Elle memberikan jawaban saat ujian kelulusan saja?
" Fredo, bagiamana kalau aku akan memberikan jawabanku di hari kelulusan kita? "
" Oke! Aku akan menunggu hari itu dengan sabar. Tapi, kau harus janji kalau setelah hari kelulusan kita akan pergi berkencan ya? "
Elle terkekeh.
" Aku kan belum bilang ingin menyetujui untuk menjadi kekasihmu? "
" Eh? " Fredo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Kalau begitu, aku akan lebih berusaha lagi supaya bisa membuatmu terkesan padaku dan mau menjadi kekasihku. "
Benar saja, Fredo benar-benar seperti gencatan senjata dalam mengejar Elle. Setiap hari dia selalu mengirimkan pesan romantis, kadang mengirimnya bunga, mengirimnya coklat, bahkan mengirimkan barisan puisi yang sukses membuat Elle terpingkal-pingkal setiap kali membacanya.
Tiba di hari kelulusan, Elle terus menunggu dan ternyata Fredo tak kunjung datang. Ponselnya juga tidak bisa di hubungi, anehnya semua teman yang sempat dekat dengan Fredo juga tidak mengetahui dimana rumah Fredo berada. Karena memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Elle hanya bisa diam dan menunggu saja siapa tahu nanti Fredo akan menghubunginya. Kembali lagi saat dia mengingat Fredo berasal dari keluarga kaya, bisa saja Fredo belum datang kesana karena pergi jalan-jalan ke luar negeri kan?
Tapi, satu bulan, dua bulan, tiga bulan, bahkan satu tahun sudah berlalu Fredo masih tak menghubunginya. Nomor telepon Fredo juga sama sekali tidak bisa di hubungi sampai saat itu. Kemungkinan lain mulai Elle pikirkan, apakah Fredo berkuliah di luar negeri seperti kebanyakan anak orang kaya lainnya? Apakah semenjak pindah dia langsung menemukan wanita cantik dan jatuh hati sehingga dia sudah tidak menginginkan Elle yang selama ini hanya menyuguhkan harapan saja?
Setelah itu Elle menjalani harinya tanpa mengharapkan Fredo lagi.
Kembali ke masa sekarang.
Elle sebentar berpikir, jika benar Fredo adalah anggota keluarga Jarvis, lalu kemana Fredo pergi? Apa dia masih betah tinggal di luar negeri? Seperti apa dia sekarang? Apakah jika nanti mereka berdua bertemu Fredo masih akan mengingatnya? Elle membuang nafasnya karena sekeras apapun dia berpikir dia sama sekali tidak mendapatkan jawabannya sekarang ini.
" Sudahlah, mungkin belum waktunya aku tahu tentang semua ini, tapi aku harus terus berjuang dengan caraku sendiri. " Elle meraih kain lap, juga sapu yang ia bawa masuk karena alasan Elle masuk ke sana adalah untuk membersihkan kamar Ibu Diana. Sebenarnya dia sudah sempat masuk kedalam kamar Jarvis, tapi karena dia menyadari jika ada kamera pengawas di sana, Elle hanya bisa menjalankan kegiatannya dan mencari kamar yang tidak ada kamera pengawas dan itu adalah kamar Ibu Diana setelah kamar Wendy yang tidak ada bukti apapun.
***
" Sayang, nanti kalau bersama dengan keluarga besar dari Ibu, kau jangan memasang wajah dingin ya? " Pinta Vivian sembari memposisikan tubuhnya untuk duduk di samping Jarvis yang sedang memantau rekaman kamera pengawas lewat laptopnya.
" Sayang, ke kenapa kau melihat Elle? " Tanya Vivian yang jelas tidak senang melihat apa yang tengah di lakukan Jarvis.
" Mengawasi, ralat kata-katamu! " Ucap Jarvis yang masih enggan menatap ke arah Vivian yang sudah menggunakan baju super menggoda miliknya.
" Sayang, bisa tidak berhenti mengawasi Elle? Aku juga harus kau perhatikan loh. "
Vivian mencoba untuk memulai aksinya, dan benar saja Jarvis menyusup laptopnya lalu menatap Vivian.
" Aku sedang tidak memiliki mood bercinta, kau juga tahu benar kondisimu yang belum pulih kan? Menjauhlah, aku akan mengerjakan pekerjaanmu. "
Bersambung.