
Plak!
Satu tamparan yang membuat pipi panas dan perih mendarat di pipi kanan Elle, rupanya Elle ketahuan telah memasuki kamar Ibu Diana, juga kamar Wendy mengacak-acak mencari sesuatu padahal Elle yakin benar tidak ada orang yang melihat, juga sudah meletakkan barang di tempat semula.
Elle menunduk menahan marah luar biasa, rasanya dia ingin sekali membalas tamparan itu, tidak perduli yang menamparnya adalah orang tua atau bukan. Padahal dia tidak mengambil apapun, dia hanya ingin mencari tahu penyebab dia terus di perlakukan buruk seperti ini. Tapi begitu Elle mengangkat pandangan matanya dan melihat senyum sinis di wajah Vivian tertuju padanya, sekarang dia benar-benar tahu siapa yang sudah mengadukannya. Yah, sudah pasti Vivian kan? Entah dari mana dia tahu kalau Elle memasuki kamar Ibu Diana dan juga Wendy, yang jelas dia tidak bisa mengelak sekarang.
" Dasar kurang ajar! Apa yang kau curi hah?! Tidak tahu malu sekali, padahal Jarvis sudah memberikan banyak uang kepada keluargamu, tapi masih saja tidak tahu diri! Dasar perempuan gila harta dan rendahan! "
Makian ini, jika saja Elle masih ingin melawannya maka tidak perlu berganti untuk teriak membela diri. Sekarang, sudah tidak penting lagi harga diri selama Elle bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Harta, balas dendam, air mata Jarvis dan keluarganya, penyesalan tiada akhir, semua itu akan terwujud jika dia bersabar, memperlihatkan sosok lemahnya hingga tidak ada satupun orang yang akan tahu jika dia bisa bergerak dengan tujuan sendiri.
" Maaf. "
Semua terkejut menatap Elle, begitu juga dengan Jarvis. Maaf? Kata itu bahkan tidak pernah keluar dari mulut Elle sebelumnya bukan? Cambukan, tamparan, di tendang, di tusuk dengan putung rokok, pisau karter, di cekik, dan ada beberapa hal lain yang sudah di lakukan tapi sekalipun Elle tidak pernah dan tidak Sudi meminta maaf. Kenapa? Kenapa kali ini Elle benar-benar mengucapkan kata itu dengan jelas?
" Kau sudah sampai meminta maaf, apa kau sudah mengambil banyak dari kamar kami?! "
Elle tertunduk, sungguh dia melihat senyum indah seolah dia sangat puas dan bahagia di wajah Vivian barusan, tapi Elle juga melakukan hal yah sama. Senyum miring penuh keyakinan terbit di bibir Elle saat dia benar-benar menunduk tak ada yang bisa melihatnya.
" Aku tidak, aku tidak mengambil apapun aku bersumpah. " Suara Elle terdengar gemetar membuat Jarvis mengeryit merasakan dadanya yang merasakan sesuatu tidak biasa. Selama ini dia selalu melihat Elle ceria,aku melihat Elle yang berani dan sekalipun dia tidak pernah melihat Elle dengan suara bergetar dan wajah menunduk setelah sekian lama dia menunjukan wajah percaya diri dengan tegap seolah tak kenal apa itu yang namanya kematian.
" Dasar pembohong! Kau menunduk pasti karena takut wajah penuh kebohonganmu terbongkar kan?! " Vivian meraih dagu Elle, mencengkramnya kuat dan membuat wajah Elle tegak untuk bisa di lihat oleh Jarvis dan yang lainnya. Pada awalnya Vivian benar-benar yakin kalau Elle pasti sedang menunjukan wajah penuh amarah seperti biasanya saat ada yang menghina dan berbicara dengan nada tinggi, tapi semua itu benar-benar di luar dugaan karena ternyata Elle sudah mengeluarkan banyak air mata.
Jarvis tersentak, menangis? Elle benar-benar menangis?
" Bohong! Dia pasti berbohong, dia ketakutan dan tidak tahu bagiamana menyembunyikannya. Geledah saja kamarnya! Aku yakin dia pasti sudah menyimpan banyak dari yang dia ambil! "
Ibu Diana dan juga Wendy mengangguk setuju, dengan segera dia berjalan cepat menuju kamar Elle, sementara Elle sendiri berjalan tertatih karena Vivian terus menarik lengan Elle.
Sialan! Sakit sekali, sepertinya perempuan sinting ini sengaja menekan lukaku dan menyerat untuk memperparah lukanya. Lihat saja kau nanti, kau orang pertama yang akan aku buat banyak menangis sampai ingin bunuh diri.
Vivian, dia terus tersenyum seolah yakin benar apa yang akan terjadi selanjutnya adalah hal yang menyenangkan untuknya. Dia masih enggan melepaskan cengkraman tangannya membuat Elle kesal bukan main.
" Bagaimana? Sudah di temukan semua perhiasannya? "
Wendy dan juga Ibu Diana kompak menghela nafas dan menggelengkan kepala membuat Vivian mengeryit bingung dengan tatapan tak percaya. Vivian sontak melepaskan cengkraman tangannya dan berjalan cepat mendekati lemari dimana semua pakaian serta barang Elle berada. Tidak perduli sudah berapa berantakannya semua barang milik Elle, Vivian dengan semangat mengeluarkan barang dengan membabi-buta.
'' Kenapa?! Kenapa tidak ada?! " Vivian terlihat tidak percaya karena tak mendapati apa yang dicari.
Elle, dia benar-benar sangat puas melihat wajah terkejut Vivian. Hah! Dia pikir menggunakan cara kuno semacam itu akan berguna di zaman sekarang?
Beberapa saat sebum Jarvis dan suruh anggota keluarga kembali ke rumah, Elle yang baru saja akan kembali ke kamarnya untuk mengambil obat sakit kepala untuk Eliza, dia tak sengaja melihat seorang pelayan wanita yang biasanya melayani Vivian keluar dari kamarnya sembari mengendap seperti takut akan ketahuan. Tentu saja Elle tahu benar jika ada yang di lakukan pelayan itu di kamarnya, jadi dengan segera di memeriksa seluruh barang yang ada di kamarnya. Lalu saat dia menemukan beberapa kotak perhiasan, Elle menyadari jika pelayan itu pasti sengaja meletakkan perhiasan untuk menjebaknya. Tak mau banyak menuduh dan menduga-duga siapa yang menyuruh pelayan itu untuk meletakkan perhiasan di dalam kamarnya, dengan segera Elle menemui Eliza guna menanyakan di mana kamar yang di gunakan pelayan itu.
" Sudahlah, kita baru saja sampai dan sudah membuat ulah seperti ini. Bubar dan suruh pelayan untuk merapihkan kembali kamar ini, jangan membuat keributan lagi karena aku sudah sangat lelah. " Ucap Jarvis sebentar melihat ke arah Elle yang masih tertunduk lalu pergi meninggalkan kamar itu untuk menuju kamarnya.
" Tidak bisa, kita harus cari dimana perhiasan kita yang hilang! " Ucap Wendy karena salah satu perhiasan miliknya yang hilang itu adalah perhiasan edisi terbaru yang sulit untuk di dapatkan.
" Kalau begitu, geledah semua kamar dan semua orang yang berada di rumah ini. " Ucap Ibu Diana dan langsung bergerak begitu juga dengan Wendy. Sementara Vivian, wanita itu justru masih menatap tak percaya.
" Bagaimana? Bagaimana rasanya di bodohi oleh permainanmu sendiri? "
Barisan kalimat yang keluar dari mulut Elle barusan sontak membuat Vivian menoleh dengan tatapan terkejut.
" Kau pikir kau bisa menang melawanku dengan otak bodohmu? " Elle tersenyum miring, tatapannya tajam dengan maksud menghina persis seperti Elle biasanya.
Bersambung.