
Jarvis meraih kerah kemeja Bryant dan menariknya untuk menjauh dari pintu rumah sakit, atau tepatnya pintu yang dapat membuat Bryant bisa menemui Elle. Dengan sekuat tenaga Bryant mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Jarvis dari kerahnya, tapi Jarvis benar-benar sulit di hadapi dan dia sangat tidak perduli tempat. Memang benar dia juga melakukan hal yang sama, hanya saja semua itu karena dia sangat khawatir dengan apa yang terjadi kepada Elle.
" Enyahlah! Bukankah aku memintamu untuk menjauhi Elle? Kau tidak sedang mengajakku untuk perang kan? " Ucap Jarvis setelah menghempaskan tubuh Bryant. Untung saja Bryant cepat memposisikan diri dan mengimbangi kakinya agar tidak jatuh, jadi dia masih bisa berdiri dengan baik sekarang ini.
" Bagaimana bisa kau melakukan ini semua, Jarvis?! Kau bukan manusia ya?! Aku benar-benar yakin kau pasti sangat senang menyiksa Elle, aku yakin kau pasti memiliki penyakit jiwa yang serius! " Bryant memukul wajah Jarvis membuat pria itu memalingkan wajahnya, tidak terlihat kesakitan, Jarvis justru tersenyum dengan tatapan yang sangat tajam. Dia dengan jelas menunjukkan bahwa pukulan Bryant tidak ada apa-apanya sampai Jarvis saja sedikitpun tidak terlihat sakit.
" Pukulan ini, memang tidak meninggalkan rasa sakit di kulitku. Tapi, aku paling tidak suka ada yang melayangkan pukulan kepadaku, jadi jangan salahkan aku kalau pembalasan dariku nanti benar-benar sangat keterlaluan. "
Bryant tersenyum dengan tatapan mengejek.
" Kau tidak suka kalau ada yang memukulmu, tapi kau suka memukul dan menyakiti Elle? Kau ini benar-benar perlu menemui psikiater, Jarvis! " Bryant kembali mengepalkan kedua tangannya, kali ini dia benar-benar sangat marah kepada Jarvis tapi dia masih bisa menahan diri untuk tidak lagi memukul.
" Kau tidak akan mengerti, kau bukan aku jadi mana bisa kau memahaminya? Sekali aku menginginkan sesuatu, aku akan melakukannya dengan totalitas, kau tahu benar tentang itu bukan? Sama dengan halnya caraku kepada Elle, kau hanya cukup menjadi penonton saja dan jangan pernah mencoba menjadi pahlawan kesiangan untuk dia. Duduk baik-baik di tempatmu, biarkan aku saja yang bertindak, kau jadilah penonton saja. "
Bryant tidak tahan lagi, dia memukul wajah Jarvis berkali-kali, dan sialnya Jarvis masih berdiri di sana dengan tegap meski sudut bibirnya mengeluarkan darah.
" Bajingan! Lihatlah dirimu yang begitu bedebah ini, Jarvis! Kalau saja kau tidak menyakiti Elle seperti ini, aku mana mungkin akan ikut campur?! Kau ini sedang bermain-main dengan nyawa seseorang, Jarvis! Kau pikir hanya dirimu saja yang berharga? Elle juga adalah putri yang berharga bagi orang tuanya, dia memiliki kebahagiaan lain yang jelas adalah hak nya! Kau ini siapa? Kau mengenal Elle saat dia sudah dewasa, dia bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, tapi kau menikahinya hanya untuk kau jadikan pelayan serta samsak untuk keluargamu? Kau apakah tidak malu, hah?! Apakah kau tidak punya otak, hah?! "
" Diam! " Jarvis mencengkram kuat leher Bryant, satu tangannya yang mengepal kuat sudah naik ke atas siap untuk di layangkan ke wajah Bryant. Sayangnya Jarvis tidak tega untuk melakukannya, jadi Jarvis mendorong tubuh Bryant dan memilih untuk menatapnya dingin saja.
" Sudah ku bilang bahwa, kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan, kau tidak akan mengerti betapa rumitnya hubungan ini karena kau bukanlah aku! Diam, jangan bersuara dan jangan mencoba mengingatkan apa yang aku lakukan, aku tentu saja tahu apa yang aku lakukan ini, jadi diam dan jangan membuatku marah! "
" Jangan terus menguji kesabaran ku, Bryant. Kau seharunya adalah satu-satunya orang yang paling mengenalku dengan cukup baik. Kau boleh melakukan apapun, tapi menyangkut Elle, jangan harap aku akan diam saja membiarkanmu bertindak sesukamu. " Jarvis menjauhkan tangan Bryant darinya dan berjalan meninggalkan Bryant di sana dengan kekesalannya.
" Sekarang aku benar-benar sadar benar kalau kau sangat mencintai Elle, tapi juga membencinya. Elle benar mengenai ini, dan selamat menikmati perasaan itu, Jarvis. Kau akan lihat dan merasakan sendiri seberapa tersiksanya karena mencintai dengan membenci di waktu yang bersamaan. Cepat atau lambat kau akan bimbang, atau kalau sampai kau tahu kebencian yang kau rasakan untuk Elle hanyalah salah paham saja, kau pasti akan menjadi gila setelahnya. Seperti katamu, Jarvis. Aku akan diam menonton apa yang akan terjadi sampai akhir nanti, aku akan melihat seberapa besar penyesalanmu, dan seberapa besar rasa bersalahmu itu. " Gumam Bryant sembari menatap punggung Jarvis yang semakin menjauh darinya. Tidak masalah jika hubungannya dengan Jarvis renggang atau pun hancur, dia lebih rela seperti itu ketimbang hanya diam melihat ada orang yang terluka berkali-kali seperti itu.
" Elle, aku benar-benar akan akan melakukan semua yang kau inginkan, asalkan bisa membuatmu bebas dengan perasaan lega, maka aku akan memerankan dua peran sekaligus yaitu, diam menonton seperti yang Jarvis inginkan, dan mendorongmu serta membantumu kapan pun kau mau. " Gumam lagi Bryant lalu ikut pergi dari lorong rumah sakit yang sangat sepi itu.
Setelah menemui Bryant, Jarvis dengan segera menuju ke ruangan dimana Elle berada.
Saat itu Elle tengah duduk d brankar sembari menatap jendela kaca yang menyuguhkan sinar matahari terik.
" Kalau kau sudah lebih baik, kita langsung kembali ke rumah saja. " Ucap Jarvis lalu berjalan mendekati Elle dan melihat perban di leher Elle apakah berdarah lagi atau tidak. Rupanya tidak, jadi Jarvis memantapkan keputusan untuk membawa Elle kembali pulang ke rumahnya.
Elle mencengkram kain celana yang ia kenakan. Sepertinya dia memang harus segera kembali ke neraka itu, toh diam berada di sana tidak akan menghasilkan apapun juga. Satu lagi, sebenarnya dia tahu benar jika Bryant memaksa untuk masuk tadi, dia mendengar Bryant begitu berusaha untuk melihat keadaannya, tapi sayangnya apa yang dilakukan Bryant di rasa agak berlebihan oleh Elle. Dia tidak bisa menerima perhatian yang berlebihan seperti itu setelah apa yang di lakukan Jarvis padanya. Mungkin orang akan kesal dan berkata, tinggalkan saja Jarvis, kabur dari rumah itu dan mencari kebahagiaan di tempat lain. Masalahnya tidak sesederhana itu, dia memiliki adik dan juga Ayah yang sudah banyak menikmati jasa dari Jarvis. Meskipun Elle sendiri merasa enggan untuk mengakui kebenaran itu, nyatanya memang begitulah Jarvis. Di lain sisi menyiksanya, di lain sisi membantu keluarganya.
Elle memaksakan senyumnya dan mencoba Sebaik mungkin agar tidak terlihat kaku saat tersenyum.
" Baik, tapi karena tubuhku sangat lemas, apakah bisa kau menggendong ku? "
Bersambung.