
Jarvis mengeluarkan ponselnya, lalu tersenyum melihat pesan yang tak mendapatkan balasan dari Elle. Iya, tadi pagi sebelum berangkat ke bandara Jarvis mengirimkan pesan kepada Elle, dia mengatakan jika ada sesuatu yang di butuhkan selama proses perceraian berlangsung, maka Elle bisa menghubunginya, atau menghubungi pengacara. Jarvis tersenyum bukan karena dia merasa bahagia tak mendapatkan balasan, dia hanya menertawakan kebodohannya yang tidak ada habisnya.
" Kenapa juga aku harus mengirim pesan seperti sedang berpamitan? Tentu saja dia tidak akan perduli bukan? "
Jarvis mengernyitkan dahi karena wanita yang tiba-tiba duduk di sampingnya mengibaskan rambut panjangnya dan membuat wajah Jarvis terkena kibasan rambut itu.
" Anda mau pergi kemana, Tuan? " Ucap wanita itu lalu membuka kacamata hitamnya, topi yang ia kenakan, juga masker penutup wajah.
Jarvis terdiam membeku menatap wanita yang kini tersenyum padanya setelah semua penutup wajahnya di buka. Senyum manis nan indah itu, mata bulat nan jernih, bibir kecil berisi, pipi tirus dan garis rahang yang tegas, pemilik semua keindahan itu tentunya adalah, Grizelle. Wanita yang dari asal sudah membuat Jarvis jatuh cinta meski juga merasakan benci di waktu yang sama. Wajah itu, senyum itu, tatapan hangat seolah dia adalah rumah ternyaman, kini bisa Jarvis lihat kembali setelah sekian lama.
" Elle? "
Jarvis menggeleng sembari menghindari kontak mata di antara mereka. Tidak, dia benar-benar tidak seharunya membayangkan tentang Elle, dia seharunya tidak mengharapkan Elle, dia seharusnya menantikan apa yang tidak boleh dia harapkan.
" Apa kau ingin kabur dari ku dan mencari wanita lain? Kenapa harus keluar negeri untuk menemuinya? "
Jarvis mengernyitkan dahi, tidak! Rupanya suara itu benar-benar nyata. Segera Jarvis menatap ke arah samping dimana wanita yang dia anggap Elle berada.
" Elle? Kau benar-benar Elle? Sungguh? Tidak mungkin kan? Tidak mungkin kau bisa sampai di sini, aku pasti sudah gila. " Jarvis menggeleng dan tertawa kecil meremehkan ucapannya sendiri, juga menertawakan dirinya yang begitu sulit lepas dari Elle.
Elle membuang nafasnya, lalu mengambil posisi untuk meraih baju yang di kenakan Jarvis, lalu mencium bibirnya untuk menyadarkan Jarvis jika itu memang benar-benar dirinya.
Elle kembali tersenyum setelah selesai dia mengecup bibir Jarvis. Mereka kini bisa menatap dengan jarak yang begitu dekat, bahkan hembusan nafas yang hangat satu sama lain terasa menyembur kulit.
" Bagiamana bisa? Bagaimana bisa kau disini? Bagiamana kau bersikap seperti ini? " Tanya Jarvis dengan tatapan yang masih terlihat tak percaya atau syok. Iya, maklum saja kalau Jarvis benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi, maklum saja beberapa waktu belakangan setelah mereka berdua menikah sikap Elle semakin dingin setiap harinya, tatapan penuh dendam dan kebencian begitu terasa, dan sekarang tiba-tiba Elle bersikap seolah semua luka yang ada tidak pernah terjadi? Bahkan jika ini di dalam mimpi pun Jarvis benar-benar tidak akan bisa menerimanya meski ini adalah hal yang dia inginkan.
Satu hari yang lalu.
Ibu Diana datang ke rumah Elle dengan air mata yang begitu banyak, dia sesegukan memohon kepada Elle untuk jangan membiarkan putranya pergi.
" Aku tahu aku memiliki andil yang begitu besar atas luka yang kau dapatkan. Aku tahu kau begitu benci dan dendam padaku, aku akan menerimanya sepenuh hati, aku akan mendapatkan hukuman dari Tuhan dan itu pasti akan terjadi. Tapi putra malang ku itu tidak sepenuhnya salah, dia melakukan semua hal yang menyakiti mu atas dasar desakan ku dan juga rasa cintanya kepada Fredon. Dia sudah banyak menderita, dia mengalami banyak kesakitan karena aku yang tidak pecus merawat kedua putraku. Aku sudah pernah gagal dengan dua putra ku, aku tidak ingin gagal selamanya. "
" Apa maksud anda, Nyonya? " Elle menatap dingin Ibu mertua yang seharusnya dia anggap Ibunya sendiri, tapi karena perbuatan yang tidak menyenangkan pada akhirnya membuat Elle menganggap jika Ibu mertuanya alias Ibu Diana itu adalah sala satu musuhnya.
" Aku mohon, aku benar-benar memohon pada mu untuk membawa putra ku kembali. Hanya kau yang bisa, hanya kau yang bisa aku mintai tolong juga. Dia berniat pergi dari sini, Jarvis bukanlah pria yang mudah mengambil keputusan sebesar ini, firasat ku sebagai Ibu mengatakan jika, Jarvis pasti tidak akan pernah ingin kembali setelah semua ini. Dia terkuat sangat putus asa, dia terlihat begitu tak memiliki apapun untuk bertahan di sini, jadi hanya padamu aku minta tolong, Elle. Aku akan memberikan apa yang kau inginkan sebagai balasannya, entah itu semua harta ku atau nyawaku juga tidak masalah, aku akan memberikannya. Tapi tolong, tolong, cegah putra ku pergi meninggalkan Ibu yang gagal ini, tolong bawa dia kembali dan biarkan aku menjadi Ibu yang baik sebelum aku menyesalinya seumur hidup. "
Elle terdiam, dia menatap terus Ibu mertuanya yang menangis tersedu-sedu sembari memohon padanya sampai tak ragu bersimpuh dan merendahkan diri seperti itu. Seorang Nyonya Diana yang adalah anak dari konglomerat ternama, memohon seperti sekarang ini demi Jarvis, pastilah dia sudah melakukan banyak kesalahan kepada Jarvis hingga penyesalan yang teramat dalam membuatnya tak lagi memperdulikan tentang harga diri.
" Katakan pada ku, kenapa aku harus membantu? Siapa aku sehingga aku harus membantu? Setelah apa yang anda lakukan bersama dengan anak-anak anda, anda begitu percaya diri bahwa aku akan membantu? Apa anda tidak merasa malu dan juga tidak merasa kalau aku pasti akan menolaknya? "
Ibu Diana menggelengkan kepalanya.
" Karena kau tidak memiliki hati yang sempit dan licik seperti ku, itu lah kenapa aku datang untuk memohon pada mu. Kalau saja aku ada di posisi mu, aku pasti akan memilih untuk menolak dan memakai untuk membalas rasa sakit hati, tapi kau bukan aku, hati mu dan hati ku tidak bisa sama seperti itu. "
Elle terdiam sebentar.
" Kemana Jarvis akan pergi? "
" Aku sudah meminta orang untuk menyelidiki negara yang akan di tuju Jarvis, dia akan pergi ke negara dingin yang dekat dengan hutan besar. "
" Kapan dia berangkat? "
'' Pagi besok, pukul tujuh tiga puluh menit. "
Elle menghela nafas.
" Bisakah anda memenuhi syarat-syarat yang aku inginkan? "
" Tentu saja, apapun syaratnya asalkan Jarvis tidak pergi, atau dia tidak memiliki minat tinggal lama di sana, maka aku akan memenuhi syarat yang kau ajukan pada ku. "
Elle tersenyum, lalu menatap Ibu Diana dengan sungguh-sungguh.
Bersambung.