
" Ada banyak hal yang terjadi belakangan ini, aku juga sadar benar seberapa banyak dan seberapa dalam luka yang kau terima. Aku memintamu menjauhi Bryant bukan semata-mata hanya untuk diriku sendiri, tapi aku ingin kau aman, jadi menjauhlah dari Bryant. " Jarvis masih tak berani menatap Elle , dia memilih menatap sepasang sendal yang ia gunakan tapi dia sungguh berharap Elle mau dan Sudi menerima masukan darinya. Bagaimanapun dia memang hanya ingin Elle aman, karena kalau Wendy keluar nanti bisa saja dia berbuat nekad yang akan berujung menyakiti Elle.
Elle terdiam mencoba sebaik mungkin untuk memahami benar apa maksud dari kalimat yang keluar dari bibir Jarvis. Sungguh sangat di luar dugaan, karena sepertinya Jarvis sedang menunjukkan sebuah rasa penyesalan yang cukup jelas untuk Elle rasakan. Mungkin jika penyesalan Jarvis datang lebih cepat sebelum luka di tubuh Elle bertambah banyak, serta luka di dalam hatinya sudah tak lagi bisa di ukur, Elle pasti masih bisa merentangkan tangan menyambung Jarvis dengan senyum bahagia serta harapan untuk mereka bisa bersama bahagia selamanya.
Sayang sekali, sakit yang di rasakan Elle itu sudah melewati jauh dari kesabarannya. Ini mungkin terdengar bodoh dan naif, tapi meski kebencian untuk Jarvis begitu besar, nyatanya perasaan cinta itu masih tertinggal di hatinya.
" Boleh aku tahu kenapa tiba-tiba kau berbicara seperti ini? " Pertanyaan ini sebagai Elle ajukan karena dia tidak dapat menahan diri lagi untuk mengetahui sebab dari semua kekerasan yang Jarvis lakukan padanya beberapa waktu lalu.
" Tidak ada, aku hanya sudah lelah saja. "
Bohong! Itulah yang di rasakan Elle saat Jarvis menjawab pertanyaannya itu. Tidak masalah, tidak penting apapun alasannya semua akan menjadi mudah kalau Jarvis bisa melupakan amarah tidak jelasnya kepada Elle, perlahan-lahan Elle menarik Jarvis untuk masuk ke dalam perasaannya karena bagaimanapun orang yang jatuh cinta begitu dalam akan sulit membedakan mana air biasa, dan mana yang larva dari letusan gunung berapi.
" Baiklah, aku sudah tahu bagaimana keadaan Wendy, kala begitu aku kembali ke kamarku dulu ya? "
" Tunggu! " Jarvis menahan Elle yang sudah akan bangkit dengan menahan lengannya.
" Ada apa? " Tanya Elle bingung.
" Bisa kau tetap disini sebentar? Aku ingin membicarakan beberapa hal yang menurutku penting, jadi bisakah kau tetap tinggal sebentar lagi? "
Elle sebenarnya mulai tidak nyaman berada di sana, apalagi tatapan Jarvis yang tidak biasa itu benar-benar sulit untuk Elle artikan apa maksudnya sehingga Elle terus waspada entah mengapa dia benar-benar merasa tidak enak.
" Baiklah. "
Jarvis terdiam sebentar, dia menarik tangannya yang tadi memegang lengan Elle karena dia yakin benar Elle tidak nyaman dengan itu.
" Mulai besok kau perlu menjauhi Bryant, kau juga akan pindah ke rumah lain. Aku sudah meminta sekretaris ku untuk mencarikan rumah. "
" Kenapa aku dipindahkan ke rumah lain? Dan kenapa aku harus menjauhi Bryant? " Elle terlihat tidak rela, iya! Dia pikir Jarvis sudah menyiapkan mode penyiksaan baru yang bisa jadi ada di luar nalarnya. Dia juga curiga kalau Jarvis melarangnya untuk bertemu Bryant adalah karena tidak rela kalau Bryant bisa membantu Elle dalam banyak hal dan akan merugikan Jarvis tentunya.
Jarvis menahan dirinya yang sudah mulai merasa kecewa. Sungguh dia tidak menyukai kenyataan bahwa Elle tidak bersedia untuk menjauhi Bryant.
" Kau tahu kalau Bryant adalah sahabatku kan? Kau juga tahu benar bahwa kau adalah istriku, jadi berhentilah bertanya kenapa dia kali ini menurut lah agar semua akan baik untuk kita semua. "
" Istri? Sejak kapan, dan aku malah merasa aku ini hanya seorang pelayan. " Elle menekan semua perasaan sebelumnya, dia berhasil! Sekarang Elle mampu mengendalikan dirinya dengan baik, bahkan dia sudah mahir menunjukkan wajah melas.
Jarvis mengeraskan rahangnya, sekarang dia benar-benar tidak mampu menjawab apa yang di ucapkan Elle barusan. Tentu saja semua adalah salahnya, tapi ingin langsung merubah sikap kepada Elle juga akan membuat Elle sangat terkejut, jadi dia hanya bisa pelan pelan mendekatkan diri kepada Elle, dan perlahan menunjukkan penyesalannya serta niatnya yang kuat dan tulus untuk memperbaiki hubungan dan mempertahankannya.
" Kau hanya perlu mendengarkan apa yang aku katakan, jangan bertanya apapun karena ku tidak akan menjawabnya. "
Elle membuang nafasnya, jadi beginilah jalan yang akan di jalaninya? Heh! Bagus, bagus sekali karena dengan tinggal di tempat berbeda Elle bisa melakukan banyak hal. Kesempatan ini akan Elle manfaatkan sebaik mungkin tidak perduli apakah di rumah baru nanti akan ada penyiksaan, dia tetap tidak akan menyerahkan nasibnya dan membuatkan hidupnya jatuh dalam keadaan buruk.
" Baiklah, aku akan bersiap sekarang. "
Elle mulai bangkit dari posisinya, dan ketika sudah bangun dan berjalan beberapa langkah, Jarvis juga ikut bangkit seolah ingin sekali memeluk tubuh Elle seperti dulu. Tapi sayang sekali kondisi hubungan mereka benar-benar sedang tidak mendukung dan Jarvis hanya bisa menatap punggung Elle dengan pilu.
" Elle? "
" Ya? " Elle berbalik sebentar meski tangannya sudah meraih handle pintu.
" Tidak, tidak ada. "
Elle mengeryit lalu segera menggerakkan handle pintu dan keluar dari kamar Jarvis. Begitu sampai ke dalam kamarnya, Elle dengan segera mengambil ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Bryant bahwa dia akan pindah rumah hanya saja alamatnya belum Elle ketahui. Masalah Johan juga Elle akan menjalankan rencananya ketika dia sudah pindah rumah agar mudah bergerak tanpa batasan yang kuat seperti sebelumnya.
***
Di rumah sakit, Wendy tak henti-hentinya menitihkan air mata, dia benar-benar mengabaikan Ibu Diana yang terus memintanya untuk berhenti menangis karena dia akan mencari cara agar dapat membuat Bryant bersedia menikah dengan putrinya. Tapi Wendy yang menolak keras untuk menjauhkan ponsel dari matanya membuat dirinya semakin terluka ketika membaca satu persatu komentar yang mendapatkan balasan dari Bryant. Rupanya Bryant memang benar-benar tidak tahu dalam mengakui perasaannya terhadap Elle.
Cemburu, kesal, marah, kecewa, semua perasaan itu menjadi satu dan menggerogoti hati Wendy sendiri. Jika saja dia tidak membaca komentar, atau lebih tepatnya tidak begitu ingin tahu serta rehat sejenak dari ponsel, mungkin dia akan memiliki hati yang tenang. Tapi yah, memang begitu rasanya saat patah hati bukan?
" Wendy, Ibu akan berbicara kepada Bryant nanti, jadi berhentilah melihat ponsel, dan berhentilah menangis. "
" Tidak! Tidak bisa! Bryant itu juga punya banyak uang, tentu saja banyak wanita yang mau dengannya, hanya saja Elle yang berhasil menggoda Bryant, Elle yang bersalah! "
Bersambung.