
" Bryant, aku akan pergi bersama dengan Johan sebentar, tunggu aku disini ya? "
Bryant jelas sudah tahu kalau akan jadi seperti ini, karena ini adalah salah satu tujuan Elle datang ke tempat ini. Bryant memaksakan senyumnya lalu mengangguk. Sementara di ujung sana, Jarvis masih menatap dengan tatapan marah yang begitu luar biasa hingga kedua matanya memerah, rahangnya mengeras dengan kedua tangan yang mulai mengepal kuat.
Johan merangkul pundak Elle membawanya untuk pergi mengikuti langkah kaki Johan melangkah tentunya. Di sepanjang jalan, Elle benar-benar menahan diri dengan sangat kuat karena dia benar-benar tidak ingin memukul Johan sekarang juga. Tangan kotor itu, nanti akan mendapatkan hukuman yang pantas untuk dia dapatkan, dan akan Elle pastikan hukuman itu akan datang dalam hitungan menit dari sekarang.
Setibanya di sebuah sudut yang sepi, Johan mengusap wajah Elle dan dengan natural Elle mencoba menyingkirkan tangan Johan. Elle sudah memastikan bahwa Jarvis pasti sedang mengikutinya, jadi begitu dia melihat Jarvis dari kejauhan sedang menuju ke arahnya, Elle sengaja menempatkan posisi wajahnya agar Jarvis tak bisa melihat bagiamana dia berekspresi saat Johan terus mencoba menyentuh wajahnya.
" Kau benar-benar sangat cantik hari ini. " Johan kembali menggerakkan satu tangannya mengusap wajah Jarvis, dan dengan wajah malu-malu yang hanya bisa di lihat oleh Johan saja Elle menyingkirkan tangan itu. Iya, dia ingin Jarvis melihat Elle mencoba menyingkirkan tangan Johan, di lain sisi ingin memperlihatkan wajah sok jual mahal dan malu-malu layaknya cara wanita untuk menggoda pria.
" Karena ini adalah acara penting, biarkan aku memulai hubungan kita dengan sebuah ciuman. Nanti kau akan bisa dengan jelas bisa merasakan bagaimana hebatnya aku dalam bidang ini. Dadamu yang agak kecil ini aku bisa membuatnya agak berisi, jadi biarkan aku menunjukkan caranya padamu. "
Elle memaksakan senyumnya dengan kedua tangannya yang sudah mengepal kuat hingga gemetar. Demi Tuhan, tatapan Johan yang seperti anjing kelaparan itu benar-benar membuat Elle ingin sekali menikam Johan berkali-kali dengan tangannya sendiri.
" Setelah ini, tunggu aku di halte depan ya? Aku ingin membawamu ke hotel setelah acara selesai nanti. " Ucapan Johan barusan benar-benar semakin membuat Elle kesulitan saja mengontrol diri, di tambah lagi Joha sudah mulai meraih dagunya untuk dia mencium bibir Elle.
Bug!
Jarvis datang tepat waktu, dan dia berhasil menjatuhkan Johan dengan satu pukulan saja.
" Bajingan! Kau tidak tuli dan kau ingat benar seberapa banyak aku memperingatkan mu bukan?! "
Elle tersenyum miring, tepat! Sekarang Elle mulai berakting menangis, dengan pilu dia terus membuat matanya mengeluarkan air mata dan tangis Elle itu benar-benar membuat Jarvis menjadi semakin sulit mengendalikan diri. Jarvis meraih kerah kemeja Johan, membuatnya berdiri dengan paksa dan membuat wajah mereka berhadapan satu sama lain.
" Kau tahu apa resikonya mencari gara-gara denganku, bukan?! "
Johan terkekeh, dia segera menjauhkan tangan Jarvis dari sana, lalu menatanya dengan percaya diri sekali.
" Hei, wanita itu sangat tidak cocok untuk mu kau juga harus tahu! Dia itu akan aku jadikan simpanan ku, kalau kau memang menginginkan dia, tunggu saja aku bosan aku pasti akan menyerahkan wanita itu padamu! "
Jarvis semakin kesal, dia kembali meraih kerah kemeja Johan, dan memukulnya lagi dengan kuat. Johan mengeluarkan darah di sisi bibirnya, tapi dia masih tidak terlihat takut. Dia tahu kalau gedung itu memiliki banyak penjaga, jadi sudah pasti pada akhirnya nyawa dia masih tetap akan terselamatkan lalu untuk apa dia merasa takut dengan Jarvis?
" Simpanan katamu? Bajingan sepertimu berani sekali mengatakan itu, hah?! " Jarvis meraih tangan Johan yang tadi digunakan untuk menyentuh Elle. Tadi dia jelas melihat Elle mencoba menyingkirkan tangan Johan beberapa kali, jadi Jarvis sangat emosi melihat tangan Johan dan dengan cepat memelintir ke belakang, menjatuhkan tubuh Johan dengan menendang lututnya.
Jarvis sama sekali tidak takut. Dia kembali megah tangan Johan dengan paksa, meletakkan di lantai dan menginjaknya dnegan kuat meski Jarvis tak berekspresi apapun Selian dingin.
" Ah! sakit! Lepaskan tangan ku, bajingan! Brengsek kau Jarvis! Ah! "
Tak ingin berhenti, Jarvis menendang dagu Johan menggunakan kakinya yang terbungkus sepatu pantofel hitam dan tebal membuat Johan mendongak seketika sembari mengeluarkan darah dai mulutnya.
" Ah.......! " Pekik lagi Johan karena rasanya benar-benar sangat sakit luar biasa.
" Kau pikir kau siapa berani sekali memiliki niat untuk menjadikan istri ku simpanan mu? Kau dengan matang mengatakan itu apa kau tidak tahu malu?! " Jarvis menarik kemeja Johan membuatnya berdiri dengan paksa lalu memukulnya lagi. Dia gigi lepas dari gusinya, dan itu benar-benar membuat Johan menjadi histeris.
" Kau, dasar Monster! Ah...... ! " Johan semakin memekik karena dia juga tak bisa menggunakan jemarinya yang beberapa detik lalu di injak oleh Jarvis.
" Monster? Benar sekali, Ibuku, kakek ku, kebanyakan anggota keluargaku menyebut ku monster, kau adalah orang kesekian dan aku tidak heran. " Jarvis tersenyum miring dengan tatapan jahat membuat Johan ingin lari tapi dia tidak bis melakukannya karena Jarvis menahan tubuh Johan dengan mencengkram kerah bagian belakang milik Johan.
" Tanganmu pantas di remuk kan, aku bahkan berniat merobek bibirmu, mencongkel kedua bola matamu yang sedari tadi melihat istriku dengan tatapan menjijikan. " Jarvis terus memajukan langkahnya, sementara Johan terus Meu durian langkah karena bagai manapun Jarvis memang sangat kejam dan tidak perduli dengan siapa yang menjadi lawannya.
Elle menutup mulutnya yang kini tengah tersenyum meski kedua bola matanya terus menitihkan air mata. Akhirnya, tangan yah menyentuh tubuhnya, mata yang pernah menatap kepadanya dengan keinginan yang menjijikan, bibir yang terus berucap merendahkan, tubuh tinggi besar yang menjijikan itu mendapatkan banyak luka.
Bunuh, bunuh dia Jarvis!
" Hentikan! "
Jarvis menghentikan kepalan tangannya yang baru saja akan mendarat ke wajah Johan karena ada beberapa penjaga yang berlari ke arah mereka. Dengan segera para penjaga itu memisahkan Jarvis dan Johan, dan tidak lama Johan jatuh pingsan tak sadarkan diri.
" Sebaiknya anda berdua ikut kami. " Ucap Penjaga itu yang berniat membawa Elle dan juga Jarvis ke kantor polisi.
" Maaf, maafkan saya, saya tidak berniat begitu, saja hanya takut makanya saya datang kesini, maaf, maafkan saya. " Elle menangis pilu, dan untuk pertama kali Jarvis melihat Elle yang begitu ketakutan hingga membuatnya ingin juga ikut menangis karenanya.
" Bawa aku saja, aku yang bersalah. Istriku hanya korban, jadi biarkan dia tinggal dan kembali ke rumah. " Ucap Jarvis menyerahkan diri.
Bersambung.