
Wendy terduduk di lantai sembari memeluk lututnya, dia masih mengisi karena unggahan Bryant benar-benar membuat hatinya begitu hancur berkeping-keping. Jika kemarin dia masih mencoba sebaik mungkin untuk tetap bertahan meski terluka, maka hari ini dia benar-benar sudah tidak mampu lagi melakukannya.
Bertahun-tahun berlalu, dan hatinya masih sama yaitu mencintai Bryant. Dia memang hanyalah seorang anak yatim piatu, tapi Bryant memiliki banyak hal yang membuatnya tertarik seperti, wajah tampan, sopan santun, kebaikan hatinya, dan Bryant adalah pria yang tidak pernah mudah tergoda hanya karena wanita cantik seperti kebanyakan pria lainya.
" Kak Bryant, padahal aku sudah yakin benar suatu hari kita akan bersama, suatu hari kau akan mulai jatuh cinta padaku, dan kita bisa memiliki kehidupan bahagia seperti kebanyakan pasangan menikah lainnya. Tapi kenapa kak Bryant menyukai Elle? Kak Bryant seharunya tahu kalau Elle adalah istrinya kak Jarvis kan? Kenapa kak Bryant malah mencintai wanita yang tidak pantas? "
Wendy mengeratkan kedua lengannya yang tengah memeluk lututnya, dia meletakkan wajahnya di atas lutut dan membiarkan air matanya jatuh entah sudah seberapa banyaknya.
***
Setelah hari itu, Elle kembali ke rumah Jarvis setelah selesai mengantarkan Ayahnya ke rumah bersama dengan Penelope.
" Kau beli lah baju yang baru, kartu untuk kau belanja akan di kirimkan aisiten ku siang nanti. "
Seperti itulah kalimat aneh yang keluar dari mulut Jarvis kepada Elle beberapa saat lalu. Memang mengherankan, kartu untuk belanja? Apakah dia sudah boleh keluar masuk rumah sesukanya? Ataukah ini adalah metode penyiksaan baru yang terselebung?
Elle meletakkan ponselnya di lemari tempat lampu tidur berada, dia duduk di pinggiran dekat tidur tak jauh dari sana. Sebentar dia terdiam memikirkan kira-kira rencana apa yang sedang di jalankan Jarvis sehingga memilih untuk royal padanya. Kartu untuk belanja? Mungkinkah Jarvis akan menghitung pengeluarannya nanti dan melipat gandakan sehingga Elle akan semakin terikat dan tidak memiliki celah untuk dia bisa pergi dari rumah itu?
" Jarvis, entah rencana apa yang sedang kau jalankan, aku tidak akan kalah dan terbuai. Aku akan tetap pada jalanku, jadi entah apa yang akan kau lakukan, aku akan tetap berada di posisi sebagai dalang dari permainan peran. "
Elle membuang nafasnya, dia menoleh ke arah di mana biasanya ada air minum dan rupanya tidak ada. Segera Elle bangkit untuk menuju dapur dan mengambil air mineral. Langkah demi langkah sudah Elle lewati, tapi anehnya Elle seperti merasa ada yang berbeda semenjak dia keluar dari kamarnya, yaitu sua pelayan yang melintas dan tak sengaja bertemu dengannya menunduk seperti sedang memberi hormat.
" Mereka kenapa? " Gumam Elle tapi tak menghentikan langkah kakinya. Begitu dia sampai di dapur, dia bertemu dengan Eliza, dan Eliza juga melakukan hal yang sama. Dia menunduk hormat padahal sebelumnya Eliza santai saja layaknya teman dekat.
Elle sebentar fokus pada tujuannya yaitu mengambil air mineral, lalu saat akan pergi dia bertanya kepada Eliza tentang apa yang terjadi sebenarnya.
" Eliza, kau ini kenapa? Kenapa kau menunduk seperti itu? "
Eliza nampak bingung dalam diamnya, tali Elle yah bisa melihat itu segera membujuk Eliza untuk menceritakan apa yang terjadi, dan kenapa sikap para pelayan agak berubah padanya.
Tentu saja Elle mengeryit bingung, kenapa lagi ini sebenarnya? Begitulah kira-kira isi hati Elle begitu mendengar jawaban dari Eliza mengenai apa yang terjadi sebenarnya. Tidak, lebih baik pikirkan nanti saja karena dia tidak ingin membuat Eliza kebingungan juga seperti dirinya.
" Eliza, berhentilah bersikap kaku seperti itu. Kita adalah teman, selamanya kita adalah teman. Jangan merubah sikap mu karena aku tidak nyaman dengan itu, mari kita tetap seperti sebelumnya dalam bersikap dan berbicara. " Elle tersenyum sembari menyodorkan telapak tangannya, Eliza awaknya memang ragu-ragu, tapi karena Elle memuakkan alisnya beberapa kali dan mengerakkan bibir untuk di sambut tangannya, Eliza akhirnya meraih tangan Elle dan menjabat dengan hangat.
" Bagus, kita adalah teman jadi jangan bersikap kaku, oke? "
" Oke! " Eliza tersenyum bahagia, yah pada akhirnya dia masih bisa berteman dengan orang sebaik Elle, dan kuat serta tabah.
Setelah itu Elle berniat kembali ke dalam kamar karena sebelum Jarvis pergi tadi dia mengatakan untuk Elle beristirahat saja di kamar, dan meminta Elle untuk membiarkan pelayan melakukan semua yang dia inginkan juga dia butuhkan. Tapi begitu dia berbalik dan ingin meninggalkan Eliza, Elle di buat bahagia sekali melihat wajah Wendy yang sangat pucat, kantung matanya benar-benar bengkak dan jelas sekali kalau Wendy banyak menangis seharian kemarin.
" Dia itu kenapa? " Tanya Elle kepada Eliza, hanya saja dia tetap menatap Wendy.
" Tidak tahu, Nona. Sedari kemarin siang pulang ke rumah, Nona Wendy memang sangat aneh, dia marah semua orang untuk hal-hal kecil, dia bahkan berteriak tidak jelas beberapa kali. Kami tidak ada yang berani mendekat, Nona Vivian juga terlihat tidak perduli. Sementara Nyonya besar pergi berlibur bersama teman-teman arisannya sore kemarin. "
" Keluarga yang mengherankan, setiap hari begitu sesuka hati, melakukan apa yang ingin di lakukan padahal mereka hanya mengandalkan satu orang saja sebagian penghasil uang. " Gumam Elle.
Bosan juga melihat wajah Wendy, Elle akhirnya kembali menjalankan kakinya, dan sialnya dia harus berhenti saat Wendy bangkit dari posisinya yang tengah duduk di meja makan seorang diri dengan segelas susu hangat di hadapannya.
" Ka menikmatinya bukan? Kau menikmati kebahagiaan karena di cintai oleh Bryant kan?! Dasar wanita murahan! Padahal kau sudah di nikahi oleh kak Jarvis, kenapa kau tidak tahu malu sekali mencuri waktu untuk diam-diam menemui Bryant! Seharusnya kau tahu posisimu, dasar bodoh tidak waras! "
Elle terdiam, dia memasang wajah datar seolah ingin menunjukkan kepada Wendy dia sama sekali tidak terkejut kalau akan mendengar kalimat tidak enak dari Wendy.
" Wanita bodoh, gila, dan brengsek sepertimu, seharunya mari saja karena hidup akan sangat memalukan untukmu! Kau harus tahu diri, jadi jangan salahkan aku mengingatkan siapa dirimu, dan betapa tidak pantasnya kau untuk kak Bryant! " Wendy sesudah bersiap mengangkat tangannya untuk dia ayunkan ke wajah Elle, tapi untuk kali ini Elle menahan tangan Wendy, mencengkramnya dengan kuat meski bibirnya tersenyum tipis, matanya tak menunjukan kemarahan sedikit pun.
" Jangan sering-sering menggunakan tanganmu ini untuk memukul, kau seharunya jangan menyalahkan aku kalau pria yang kau sukai itu menyukaiku. Salahkan jadi dirimu yang nyatanya kalah dari seorang wanita berseragam pelayan ketimbang kau yang selalu menggunakan pakaian bermerek. "
Bersambung.