Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 19 : Dia Mabuk?



" Sebaiknya kau hilangkan sifat suka menggodamu itu! Jangan pikir dengan kau menggoda pria lain kau bisa keluar dari rumah ini! Hidup atau mati kau hanya bisa berada disini! "


Elle menatap Jarvis dengan tatapan marah dan keheranan, bagaimanapun dia masih ingin mencoba memaklumi saat Jarvis sembarangan berkata karena bau alkohol yang sangat menyengat itu sudah memberitahu Elle kalau Jarvis sedang dalam keadaan mabuk. Dari cara Jarvis berdiri dan menatap juga sudah semakin meyakinkan kalau Jarvis mabuk. Tapi, kalimat yang keluar dari mulut Jarvis benar-benar tidak bisa untuk Elle abaikan saja. Bagaimanapun dia paling tidak suka ada orang yang merendahkan, menghina apalagi kalau sampai membawa nama Ayah dan adiknya dalam balutan kalimat yang tidak pantas, Elle paling tidak bisa mentolerir akan hal itu.


" Dasar sampah, pria bajingan sepertimu mana pantas mengatai ku dengan sebutan sanita yang suka menggoda padahal aku tidak pernah melakukannya? Kalau sedang mabuk seharusnya kau temui saja wanitamu itu, bermain lah dengan dia karena kau tidak ada waktu meladeni tingkat gilamu. "


Jarvis yang berdiri dengan berpegangan dengan dinding mencoba melajukan langkahnya ingin mendekati Elle. Begitu dia dekat dengan Elle, dia dengan cepat meraih leher Elle dan menekannya cukup kuat sampai Elle tersengal dan terbatuk-batuk.


" Sampah, pria bajingan? Berani sekali kau mengatakan itu hah?! Kalau saja bukan karena ulah wanita rendahan sepertimu, aku juga tidak akan jadi seperti ini asal kau tahu?! Aku benar-benar tidak akan melepaskan mu, aku tidak akan membiarkan siapapun melepaskanmu meski urusannya dengan hukum sekaligus! "


Elle yang sudah tidak tahan lagi karena sulit bernafas akhirnya sekuat tenaga menyingkirkan tangan Jarvis dari sana


" Dasar gila! Kau begitu terang-terangan ingin membunuhku? Kau jangan pikir aku takut mati, Jarvis. Aku tentu saja tidak akan menolak untuk mati tapi aku juga perlu melihat siapa yang menginginkan nyawaku ini. Tapi kalau yang menginginkannya adalah orang sepertimu, bahkan sampah bekas ku saja tidak akan aku berikan padamu! "


" Diam! "


Jarvis tadinya berniat menyakiti Elle, tapi karena dia mabuk parah pada akhirnya dia terjatuh di atas tempat tidur membuat Elle pusing jadinya. Bagaimanapun dia tidak ingin luluh dan menolong Jarvis saat ada sesuatu yang terjadi padanya, tapi tetap saja dia tidak bisa mengabaikannya karena ranjang yang di tiduri Jarvis adalah ranjang yang biasa ia gunakan, jadi sangat tidak suka saja kalau sampai ada orang asing yang berbaring di tempat tidurnya.


" Keluarlah, Jarvis! Aku tidak ingin memaki mu terus, bagaimanapun pekerjaanku sebagai pelayan rumah mu sangat melelahkan, jadi jangan membuang energi ku lagi. " Ucap Elle tapi dia sama sekali ga menyentuh Jarvis sedikitpun, jarak berdirinya juga lumayan jauh karena Elle takut nantinya Jarvis akan membuat ulah dan menyakitinya.


Masih tak bereaksi, Elle tentu saja ingin mencoba lagi agar Jarvis bangun dan pindah dari sana. Tapi Jarvis mengingat dan berucap membuat Elle mengernyitkan dahinya karena merasa begitu bingung.


" Kenapa kau harus melakukanya? Aku juga tidak ingin berbuat kasar, tapi kenapa harus kau? Aku juga tersiksa, tapi aku tidak bisa kalau tidak menyiksamu. Kau tidak boleh menyukai pria lain, kau harus tetap berada disini agar aku bisa merasa tenang karena aku harus tetap membuatmu tersiksa sampai aku merasa bosan untuk memperlakukan mu dengan buruk. "


Elle terdiam, sebenarnya Kesalahan apa dan alasan apa sebenarnya sehingga dia terus merasa tersakiti begitu kuat biasa seperti ini? Luka batin untuk apa yang di lakukan Jarvis masih jelas begitu membekas, bahkan setiap harinya juga terluka tanpa obat dan terus mendapatkan luka baru. Ibu mertuanya, bahkan adik iparnya juga seperti tak memiliki perasaan dalam memperlakukannya.


Setelah mengatakan itu Elle keluar dari kamarnya, dia mengetuk pintu kamar Vivian untuk memberitahu bahwa Jarvis berada di kamarnya sedang mabuk parah dan tidak sadar diri.


" Kau pasti memaksanya untuk masuk ke kamar mu kan?! " Begitulah kalimat yang Elle dapatkan begitu memberi tahu kedatangannya. Yah, mau bagaimana lagi? Karena kalau Jarvis sadar dia tidak akan mungkin masuk ke dalam kamar Elle apalagi saat berbaring di tempat tidur Elle.


Elle tersenyum miring, tapi sebelumnya dia memutar bola matanya dengan tatapan jengah. Benar-benar sudah tidak tertolong lagi cara berpikir manusia semacam Vivian itu.


" Aku tidak begitu menggilai Jarvis, jadi aku tidak akan Sudi menjebak Jarvis masuk ke dalam kamarku. Kalaupun aku ingin melakukan apa yang kau katakan barusan, aku bisa saja melakukannya dan merahasiakan kalau Jarvis datang ke kamarku kan? Jangan terlalu menggunakan ego saat bicara, itu semua benar-benar membuatmu terkesan jauh lebih bodoh dari sebelumnya. "


" Diam kau! Jangan pikir dengan tampang mu kau bisa membuat Jarvis jatuh cinta padamu ya?! Aku adalah satu-satunya wanita untuk Jarvis, jadi berhentilah mengganggu kamu, lakukan saja apa yang kami perintahkan! "


Elle terkekeh melihat betapa bersemangatnya Vivian untuk mengikat Jarvis seperti takut binatang peliharaannya akan meninggalkannya.


" Aku benar-benar tidak heran kalau kalian adalah pasangan suami istri yang sempurna. Satunya bodoh dan suka sekali main tuduh saja. Ah, ada lagi! Kau juga sangat kreatif dalam membuat rencana yang bodoh. Satu lagi, pria yang gila akan hal tidak pasti, meyakini apa yang di pikirkan logikanya membuat akal sehatnya tak bisa membedakan mana yang lantas untuk di percayai dan tidaknya. "


" Kau terlalu sok pintar dan sok berani sekali, Elle! Aku benar-benar akan membuatmu di hukum parah karena hal ini! "


Elle membuang nafasnya.


" Sudah, bawa keluar priamu itu dari sini! Ah, satu lagi, tolong jangan biarkan priamu masuk lagi ke kamar saat dia mabuk, takutnya dia akan menunjukan betapa sedihnya dia, lalu aku merasa kasihan dan pada akhirnya kita berbagi beban dengan perasaan yang sama lalu berakhir di atas tempat tidur. " Elle mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman.


" Elle! Tutup mulutmu! "


Bersambung.