
" Aku sengaja melakukanya, aku membencimu, membenci perlakuan Ibumu, adikmu, Vivian, aku sangat membenci kalian semua hingga setiap kali melihat kalian, apalagi saat kalian terlihat bahagia, aku selalu memiliki fantasi untuk menghancurkan kalian semua. Aku bahkan pernah memiliki niat untuk membakar kalian hidup-hidup saat aku memegang korek api. Aku ingin menikam kalian berkali-kali saat aku memegang pisau dapur, setiap yang aku lakukan aku selalu berkeinginan semacam itu. Aku tidak pernah merasa aman, aku gelisah pagi siang dan malam. Aku lelah, lelah sekali sampai aku memiliki firasat bahwa aku mulai memiliki gejala penyakit mental. Maka dari itu, aku ingin mengakhirinya, aku ingin mengakhirinya dengan baik. "
Jarvis terdiam mendengar kalimat panjang itu keluar dari bibir Elle dengan air mata yang menghiasi wajahnya. Hari ini, adalah hari dimana Jarvis akhirnya bisa bebas bersyarat dan juga karena uang jaminan. Dua hari yang dia habiskan di penjara benar-benar hanya dia nikmati sendiri kecuali saat asisten sekretaris nya datang. Padahal selama di hari itu Jarvis memiliki harapan agar walaupun cuma sebentar Elle akan datang untuk melihat keadaannya. Yah, memang ada sih yang ingin menemuinya, tapi Jarvis menolak karena dia adalah Vivian.
Sebenarnya Jarvis berharap Elle akan menyambut kedatangannya dengan senyumnya meski harus berpura-pura juga cukup mampu membuatnya merasa lebih baik, tapi belum lama sampai dia langsung masuk ke dalam kamar, Elle sedang terdiam dengan melamun hingga tak menyadari kedatanganya. Begitu dia melihat Jarvis di kamarnya, Elle menangis sejadi-jadinya membuat Jarvis kebingungan. Sungguh sulit karena Jarvis mulai tidak bisa membedakan apa yang di lakukan Elle itu akting atau bukan karena selama ini Elle membuat segala ekspresi nya seperti nyata.
Jarvis memeluk tubuh Elle, memintanya untuk tenang, tapi begitu tenang kalimat itu lah yang keluar dari bibir Elle. Mengakhiri? Apakah ini akhirnya Elle meminta untuk bercerai?
" Aku akan pelan-pelan memperbaiki semuanya, jadi tolong jangan mengatakan kata mengakhiri, itu benar-benar tidak nyaman untuk di dengar. "
Elle menyeka air matanya. Sekarang dia benar-benar mulai merasa lega setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan, jadi kalau Elle membicarakan lebih banyak sekarang ini, dia benar-benar memiliki keberanian yang cukup untuknya.
" Jarvis, jawablah pertanyaan ku ini, aku benar-benar ingi tau apa sebabnya hingga semua ini bisa terjadi. Tolong jangan berbohong, aku benar-benar meminta padamu untuk menjawab dengan jujur, dan biarkan aku mendapatkan apa yang sesungguhnya menjadikan alasan sampai seperti ini. Kenapa kau dan keluargamu, menyiksa ku, katakan kenapa kalian melakukan itu? Kenapa kau pernah mengatakan jika air mataku adalah kebahagiaan mu, tolong jawab yang sejujurnya, Jarvis. "
Jarvis terdiam sebentar, akhirnya ada juga masanya dia menerima pertanyaan ini dari Elle. Kalau saja dulu sebelum dia mengetahui kebenarannya, mungkin Jarvis bisa menjawab pertanyaan itu dengan tegas dan juga percaya diri serta tatapan kejam untuk menghakimi. Tapi, setelah semua terungkap Jarvis benar-benar merasa malu sekali karena kurangnya ketelitian dalam menyelidiki kasus Fredon dia jadi memiliki dugaan sendiri yang pada akhirnya membuat Elle menderita sekali.
" Aku ingin menceritakan semuanya padamu, tapi masalahnya aku sendiri saja merasa amat malu, aku tidak tahu seberapa besar kebencian yang akan aku dapatkan kalau kau juga mengetahuinya. "
" Bukankah aku berhak mengetahuinya? " Elle bertanya dengan tatapan yang begitu menyedihkan membuat Jarvis seolah tak memiliki pilihan lain. Mungkin memang benar pada akhirnya kebencian yang akan dia terima dari Elle semakin bertambah besar, tapi jika Jarvis terus menyimpannya semua juga akan menjadi salah paham sampai akhir dan sulit menyembunyikan sesuatu dengan kebohongan karena pada akhirnya kebohongan kebohongan lain akan muncul dan membuat suasana menjadi semakin runyam.
" Fredon, dia adalah adik ku yang satu sekolahan dengan mu setelah dia di pindahkan dari sekolah sebelumnya. " Jarvis menceritakan dengan detail semua permasalannya, mulai dari bagaimana dia bisa menduga bahwa Elle penyebab Fredon bunuh diri, lalu perjalanan satu tahun untuk mendapatkan hati Elle, menikahi Elle, penyiksaan demi penyiksaan hingga pada akhirnya kebenaran terungkap secara tidak sengaja.
" Maaf, aku minta maaf karena tidak berani mengatakan padamu, aku takut sekali kau memaksa untuk bercerai kalau kau tahu kebenaran ini. "
Elle terdiam dengan wajah yang masih sangat terkejut, tubuhnya gemetar hebat mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut Jarvis. Sungguh dia tidak ingin percaya, tapi pada akhirnya semua bukti memang menjelaskan benar bahwa apa yang Jarvis ucapkan adalah benar.
" Jadi, baik kau dan juga adikmu, kalian berdua benar-benar bajingan. Kalian berdua tidak punya hati, kalian keterlaluan, aku, aku, aku, salah apa? Kenapa, kenapa aku menjadi target kalian berdua? Aku bahkan tidak pernah melakukan kesalahan apapun terhadap kalian, kenapa? " Elle sudah gak mampu lagi membendung air matanya, iya dia adalah wanita yang ada kalanya dia rapuh dan muda sekali hatinya hancur. Jadi menangis buka berarti lemah, menangis hanyalah sebuah tindakan untuk menunjukkan bahwa dia terluka, tapi bukan berarti dia tak bisa bangkit dari lubang luka itu.
Jarvis memegangi kedua kaki Elle, dia sendiri juga tidak bisa menahan air matanya. Mungkin perasaan hancurnya tidak bisa di samakan dengan perasaan Elle saat ini, tapi demi apapun dia benar-benar tidak baik-baik saja dan perasaan bersalah itu benar-benar seperti samurai panjang yang menembus dada dan menghancurkan jantungnya.
" Tolong maafkan aku, tolong berikan aku sekali saja untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak akan marah jika kau ingin membalas, aku tidak akan mengeluh atau menolak saat kau memukul ku atau apapun itu. Hanya tolong jangan meminta berpisah, aku tidak bisa memenuhinya. "
" Lepaskan aku, Jarvis! Bagaimana bisa kau mengatakan itu setelah semua ini?! Aku hampir gila setiap hari, aku seperti tercekik sesuatu yang entah apa, aku hampir tak pernah bisa tidur nyenyak, aku selalu bermimpi buruk, semua itu karena mu! Berani sekali kau mengatakan untuk jangan meminta berpisah?! Kau benar-benar tidak tahu malu! Bajingan! Brengsek! Kenapa kau tidak mati saja bersama dengan Fredon! " Elle terus berbicara sembari memukuli wajah Jarvis, dadanya, juga punggungnya, persis seperti yang Jarvis katakan, dia tetap menerima semua itu tak mengaduh, tak menolak.
" Aku salah, maaf. " Hanya itu saja kalimat yang bisa Jarvis katakan, selebihnya mau dia di tendang, di tusuk pisau, di pukul kepalanya dengan benda berat, atau bahkan di dorong dari teras lantai dua rumah itu dia benar-benar tidak akan menolak asalkan Elle bisa melampiaskan rasa marah kepadanya.
Bersambung.