Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 40 : Ujian Kesabaran



Jarvis terdiam sebentar, dia berjalan mendekati Elle dnegan tangan terangkat membuat Elle terkejut dan mengangkat tangannya pula untuk melindungi wajahnya.


Sejenak Jarvis terdiam melihat Elle yang tengah memposisikan diri untuk melindungi kepalanya. Apakah Elle begitu takut padanya? Apakah dia benar-benar sudah separah itu di benak Elle? Jarvis membatin di dalam hati dengan perasaan pilu.


Merasa tak mendapatkan pukulan apapun, Elle menaikkan pasangannya menatap Jarvis yang juga tengah menatapnya. Tentu saja Elle bingung, kenapa tidak di pukul? Apakah Jarvis sudah mulai lelah terus memukuli dirinya?


" Aku akan mengantarmu. " Ucap Jarvis lalu menjauhkan tubuhnya setelah dia mendapatkan kunci mobil yang tergantung di di dinding tepat di belakang Elle biasa kunci mobil itu di letakkan.


Elle mengangguk, sungguh dia memang tidak menyangka kalau pada akhirnya Jarvis malah memiliki nia untuk mengantarnya pergi. Entah apa alasannya, sekarang Elle benar-benar tidak bisa dan tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Segera Elle berjalan cepat untuk keluar, di susul Jarvis yang terlihat santai tapi mampu mengejar langkah Elle.


Vivian terperangah tak percaya dengan apa yang dia lihat, dia bukan masih berada di posisi yang sama, duduk di atas lantai dengan segala perasaan hancur. Tatapan Jarvis tadi, tatapan itu tidak seperti biasanya, Jarvis seperti telah kehilangan keinginan untuk menyiksa dan menyakiti Elle. Kenapa bisa jadi seperti ini? Bahkan Vivian juga bisa merasakan tatapan pilu seperti orang yang bisa merasakan kesakitan, kesedihan yang di rasakan oleh orang yang sedang ia tatap.


" Kakak itu sedang kenapa sih, Bu? " Heran Wendy menatap kepergian Jarvis. Tentu lah bukan hanya Vivian yang merasakan tatapan Jarvis begitu redup saat menatap Elle tadi, tapi apa alasannya tentu saja Wendy sama sekali tidak tahu. Begitu pun Ibu Diana, dia benar-benar tidak menyukai apa yang di lakukan Jarvis kali ini.


" Kakak mu mungkin saja merasa kasihan, bagaimanapun kau dan dia juga pernah kehilangan seorang Ayah, juga Fredon. Anggap saja ini memang adalah alasan yang benar. " Ucap Diana dengan wajah datar.


Wendy mengangguk paham meski dia masih enggan untuk rela, sementara Vivian yang sudah bangkit dari posisinya seorang diri hanya bisa menatap Jarvis dengan tatapan tajam dan menyelidik. Iya, dia paham kalau Jarvis memang membenci dan memiliki keinginan balas dendam yang tinggi kepada Elle, tapi Vivian juga tahu benar dan juga merasakan bahwa Jarvis memiliki perasaan lain kepada Elle. Mungkin perduli, tapi bukankah aneh jika orang hanya merasakan perduli saat dia tidak memiliki suatu rasa yang mendorongnya untuk perduli?


Grep!


Vivian mengepalkan kedua tangannya, di dalam hati dia membatin bahwa ini tidak bisa dia biarkan dan dia harus segera bertindak cepat untuk menyingkirkan Elle. Dia sendiri memiliki masalah rahim yang membuatnya sulit hamil, jadi mau tidak mau dia memang harus fokus dengan Elle dulu.


Di dalam perjalanan Jarvis dan Elle sama sekali tidak berbicara sepatah katapun, Elle sibuk dengan terus menghubungi adiknya yang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit dimana Ayahnya mendapatkan perawatan, Elle segera berlari menuju ruangan di mana Ayahnya tengah di rawat setelah menanyakannya ke resepsionis.


" Pe, bagaimana keadaan Ayah? " Tanya Elle dengan nafas yang tersengal-sengal karena terus berlari.


Penelope yang bangkit dari duduknya dan tengah menangis tadinya ingin langsung memeluk kakaknya, tapi saat melihat perban di leher Elle, luka sayatan di lengan Elle juga, dia tersentak dan membeku dengan segala pemikirannya. Apa yang terjadi dengan kakaknya? Kenapa luka di tubuh kakaknya sangat tidak wajar? Terjatuh? Bukankah terlaku bodoh jika menganggapnya seperti itu?


Penelope beralih menatap Jarvis yang baru saja tiba dengan tatapan tak biasa, sungguh pada awalnya sulit bagi Jarvis untuk mengartikan tatapan Penelope, tapi saat melihat penampilan Elle hari itu, dia benar-benar paham sekali apa yang membuat Penelope terdiam dengan tatapan semacam itu.


Jarvis memilih untuk diam dan sebentar berpikir bagaimana caranya dia akan menjelaskan kepada Penelope dan juga Ayah mertuanya mengenai kondisi Elle sekarang ini.


" Pe, bagaimana keadaan Ayah? "


" Ayah, Dokter belum keluar dari ruangan. " Jawab Penelope dengan tubuh gemetar hebat. Jujur saja keadaan Ayah ya sudah cukup mengguncang dirinya, di tambah melihat kakak yang sudah dia anggap sebagai Ibunya juga memiliki luka di tubuh yang tidak wajar dia benar-benar merasa gagal menjadi sekarang adik. Dia menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa membantu kakaknya, juga melindungi kakaknya hingga kakak nya memiliki luka aneh semacam itu.


Elle terdiam sebentar, dia duduk di kursi tunggu dengan tatapan pilu. Sebenarnya kenapa dia harus mengalami ini semua? Sungguh ini sangat menyakitkan, tapi dia masih harus bertahan dengan baik bagaimanapun caranya. Bisa saja dia menceritakan semua yang terjadi padanya kepada Ayah juga Penelope, tapi yang tidak Elle inginkan adalah melihat rasa bersalah di wajah Ayah dan Penelope yang pasti akan sangat menyakitkan.


Tatapan Penelope tadi jelas dia menyadari kalau luka di bagian tubuhnya telah mengundang kecurigaan. Jadi sekarang Elle tengah berpikir keras, bagaimana dia akan menjelaskan kepada Ayah dan juga adiknya?


Beberapa saat kemudian, Dokter keluar setelah selesai memeriksa dan menangani Ayahnya Elle. Dengan segera Elle juga Penelope bangkit untuk menanyakan tentang kondisi Ayahnya.


" Pasien mengalami serangan jantung mendadak, bisa di katakan beruntung karena masih bisa tertolong. Tapi di kemudian hari tolong perhatikan pola makan, usahakan makanan yang sehat dan untuk apa-apa saja kita bisa bicarakan nanti di ruangan saya. "


" Kalau begitu bisa kita bicara sekarang? " Jarvis menyodorkan diri membuat Elle dan Penelope menoleh kaget ke arahnya, terutama Elle. Dari cara Jarvis berucap dan wajah khawatir yang ia tunjukan tidak seperti sedang berpura-pura, tapi untuk apa Jarvis melakukan itu? Toh bagi Jarvis melihat Elle bersedih adalah kebahagiaan bukan?


Elle membulatkan matanya karena memiliki dugaan yang tidak biasa.


Apakah dia ingin melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa Ayahku nantinya?


" Aku akan ikut! "


Seperti yang diminta Elle, sekarang Jarvis dan Elle sedang berada di ruangan Dokter untuk mendengarkan semua hal yang harus di lakukan agar mencegah serangan jantung mendadak ini terjadi lagi, mengenai makanan juga, lalu penanganan apa saja yang harus di lakukan saat serangan jantung mendadak ini terjadi lagi. Dengan seksama Jarvis juga Elle mendengarkan semua saran yang di berikan Dokter, juga sudah mengambil resep obat yang akan di berikan kepada Ayahnya Elle nanti.


" Aku akan pesan kamar hotel di dekat sini, kau istirahat saja di sana, boleh ajak adikmu dan aku akan menjaga Ayahmu. "


Ucapan Jarvis barusan benar-benar membuat Elle yakin dengan dugaannya sendiri.


" Apa yang ingin kau lakukan pada Ayahku? Kenapa aku dan Penelope harus menginap di hotel? " Elle bertanya dengan wajah yang terkejut sendiri.


Bersambung.