
Elle terdiam memandangi undangan untuk acara lelang yang biasa di adakan oleh perusahaan milik keluarga Johan di setiap tahunnya. Sudah pasti Johan yang merekomendasikan untuk mengundang dirinya, tapi bukankah sudah jelas kalau akan ada Jarvis juga? Biarpun Johan memiliki masalah dengan Jarvis, tapi keluarga Johan memang sangat dekat dengan Jarvis karena mereka beberapa kali juga pernah bekerja sama dan saling menghasilkan pendapatan yang terbilang tinggi.
Suara pesan masuk membuat Elle menoleh ke arahnya, dengan segera dia meraih ponsel lalu membaca pesan yang masuk kepadanya. Dari Bryant, pria itu memberikan kabar bahwa dia mendapatkan undangan untuk menghadiri acara lelang, dan dia mengajak Elle sebagai partner untuknya datang. Tidak perlu menolak, toh nyatanya memang dia akan datang tapi dengan undangannya sendiri agar tidak menimbulkan masalah baru untuknya nanti.
" Baru kali ini mendapatkan undangan semacam ini, tapi kenapa juga begitu cepat seperti terburu-buru? " Gumam Elle menjauhkan undangan itu dari tangannya, Besok adalah waktunya, jadi dia yang sudah semalaman tidak tidur akhirnya merasa ngantuk juga dan memutuskan untuk menunda sarapan dan tidur.
Eliza menutup kembali pintu kamar Elle saat dia mendapati Elle tengah tertidur pulas, niatnya adalah untuk meminta Elle segera sarapan, tapi karena Eliza yakin benar Elle kurang tidur selama pindah ke rumah itu, Eliza tentu tak tega untuk membangunkan Elle. Masalah makanan bisa dia hangatkan saat Elle ingin memakannya nanti, kalaupun tidak Eliza hanya tinggal memasak lagi karena kebetulan Elle juga bukan pemilih makanan seperti Vivian atau Nyonya kaya lainnya.
Begitu dia ingin kembali ke dapur, dia mendengar suara pagar rumah di buka, lalu buru-buru dia melihat siapa yang datang untuk berjaga-jaga kalau orang yang datang kesana bukanlah orang yang di harapkan. Rupanya itu adalah Jarvis, jadi dia tidak mampu mengatakan apapun selain menyambutnya dengan sopan.
" Selamat pagi, Tuan? " Sapa Eliza begitu Jarvis masuk ke dalam rumah.
" Pagi, dimana Elle? " Tanya Jarvis sembari mengedarkan pandangan matanya mencari orang yah dia sebut namanya tadi.
" Nona Elle sedang tidur, Tuan. "
" Tidur? Apa dia sedang sakit? " Tanya Jarvis karena tidak biasanya Elle masih tidur di jam sekarang.
Eliza tadinya ingin mengiyakan saja, tapi dia khawatir kalau nanti Jarvis membangunkan Elle dan membuat Elle terbangun, jadi mau tidak mau dia sedikit lancang dan mengatakan apa yang seperti ia ketahui dan rasakan mengenai Elle.
" Tuan, sebenarnya Nona Elle sedang banyak pikiran dan terlihat sangat tertekan sekali belakangan ini. Dia pasti sulit tidur saat malam, jadi ketika saya membuka pintu dan mendapati Nona sedang tidur, saya tidak berani membangunkannya. Nona Elle sudah tidak menggunakan baju tidur, dia sudah rapih, itu berarti dia tidak bisa tidur semalaman. "
Jarvis terdiam, sebenarnya Elle sering tidak bisa tidur apakah sejak dia menikahi Elle, membawanya ke rumah dan menyiksanya atau bagaimana? Jika benar begitu, tentu saja itu adalah hal yang lumrah bagi Elle karena jelas semua yang terjadi padanya bisa menimbulkan trauma meski tak begitu dia anggap perlu untuk di pikirkan serius.
" Baiklah, aku akan masuk ke kamar dan melihat bagiamana keadaannya secara langsung. Aku akan pergi setelahnya tanpa mengganggu, jadi kau lanjutkan saja pekerjaan mu. " Ucap Jarvis kepada Eliza dan langsung di angguki oleh Eliza.
" Kau belikan coklat atau makanan manis lainnya ya? Biasanya makanan manis atau minuman manis bisa sedikit mengurangi penat dan melegakan pikiran. " Ucap Jarvis kepada Eliza lalu menyerahkan beberapa lembar uang kepadanya.
" Usahakan sebelum Elle bangun sudah tersedia ya? "
'' Baik, Tuan. "
Di luar gerbang rumah yang di tinggali Elle dan juga Eliza, Vivian kini tengah mencengkram kemudi mobilnya dengan perasaan marah dan juga cemburu. Dia sengaja mengikuti Jarvis karena merasa begitu curiga dengan Jarvis yang lagi tadi pergi dai rumah lebih cepat dari biasanya, bahkan meninggalkan sarapan begitu saja.
" Jadi di sini ya Elle tinggal? " Vivian semakin menekan cengkeramnya hingga tangannya gemetar hebat. Di dalam hati dia benar-benar begitu memaki kesal tak terima dengan apa yang di lakukan Jarvis belakangan ini. Tidak kah Jarvis bisa melihat seberapa dia berkorban hanya untuk kasih sayang seorang Jarvis? Dia sudah menderita begitu lama, jadi sebisa mungkin Vivian akan menggunakan cara apapun juga agar tetap bisa hidup nyaman bersama dengan Jarvis, dan lagi pula dia memang benar-benar mencintai Jarvis.
" Elle, kau selama ini membodihi ku bukan? Memintaku untuk bersikap anggun dan tenang, tapi nyatanya itu semua adalah untuk kepentingan dirimu sendiri dan pada akhirnya kau mencuri kesempatan dan bergerak meluluhkan hati Jarvis. Ini tidak boleh terjadi, aku harus melakukan sesuatu dengan segera sebelum semuanya terlambat, sebelum perasaan Jarvis bertambah besar untuk Elle. "
Vivian menekan tombol starter, bagaimanapun dia tidak boleh di ketahui oleh Jarvis kalau dia mengikutinya, jadi sekarang dia benar-benar harus segera pergi.
Sebenarnya Vivian sadar jika perubahan Jarvis semakin jelas saat Jarvis mengetahui tentang kehamilan anggur yang terjadi padanya. Memang iya benar sebelum nya juga Jarvis hanya memperlakukannya dengan mesra penuh perhatian, tapi tujuannya adalah untuk membuat Elle sakit hati, tapi sekarang Jarvis bahkan tak sedetikpun ingin berpura-pura itu artinya Vivian sudah mulai tidak dia anggap di butuhkan lagi bukan? Ini adalah fakta yang benar-benar di takutkan oleh Vivian.
***
Bryant menjauhkan tumpukan dokumen, juga menjauhkan laptopnya karena tak bisa konsentrasi sama sekali. Dia, ah maksud nya adalah kepalanya benar-benar di penuhi oleh Elle, Elle, Elle, Elle, Elle, dan Elle, Elle, lagi, seperti itu terus menerus. Kalau di tanya sejak kapan perasaan itu timbul, maka sejak pertama kali melihat Elle, di tambah cara Elle menatapnya dengan dingin tidak seperti wanita lainnya benar-benar membuatnya merasa semakin jatuh hati.
" Ah! Kenapa sih pesan ku tidak di balas? Kalau dia tidak mau jadi pasanganku menghadiri acara lelang kan tinggal bilang saja. Aku itu mengirim pesan memberitahu tentang undangan ya untuk bosa basi saja. Aku ingin terus berkirim pesan denganmu, tapi kau kan sangat dingin sekali. Kalau aku tidak mengirim pesan, kau tidak akan mengirim pesan. Hah! Kadang aku mengirim lebih dari sepuluh pesan kau hanya mengirimkan satu pesan saja, lebih sering balasannya kalau tidak kata, iya, baik, tidak, terimakasih, dan maaf. Kalau begini terus lama-lama aku bisa mati berdiri tahu tidak? " Kesal Bryant kepada photo Elle yang ia simpan di ponselnya dan ia gunakan sebagai wallpaper.
Bersambung.