Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 100 ( Final Episode )



Sepanjang acara, Jarvis terus menggenggam tangan Elle dan pemandangan ini cukup membuat Bryant terus merasa sakit dan kecewa. Sementara seorang wanita yang menggunakan gaun kebesaran berwarna hitam, kaca mata hitam, memakai wig, polesan lipstik yang merah menyala, dia terus menatap keduanya dengan tatapan marah, juga cemburu.


Tatapan Jarvis yang begitu hangat, lembut, perhatian saat menatap Elle sudah cukup menjelaskan bagaimana perasaan Jarvis untuk Elle, tapi sayangnya, wanita dengan dandanan tidak biasa yang tak lain adalah Vivian, dia masih tidak menerima dan tidak akan rela jika Elle bahagia sementara dia begitu menderita karena kehilangan semua hal.


" Dasar brengsek! Kenapa kau bisa tersenyum seperti itu di saat aku begitu menderita, hah?! " Gumam Vivian menatap marah Elle yang terus tersenyum, jarak Elle dengan Jarvis yang begitu dekat juga dia rasa tidak pantas untuk dia lihat.


" Kalau aku tidak bisa mendapatkan Jarvis, kau juga tidak boleh. Kau harus mati, Elle. Karena kalau kau mati, aku juga akan mati dengan damai. " Vivian menajamkan tatapannya di balik kaca mata hitam yang ia gunakan. Dia menyentuh senapan yang tersimpan di salah satu kakinya, juga tertutupi sempurna oleh gaun kebesaran yang melekat di tubuhnya.


Tiba waktunya untuk bersulang, Jarvis mengangkat tinggi-tinggi gelas yang ada di tangannya, begitu juga dengan Elle yang mengikuti aba-aba dari Jarvis, lalu saling berhadapan, menyilangkan lengan dan meminum minuman yang ada di gelas mereka.


" Dasar tidak tahu diri! Beraninya kau bahagia di atas penderitaan ku! "


Semua orang menoleh ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya mereka semua karena ternyata Vivian telah mengarahkan senapan itu ke arah Elle.


" Awas! " Teriak Bryant dan juga Penelope bersamaan karena tahu benar kalau tujuan senapan itu adalah untuk Elle.


Jarvis langsung membuang gelasnya, meraih tubuh Elle dan dia tutupi dengan tubuhnya.


Dor!


" Jarvis! " Teriak Ibu Diana ketika satu tembakan mengenai tubuh putranya, tentulah dia terkejut setengah mati, lalu segera dia berlari karena ingin melindungi Jarvis seandainya ada serangan berikutnya. Tapi baru satu langkah kakinya bergerak, satu tembakan, dan tiga tembakan sudah mengenai tubuh Jarvis.


Elle terdiam dengan wajah shock, dia masih berada di pelukan Jarvis yang begitu erat, sangat erat sehingga dia tidak bisa menjauh satu sentimeter pun dari tubuh Jarvis.


Bruk!


Bryant langsung menjatuhkan tubuh Vivian dengan posisi tengkurap lalu menahannya hingga beberapa orang yang berjaga datang kesana untuk menahan Vivian.


" Jarvis...... " Ucap Elle sembari meneteskan air mata, sementara tubuhnya begitu gemetaran sampai kakinya yang berpijak di lantai tak dia rasakan sama sekali.


Jarvis mengurai pelukannya, dia tersenyum menatap Elle dan mengusap air matanya yang jatuh.


" Syukurlah kau baik-baik saja. "


" Jarvis! " Teriakan Ibu Diana itu mengiringi tubuh Jarvis yang terjatuh dan untunglah semua orang segera mendekat untuk menahan tubuh Jarvis.


" Tidak, tidak, tidak! Katakan ini bohong! Katakan kalau ini mimpi! Ayo cepat katakan! Bangunkan aku! Siapapun bangunkan aku! Aku tidak mau mimpi yang seperti ini, aku tidak mau mimpi bajingan ini! Tolong bangunkan aku! " Ucap Elle yang kini sudah dalam posisi memangku kepala Jarvis sembari menangis histeris. Ibu Diana juga sama halnya, dia terus berdoa agar yang terjadi hari ini adalah mimpi, dia ingin bangun dari mimpi buruk yang menyakitkan ini.


Jarvis tersenyum meski darah yang keluar dari punggungnya benar-benar banyak sekali dan dia juga mulai terlihat pucat. Dia meraih tangan Elle, menggenggamnya erat-erat dan masih tersenyum karena dia tidak ingin melihat Elle terlalu bersedih. Sementara Bryant, dia sudah menghubungi ambulans dari rumah sakit terdekat, dan dia juga mencoba melakukan pertolongan darurat agar Jarvis tak kehabisan darah.


" Elle, sebenarnya ada banyak sekali yang ingin aku lakukan bersama mu. Aku ingin kita banyak bicara mengenai kehidupan rumah tangga kita di setiap harinya. Membayangkan kita memiliki anak aku bahkan terus tersenyum seperti orang gila. Aku akan melihat mu hidup bahagia, jadi jangan kecewakan aku. "


" Tutup mulut mu, bajingan! Berani sekali kau mengatakan kalimat semacam itu?! Kau tidak boleh meninggalkan aku, kau tidak boleh membiarkan aku hidup sendiri! Kau sudah memberikan banyak sumpah janji, bagaimana kau malah ingin kabur?! Kau, tidak boleh pergi! Kalau kau pergi, aku juga tidak akan segan-segan mengutuk mu sampai ke dunia lain! " Ucap Elle sembari menahan tangis dan juga marah. Iya, dia marah karena kalimat yang di ucapkan Jarvis seperti kalimat terakhir sebelum dia pergi untuk selamanya, dan itu adalah hal yang menakutkan tentunya untuk Elle.


Jarvis mencoba sekuat tenaga untuk mempertahankan kesadarannya karena ada hal penting yang ingin dia katakan kepada Elle.


" Elle, aku, benar-benar sangat mencintai mu. Selama aku hidup aku tidak pernah merasakan perasaan bahagia yang kadang membuatku merasa gugup, malu, bahkan berdebar hanya dengan menyebut nama mu. Aku tidak pernah salah mengenali perasaanku, aku melakukan semua ini bukan untuk menebus rasa bersalah ku, sungguh aku mencintai mu. "


Elle semakin menangis sejadi-jadinya. Tahu, sekarang Elle benar-benar semakin yakin betapa besarnya perasaan cinta Jarvis untuknya. Meski begitu banyak luka yang telah dia berikan, nyatanya cintanya bahkan tak sebanding dengan luka yang dia berikan.


" Diam, diam, tolong diam lah, Jarvis! Aku tidak ingin mendengar apapun, aku tidak ingin mendengarnya, kau bisa mengatakan padaku saat kau pulih nanti, jadi jangan bicara apapun. " Ucap Elle yang tentunya masih terus menangis, dan dia memeluk wajah Jarvis dengan tubuhnya yang gemetar.


" Ambulan sudah datang! Cepat pindahkan dia! " Ucap Bryant lalu dengan segera meminta untuk semua orang yang tidak ada hubungannya segera menjauh untuk mempermudah pemindahan Jarvis ke ambulans.


" Aku sudah tidak bisa bertahan, jadi jangan membuang waktuku, Bryant. " Ucap Jarvis dengan nada bicara yang semakin lemah.


Bryant menyeka air matanya, dia tetap membantu Jarvis untuk di bawa ke ambulans.


" Tutup mulut mu, bodoh! Untuk apa memiliki tubuh tinggi besar seperti ini kalau tidak bisa menahan tiga peluru? "


Begitu sampai di ambulans, Jarvis langsung di pasangi alat bantu pernafasan, dan juga penanganan lainnya, tapi sayangnya tangan yang tadi menggenggam tangan Elle semakin mengendur seperti semakin tidak sadar.


" Tidak, tidak, Jarvis! "


" Jangan bercanda! Tidak boleh terjadi sesuatu apapun padanya, lakukan sesuatu! " Pinta Ibu Diana yang tak sanggup lagi menahan tangis yang ingin pecah.


Elle mencoba menenangkan diri, dia menggenggam tangan Jarvis dengan kedua tangannya.


" Jarvis, aku mohon, aku mohon jangan pergi, berikan aku kesempatan untuk membuatmu bahagia. Tolong, jangan tinggalkan aku, tolong jangan biarkan aku menangisi kepergian mu setiap hari. Tolong jangan biarkan aku bersedih sepanjang hidupku, aku mohon..... "


Petugas medis dengan segera meraih alat kejut jantung begitu detak jantung Jarvis mulai tak lagi terdengar atau lemah sekali. Percobaan pertama, kedua, dan ketiga.


Satu tahun kemudian.


" Selamat ulang tahun, kak! " Ucap Penelope menyodorkan kue ulang tahun berikut lilin yang berangka dua puluh dua kepada Elle yang kala itu tengah duduk di taman menatap kedua anak anjingnya.


Elle terdiam, lalu menatap Penelope dengan tatapan dingin dan tajam.


" Kau tahu benar seberapa aku membenci hari ulah tahunku bukan? "


Penelope memaksakan senyumnya.


" Kak, tapi hari ulang tahun kakak kan tidak salah apa-apa. "


" Tutup mulutmu, Penelope! Jangan membicarakan hari ulang tahun lagi! "


Penelope terdiam dengan bibir merengut sebal.


" Kenapa harus marah seperti itu? Adikmu kan hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. " Sebuah lengan melingkar di tubuh Elle, lalu kecupan hangat begitu terasa di pipinya.


Elle menoleh dan tersenyum.


" Tapi aku masih trauma, Jarvis. "


" Trauma apa? Dari semalam kau terus mengomel, lihat nih bayi kita! Dia terus bergerak karena sebal mendengar omelanmu. " Jarvis mengusap perut Elle yang kini tengah membuncit karena kehamilannya yang sudah memasuki usia lima bulan.


" Dia bukan mengomel! dia itu sedang menyuarakan pendapatnya bahwa dia juga setuju dengan apa yang aku katakan. "


" Ibu hamil, berhentilah untuk menjadi cerewet! " Ucap Bryant yang juga datang bersama Ibu Diana, Wendy, dan ayahnya Elle.


" Kalian juga datang? " Tanya Elle terkejut.


" Tentu saja! Setiap ulang tahunmu kami akan datang, dan tidak akan membiarkan ulang tahunmu menjadi trauma seperti katamu! " Ucap Wendy bersemangat. Yah, selama menjalani perawatan di luar negeri Wendy juga banyak belajar tentang hidup sehingga perlahan dia mulai tumbuh dewasa dan memahami mana yang boleh dan mana yang tidak.


Elle tersenyum, lalu mengangguk setuju. Dia melingkarkan lengannya memeluk pinggang Jarvis yang juga memeluknya.


" Sayang, kedepannya cukup mereka saja yang datang saat aku ulang tahun oke? " Pinta Elle kepada Jarvis.


Jarvis mengangguk setuju, lalu mengusap wajah Elle dengan lembut.


" Tentu saja, sayang. "


Bryant menghela nafas, lalu tersenyum. Yah, pada akhirnya cinta memang tidak akan salah target.


Mengenai Vivian, wanita itu sukses di hukum penjara seumur hidup atas percobaan pembunuhan yang direncanakan secara sadar, pencurian uang, pemalsuan data, dan ada beberapa kasus yang menyusul entah apa Jarvis beserta keluarganya tak perduli lagi.


TAMAT


Halo kesayangan, terimakasih sudah mengikuti cerita yang jauh banget dari kata bagus juga banyak typonya. 😁


Terimakasih terutama buat yang selalu tinggalin like dan komentarnya, juga para readers setiaku yang selalu mengikuti ceritaku.


Nah, karena Holding The Heart sudah tamat, mampir yuk ke karya baruku " Dendam Si Gadis Penggoda " Di tunggu di sana ya......