Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 42 : Kebohongan Dan Niat



" Tidak mungkin! Fredon di besarkan dengan baik, dia ikut kelas etika dan mendapatkan peringkat pertama, jadi kau jangan bicara omong kosong! Kalau saja itu kau, Ibu masih bisa percaya. Tapi Fredon, anak baik dan polos itu tidak mungkin melakukan perbuatan gila semacam itu! "


Jarvis menelan mentah-mentah keinginanya untuk berucap menyampaikan apa yang dia ingin katakan. Sebenarnya untuk Jarvis sendiri dia sudah cukup terbiasa menjadi sosok yang di nomor duakan di dalam keluarga, semua itu berawal dari Fredon yang sering sekali jatuh sakit sehingga semua orang lebih mengutamakan Fredon. Kebiasaan itu rupanya terbawa hingga Fredon dewasa, bagi Ibu, kakek, serta Ayahnya juga Fredon tetaplah anak kecil yang penting selain untuk di jaga ketat.


Tidak masalah sebenarnya, hanya saja untuk seorang anak yang sudah melakukan segalanya demi perhatian keluarganya bukankah ini tidak adil?


" Kau jangan membuat orang lain membencimu, lakukan saja apa yang sudah kita rencanakan dari awal. " Ucap Ibu Diana lagi masih dengan wajah marahnya.


" Aku akan mengambil memori card di handycam milik Fredon yang sudah aku hancurkan karena aku syok luar biasa mengetahui adik kandungku sangat bajingan, nanti akan aku kirimkan ke Ibu, jadi tunggu saja dan berikan komentar Ibu nanti. Aku juga akan menyelediki ulang kematian Fredon, jadi jangan coba mengentikan ini, karena aku bisa menjadi sangat kasar saat aku dalam keadaan tertekan. "


Ibu Diana terdiam tak mampu mengatakan apa yang sebenarnya masih ingin dia bicarakan. Melihat tatapan mata Jarvis yang tajam, cara bicara yang dingin seperti itu cukup membuat seorang Ibu yang selama ini hanya melihat patuhnya Jarvis menjadi tak bisa berkata-kata. Sejujurnya dia sendiri pun kadang merasa cara memperlakukan Jarvis dan juga Fredon agak tidak adil, tapi kalau mengingat perjuangan Fredon saat kecil untuk berjuang hidup sementara Jarvis tumbuh menjadi sangat sehat, dia pikir Jarvis pasti akan terus seperti itu dan hidup dengan mudah karena dia lahir dengan kondisi yang sehat.


" Ibu, tadi Ibu agak keterlaluan. " Ucap Wendy saat Jarvis sudah menjauh dari mereka.


Ibu Diana mengusap wajahnya, dia menahan tangis karena menyesal luar biasa dengan apa yang baru saja dia katakan kepada Jarvis.


***


Elle terdiam saat menyadari tatapan penuh tanya yang di liputi rasa khawatir dari Penelope. Hingga detik ini dia masih belum tahu ingin menjawab apa jika Penelope bertanya, dia juga belum tahu bagaimana menghadapi Ayahnya jika di curiga nanti, tapi satu yang Elle yakini, dia akan baik-baik saja selama dia tenang dan tidak menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya.


Cukup lama Penelope terdiam, dia terus menatap penuh tanya menunggu kapan kakaknya akan menceritakan apa yang terjadi padanya. Tapi sayangnya, ini sudah tiga puluh menit tapi kakaknya masih saja diam dan menyibukkan diri dengan mengusap punggung tangan Ayahnya.


" Kak, berhentilah berpura-pura tidak tahu dan katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya, katakan apa yang membuat kakak mendapatkan luka seperti itu. " Penelope menyeka air matanya, sekarang dia benar-benar tahu kalau Elle pasti akan berbohong karena saat dia bertanya Elle sama sekali tak melihat ke arahnya. Yah, Elle adalah orang yang tidak akan bisa berbohong kepada Penelope dan juga Ayahnya, setiap kali dia berbohong dia tidak akan berani menatap kedua bola mata adik serta Ayahnya.


" Hanya kejadian kecil, tidak usah di ambil pusing. "


Penelope menutup mulutnya rapat-rapat karena tidak ingin suara tangisnya di dengar oleh Elle. Hancur? Iya dia benar-benar sangat hancur karena ternyata kakaknya memilih untuk berbohong. Tentu saja dia sangat paham kalau kakaknya berbohong pasti karena tidak ingin membuatnya khawatir ataupun Ayahnya khawatir. Sebenarnya mau sampai kapan kakaknya begitu mementingkan perasaan orang lain? Apakah perasaannya juga tidak penting?


" Kak, kenapa kakak memilih untuk berbohong? Tadinya aku tidak ingin mencari tahu alasan kakak berbohong karena pasti untuk menjaga perasaanku kan? Tolong kak, sekali ini saja biarkan aku menjadi adik yang baik untukmu, berbagilah duka kakak agar aku bisa tenang dan tidak menyesali hidupku yang tidak berguna sama sekali untukmu. " Ucap Penelope dengan air mata yang masih saja laju luruh membasahi pipinya.


" Belajarlah dengan baik, jadilah orang sukses yang bisa hidup dengan atau tidak adanya pria. Kakak tidak menceritakan apa yang terjadi padamu, tolong mengertilah dan berhenti untuk mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Kakak hidup dengan baik, jadi berhentilah bertanya lagi, fokus sekolah saja. "


Penelope mencengkram pinggiran sofa tempat dia duduk. Marah, dia benar-benar sangat marah karena sudah sampai di titik itupun kakaknya masih enggan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


" Kak! Kalau kakak masih ingin berbohong, aku benar-benar tidak mau kuliah! "


Elle tersentak karena ini adalah kali pertama Penelope berteriak, apalagi Ayahnya juga sedang sakit. Elle segera bangkit, mencengkram kedua pundak Penelope dan menatapnya dengan tajam.


" Baiklah, aku akan mengatakan padamu. Beberapa hari lalu aku di rampok saat sedang pulang berbelanja. Dia merasa kalung berlian dari leherku dan membuat kulit leherku terluka, dia menyayat lenganku untuk merebut gelang dan tas yang aku pegang! Aku sudah puas? Seberapa sakit saat aku mendapatkan luka ini apakah kau ingin tahu juga? Seberapa banyak darah yang keluar dan berapa lama aku pingsan setelahnya apa kau juga ingin tahu?! " Elle menggoyangkan tubuh Penelope dan mencengkram cukup kuat saat bertanya barusan, begitu dia melihat wajah Penelope dengan sadar dia baru tahu benar kalau dia sudah menyakiti adiknya.


" Maaf, kakak hanya terbawa suasana karena kau terus mencoba mengingatkan hari dimana aku tidak ingin mengingatnya. Kakak benar-benar sangat takut mengingat kejadian itu, jadi jangan bertanya lagi karena mengingatkan sama saja membuat kakak mu ketakutan dan merasakan lagi betapa mengerikannya hari itu. "


" Ma maaf..... " Penelope memeluk Elle sembari menangis, dan sekarang Elle sudah bisa tenang karena sudah yakin benar jika adiknya pasti sangat mempercayainya, mempercayai omong kosong yang dia katakan barusan.


Bohong! Kakak tidak pernah menggunakan perhiasan meski kakak memilikinya, kakak berbohong sampai seperti ini pasti kakak mengalami hal besar kan? Aku memang adikmu, tapi aku mengenalmu lebih baik di banding siapapun.


Elle mengusap kepala adiknya dengan lembut.


Maaf, kau hanya boleh menjadi gadis ceria seperti sebelumnya. Jangan memperdulikan kakakmu ini, kakakmu bisa menjaga diri dengan baik.


Bersambung.