
" Aku mendapatkan undangan dari Johan untuk menghadiri acara lelang amal yang biasa di adakan tiap tahun oleh keluarganya, aku ingin mengajakmu hanya saja aku tidak ingin kau dalam bahaya jadi tetaplah untuk berada di rumah. " Begitu yang di ucapkan Jarvis sebelum dia bersiap untuk memenuhi undangan itu. Jarvis tak mengiyakan, tapi juga tidak mengatakan sesuatu untuk menolak. Dia cukup paham kalau memang situasinya jelas tidak akan baik untuknya, tapi Elle juga tidak akan menyerah. Ibarat basah dia sudah basah sampai ke batas dada, jadi sekalian saja dia menenggelamkan tubuhnya hingga habis asalkan yang dia dapatkan juga sesuai dengan yang ia korbankan.
" Aku berangkat dulu, kau baik-baik dirumah. " Ucap Jarvis yang masih saja menghindari kontak mata dengan Elle, mungkin hanya beberapa kali saja dia berani menatap mata Elle, ayu bisa di bilang saat itu adalah saat dimana reflek saja.
" Sampai jumpa. " Elle melambaikan tangannya dengan senyum yang begitu merekah, tapi begitu Jarvis keluar dari kamar dan menutup pintunya, Elle benar-benar berwajah dingin berbaring terbalik dari beberapa detik yang lalu. Sudah, ini sudah cukup dan dia sangat lelah terus-menerus berakting di hadapan Jarvis.
Elle mengeluarkan ponselnya, menghubungi Kelie dan memintanya untuk lebih gencar lagi memeras Vivian. Kemarin Kelie sempat meminta lagi tambahan satu miliar, tapi karena Vivian terus mengabaikan dan memakinya, maka Kelie menaikkan menjadi tiga miliar. Sekarang Vivian pasti sedang sangat pusing, dan ini akan menjadi jalan bagi Elle untuk melihat hancurnya Vivian.
Setelah selesai menghubungi Kelie, sekarang Elle menghubungi Bryant untuk melangsungkan rencana selanjutnya.
" Kau sudah siap? " Tanya Elle setelah sambungan telepon untuk mereka berdua tersambung.
Sudah, aku sedang menunggu telepon darimu baru aku langsung menjemputmu.
" Baiklah, kau sudah boleh menuju kemari, dan aku akan bersiap secepat mungkin agar tidak perlu membuatmu menunggu lama. "
Ayolah, kau minta di tunggu setahu, dia tahun, tiga tahun, empat tahun, lima tahun, seumur hidup ku juga boleh kok.
Elle memijat pelipisnya karena merasa pusing mendengar ucapan Bryant.
" Baiklah, aku akhiri dulu karena aku harus segera bersiap ya? "
Yah, aku sudah tahu kau pasti akan bicara seperti itu.
Elle memutuskan sambungan teleponnya, dia segera meletakan ponsel itu ke meja dimana lampu tidur berada kakus segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu selesai dari kamar mandi, Elle dnegan segera mengeluarkan sebuah gaun hitam yang ia beli tempo hari ketika sengaja ingin membuat momen temu dengan Johan. Polos, tapi gaun itu benar-benar pas sekali di tubuh Elle, dan membuat tubuh Elle terlihat semakin jelas, meninggalkan kesan indah dan anggun yang menjadi satu.
Setelah itu, Elle berjalan cepat menuju ke meja riasnya, dia meraih alkohol dan kapas untuk membersihkan wajahnya, lalu menggunakan pelembab, memakai foundaiton, mengunakan bedak yang sudah di sesuaikan dengan warna kulitnya, menggunakan blush on, lalu yang lainnya. Tidak perlu repot menggunakan make up berlebihan karena Elle sadar benar Tuhan telah menganugerahinya wajah yang tirus, kecil, memiliki garis wajah yang jelas, bentuk rahangnya juga sangat jelas dan proporsional. Terakhir adalah lipstik natural seperti warna kesukaan Elle dan ajaibnya warna itu benar-benar menyatu dengan bibir Elle, tidak terlihat menggunakan lipstik, tapi Elle benar-benar sangat cantik malam ini. Sepasang anting emas putih berukuran sedang telah menghiasi kedua telinganya, sebuah kalung dengan desain sederhana tapi terlibat mahal dan berkelas, tas pesta yang di pegang Elle juga terlihat sangat cantik.
Elle tersenyum melihat tampilan dirinya, memiringkan ke kiri dan ke kanan tubuhnya memadukan benar tidak ada satu pun bekas luka yang terlihat, barulah setelah itu Elle perlahan menjalankan kakinya keluar dari kamar. Tentu saja tidak biasa karena Elle jarang sekali menggunakan high heels, tapi Elle juga tidak bisa tidak di bilang tidak mampu berjalan dengan Heels tinggi.
Elle tersenyum, lalu mengangguk setelahnya. Tahu, tentu saja Elle sangat tahu Eliza sangat mengkhawatirkan dirinya, tapi bagi Elle yang dia punya adalah dirinya sendiri untuk bisa membalas semua perbuatan jahat yang dia terima.
" Nona, entah mengapa perasaan saya tidak enak, saja merasa sangat takut kali ini. Acara besar seperti itu pasi di jaga oleh security, tapi saya tetap sangat khawatir sekali, Nona. "
" Aku mengerti, Eliza. Tapi aku juga sudah bertaruh banyak untuk setiap tindakan ku ini. Meksipun pada akhirnya aku hancur, aku akan tetap hancur dengan perasaan lega, jadi doakan saja aku bisa melewati malam ini dengan selamat dan baik-baik saja. " Elle mengakhiri kalimatnya dengan senyum yang begitu manis.
Beberapa saat kemudian, Bryant datang untuk menjemput, Elle dan mereka tak menunggu lama langsung menuju ke gedung dimana acara lelang amal itu di gelar.
Elle terdiam sebentar begitu sampai di dana, dia menatap gugup tapi dia tetap berusaha sebaik mungkin untuk terlihat santai dan baik-baik saja.
" Pegang lenganku, kau pasti akan merasa lebih baik dengan memegang lenganku, kau juga bisa menyeimbangkan langkah kakimu bukan? "
Elle mengangguk setuju, dia menggerakkan satu tangannya untuk memeluk lengan Bryant dan mereka berjalan beriringan untuk masuk ke dalam sana. Sejenak mereka berhenti untuk menyerahkan undangan milik mereka karena hanya dengan begitulah mereka baru boleh di izinkan masuk ke dalam.
Begitu sampai di dalam, banyak sekali mata yang terarah kepada Elle dan Bryant. Titik utamanya sebenarnya adalah Elle yang tampak cantik sekali malam ini, bahkan bisa di bilang dia paling cantik di antara para wanita yang ada di sana.
Elle tersenyum menyembunyikan kegugupannya, sementara Bryant tersenyum bangga karena sepertinya banyak sekali pria yang menatap iri kepadanya.
Di sisi lain, Jarvis menatap tak percaya kalau dia akan minat Elle di sana, ditambah dia semakin dia buat terkejut karena ternyata Elle datang bersama dengan Bryant. Mereka benar-benar nampak serasi, dan itu membuat Jarvis merasa sangat sedih dan kecewa.
Johan, pria itu membuang nafas sebalnya melihat Bryant yang memperlihatkan senyum lebarnya dengan penuh percaya diri. Di dalam hati Johan membatin, sudah lah jelas kalau pada akhirnya Elle hanya akan menjadi simpanannya, jadi Bryant tentu saja tidak akan bisa di bandingkan dengannya.
Jarvis tidak tahan lagi, dia meletakkan gelas yang ada di tangannya, lalu bangkit berniat untuk menghampiri Elle. Tapi baru beberapa langkah dia justru terlambat karena Johan sudah lebih dulu menghampiri Elle, menyapa dengan senyum aneh yang menjijikan menurut Jarvis.
Bersambung.