
Jarvis terdiam tak mengatakan apapun karena saat ini dia tengah memikirkan semua yang di ucapkan Elle. Tubuhnya memang dekat dengan Elle, bahkan jika berani dia bisa menyentuh Elle dan memeluknya. Tapi, batasan yang begitu besar di antara mereka benar-benar membuat Jarvis tak bisa melakukan apapun selain membeku dan memikirkan segala yang terjadi, dan apa yang di katakan Elle.
Sejenak dia berpikir dan menayangkan kira-kira bagiamana jadinya jika benar hubungannya dengan Elle tak bisa di lanjutkan lagi? Atau kalau berjalan sesuai harapannya apakah benar Elle masih akan memilih untuk pergi di kemudian hari? Di bandingkan kehilangan hubungan yang menyatukan mereka bukankah menahan Elle di sana adalah yah terpenting? Tapi, bagaimana jika dia begitu egois dan kukuh dengan keinginanya lalu pada akhirnya dia hanya akan menambah luka Elle untuk menjadi semakin dalam?
Jarvis menatap Elle yang kini sudah duduk di sofa dekat jendela kamarnya. Mereka masih saling terdiam, Elle yang lelah berbicara dengan hati yang sangat terluka, Jarvis yang tak mampu bicara karena perasaan bersalah. Jika saja menunggu suasana itu membaik dengan sendirinya, maka mustahil lima tahun juga pasti tidak akan cukup.
Berbekal perasaan takut kehilangan, Jarvis melangkahkan kakinya menghampiri Elle, kembali bersimpuh dengan rapih, menatap Elle yang masih diam dan kini menatapnya dengan tatapan datar.
" Kau sangat membenciku bukan? Kalau begitu tetaplah bersama ku, siksa aku seperti sakit yang kau terima dari ku, biarkan aku merasakan sakitnya, biarkan aku menerima hukuman dari kesalahan besar yang aku lakukan. Aku menyerahkan seluruh hidupku, kemana kau mengarahkan ku asal biarkan aku tetap bersama mu, aku bersumpah tidak akan mengeluh dan mengatakan tidak untukmu. "
Elle menatap Jarvis dengan tatapan terkejut, tatapan hangat dan pasrah itu benar-benar membuat Elle tidak habis pikir. Bagiamana bisa Jarvis begitu pasrah hanya karena tidak ingin bercerai? Bukankah Jarvis seharusnya sadar benar bahwa dia memiliki rupa yang ada di atas rata-rata, dia juga memiliki kemampuan dalam beberapa bidang, juga memiliki dukungan finansial yang tidak di ragukan lagi. Dengan itu semua seharusnya pilihan wanita mampu dia dapatkan, lalu untuk apa mempertahankan hubungan yang jelas dia tahu hanya akan menerima rasa sakit saja?
" Kau ini sebenarnya gila atau bodoh? Berhentilah terus berlutut karena tindakan mu ini sama sekali tak membuatku merasakan apapun. "
" Lihat lah aku dari sudut pandang lain, sebentar saja. Meksipun aku memang bersalah dari awal hingga akhir, tapi keseriusan yang aku miliki benar-benar membuatku mampu menerima segalanya yang akan terjadi meski nyatanya hanya sebuah rasa sakit. Aku tahu kebencian mu sangat membara, dan aku tahu selama bersama dan dekat denganku akan membuatmu terus teringat akan rasa sakit, tapi aku masih tidak ingin berpisah denganmu. Jadi, tetaplah bersamaku, tidak masalah jika kau membenciku, lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku. Aku menerima dan siap melakukannya bukan karena aku merasa bersalah saja, tapi karena aku memang mencintaimu terlepas adanya perasaan benci juga untuk membalas dendam. "
Elle menggeleng keheranan dengan apa yang di katakan Jarvis.
" Jarvis, sebelumnya aku ingin memberitahu sesuatu padamu. Aku sudah berjanji kepada Bryant untuk membuka hatiku, jadi apa yang akan terjadi antara aku dan Bryant di kemudian hari aku benar-benar tidak bisa memprediksikan dengan benar. Kalau kita terus terikat dengan tali pernikahan, aku tentu saja akan di anggap berselingkuh, dan itu tidak akan membuatku leluasa. "
Jarvis terdiam sebentar. Iya, memang kedekatan antara Elle dan juga Bryant agak mencurigakan menurut Jarvis, tapi di banding merasa curiga, dia memiliki keyakinan sendiri bahwa seorang Elle yang selama ini begitu menjunjung tinggi harga dirinya jelas tidak akan melakukan hal tercela semacam itu.
" Kalau begitu lakukan saja, aku tidak akan melarang mu membuka hati untuk Bryant, tapi kau juga tidak boleh menutup hatimu untukku. Kau bisa nilai kami berdua, dan aku masih akan berjuang sekuat tenaga, aku tidak akan menyerah apapun yang terjadi. "
Elle tersenyum tipis, sepertinya Jarvis menganggap semua yang dia katakan hanyalah sebatas dongeng saja. Jadi biarkan saja dan lihat apa yang bisa Jarvis lakukan saat situasinya benar-benar terjadi nanti.
Ibu Diana menutup mulutnya menahan tangis karena Dokter mengatakan kepadanya untuk membiarkan Wendy tinggal dia sebuah rumah perduli untuk menyembuhkan orang dengan masalah mental. Memang benar orang yang memilki masalah mental bukan berarti gila, Wendy hanya stress berat yang membutuhkan penanganan serius agar tak memperburuk situasi dan kondisinya.
" Dokter, saya tidak bisa membiarkan putri saya di rawat di sini. Putri saya pasti akan sedih sekali saat teman-temannya tahu dia di rawat di rumah perduli kesehatan mental. Saya akan membawa putri saya keluar negeri, jadi tolong rekap saja mengenai kondisi mental putri saya sejelas mungkin. " Pinta Ibu Diana yang langsung di setujui oleh Dokter psikologi.
Ibu Diana membuang nafasnya, mengusap sisi matanya karena tidak ingin menunjukkan kepada Wendy kalau dia baris aja menangis. Sebagai seorang Ibu tentu lah hatinya hancur sekali, putri satu-satunya harus mengalami semua ini di usia yang begitu muda. Padahal seharusnya Wendy menjalani hari-hari seperti sebelumnya bersama dengan teman-temannya saja kan?
" Wendy, Ibu sudah bicara dengan Dokter. Besok kita pergi ke rumah nenek saja ya? Kan kalau di sana kita bisa leluasa menenangkan diri, dan juga udara di sana sangat sejuk jadi mudah mengembalikan mood baik. " Bujuk ibu Diana sembari mengusap kepala Wendy dengan lembut. Sudah satu pekan lebih Wendy terus saja diam seolah begitu malas mengatakan apapun. Yang dia lakukan hanyalah sibuk memantau media sosial untuk melihat aktivitas Bryant dan juga Elle. Sangat membingungkan memang, kalau Bryant mengunggah photo pastilah keterangannya seolah di arahkan untuk Elle, tapi kalau Bryant tidak aktif di media sosial Wendy seperti sangat kesepian seolah ada yang hilang dari dirinya.
" Ibu akan bicara dengan kakak mu, biar dia yang urus semua kebutuhan dokumen atau lainnya jadi kita tidak perlu repot dan bisa langsung jalan saja ya? "
Wendy membuang nafasnya.
" Bu, kenapa ya aku merasa malas sekali? Aku ingin melihat kak Bryant secara langsung, tapi sekarang dia malah sangat dekat dengan Elle dan jadi melupakan aku. "
" Wendy, anak teman Ibu sangat tampan loh, dia bekerja di perusahaan besar nomor satu di negara luar yang terkenal sangat hebat. Perusahaan itu masuk dalam jajaran atas karena menguasai perdagangan di empat puluh delapan negara. "
Wendy membuang nafas sebalnya.
" Aku paling menyukai pria dengan susunan wajah seperti kak Bryant. "
Bersambung.