
Jarvis kembali dari menemui orang penting dan langsung menuju ke kamarnya. Tadinya dia ingin langsung tidur begitu sampai karena hari ini dia benar-benar sangat lelah, tapi rupanya rencana hanyalah tinggal rencana saja. Jarvis justru tak bisa memejamkan mata sedikitpun, dia sudah coba untuk mengerakkan tubuhnya berolahraga ringan tapi tetap saja itu tidak cukup bisa membuatnya merasa mengantuk.
Jarvis keluar dari kamarnya, menuju ke kamar Fredon karena dia teringat dengan handycam yang tadi sempat ingin dia tonton tapi mati karena kehabisan baterai. Begitu sampai di sana Jarvis melakukan hal yang sama untuk bisa masuk ke ruangan tersebut. Jarvis segera duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya, kembali meraih handycam itu dan mulai membuatnya menyala. Setelah itu Jarvis memutar kembali video yang terhenti sebelumnya.
" Hai? Hari ini misi gagal, tapi aku masih belum menyerah, aku akan tetap berusaha sampai memenangkan taruhan ini. " Jarvis terdiam dengan tatapan terkejut luar biasa. Tidak, tidak, dia benar-benar belum siap karena takut kelajutannya akan membuatnya terkejut. Jarvis mengentikan setelah Fredon mengatakan itu, sebentar dia terdiam dan coba untuk menenangkan dirinya untuk tidak berpikir macam-macam. Setelah dia merasa cukup tenang, Jarvis menggerakkan ibu jarinya untuk menakan kembali tombol yang akan membuat videonya kembali tersambung.
" Dia terlalu angkuh hanya karena dia cantik. "
Jarvis mulai mengeraskan rahangnya, cantik? Tidak mungkin ini ada hubungannya dengan Elle kan? Fredon yang ia tahu adalah pemuda yang energik dan sangat ekspresif untuk segala hal, tidak mungkin dia menyembunyikan sesuatu yang aneh dari Jarvis bukan?
" Hai? Misi kali ini juga gagal. Dia tidak mau di ajak menonton film, alasannya sangat kuno dan klasik, dia sangat menyebalkan. Yah, tapi karena dia cantik dan banyak yang menyukainya, aku akan sedikit lebih sabar sampai aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. " Jarvis Mash mencoba untuk tenang, bagaimanapun story' yang dia tahu tentang Fredon adalah dia mendapatkan penolakan berkali-kali sampai putus asa dan memilih bunuh diri, jadi Jarvis meneruskan untuk menonton video-video selanjutnya.
" Misi masih gagal, padahal aku yakin sekali dia mulai menyukaiku. Dia bilang tidak di izinkan pacaran oleh Ayahnya, sangat menyebalkan sekali alasannya bukan? Padahal bisa pacaran diam-diam. " Berlanjut ke video berikutnya.
" Halo? Hai hai! " Teman-teman Fredon ada di sana sekitar tiga orang, empat orang bersama dengan Fredon.
" Pria tertampan di sekolah masih di tolak, jadi kau kalah taruhan kan? Video ini adalah saksi kalau Fredon sudah kalah taruhan! Hahaha..... " Mereka bertiga menertawakan Fredon yang terlihat kesal di sana. Sementara Jarvis, dia mulai berdebar tak menentu menonton video itu.
" Hei, siapa bilang aku gagal?! Besok saat hari kelulusan dia akan memberikan jawaban yang aku tunggu-tunggu! Di hari itu juga aku sudah mengatakan padanya untuk membawa dia ke tempat yang aku inginkan. Aku akan memberikan photo kami saat kami berciuman, aku juga akan membuat video saat aku berhasil meniduri Elle. "
Bruk!
Jarvis menjatuhkan tangannya yang masih memegangi handycam dengan tatapan tak percaya, matanya mulai memerah karena tidak percaya benar dengan apa yang dia lihat di video itu.
" Bagaimana kalau kenyataannya Elle sudah tidak suci lagi? "
" Masa bodoh! Toh tujuannya hanyalah meniduri dia, lalu membuat video dan akan aku sebarkan di internet. Yah, wajahku tentu saja harus di blur! " Ucap Fredon dengan semangat.
" Banyak berkhayal! Kau tidak tahu sudah berapa banyak pria yang di tolak ya? "
" Kalau di tolak lagi, aku sudah menyiapkan ini nih! " Fredon menunjukkan beberapa pil dalam plastik transparan.
" Obat apa itu? "
" Warna putih adalah obat tidur, semu pink adalah untuk merangsang keinginanya padaku. "
" Kau gila ya? "
" Bukan Fredon namanya kalau tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. " Fredon tersenyum bangga.
" Nanti kalau hamil bagaimana?! "
" Suruh dia gugurkan, aku ini masih muda, lagian selama ini aku baik-baik saja. Semua mantan pacarku tidak ada yang hamil tuh! "
" Wah, kalau kau berhasil kami benar-benar harus ya melayani mu dan memanggilmu raja selama tiga bulan penuh? "
" Tentu saja! Haha..... "
Jarvis membuang handycam itu ke sembarang arah membuatnya terpental jatuh membentur dinding dan hancur. Gila, dia benar-benar tidak menyangka jika adiknya begitu brengsek, taruhan? Menyebarkan video ke internet?
Jarvis benar-benar syok sekali sampa tidak bisa berkata-kata. Dia menatap marah dengan tubuh gemetar, debaran jantungnya yang begitu kuat itu seperti memberikan tujuan di dada setiap dia berdetak. Kenapa? Kenapa baru sekarang dia mengetahui kebenaran yang memalukan ini? Lalu untuk apa dia menyeret Vivian, menikahi Elle laku menyiksanya? Bahkan, Vivian, Wendy, juga Ibunya terang-terangan menyiksa Elle. Meskipun dia merasa sakit melihat Elle di pukul, melihat Elle menangis, dia tetap diam dan hanya menonton saja.
" Bagaimana, bagaimana aku harus menghadapinya? " Gumam Jarvis dengan tatapan marah, kecewa, dan sedih menjadi satu. Teringat benar di kepalanya semua penderitaan, serta rasa sakit yang dia berikan untuk Elle. Menampar, memukul, mencambuk, menendang, memaki, menghina dengan tatapan, terakhir kali menakut-nakuti Elle sampai dia memilih untuk menyayat lehernya. Dari sekian banyak luka yang dia berikan, yang mana dulu dia harus meminta maaf kepada Elle?
" Brengsek! Aku harus bagaimana setelah ini?! "
***
Elle mengirimkan pesan kepada Bryant untuk mengucapkan terimakasih kepadanya karena sudah mau bekerja sama. Tentu saja Bryant dari awal sudah mengetahui jika Elle sedang berpura-pura, jadi mereka benar-benar klop.
Setelah selesai mengirim pesan, Elle menjauhkan ponselnya dan memilih untuk bangkit dan duduk di depan jendela kamarnya. Sejenak dia memejamkan mata berharap dia dapat menemukan ketenangan walau untuk beberapa detik saja.
Tapi belum lama ponselnya berdering, Elle dengan segera meraih kembali ponselnya dan menerima panggilan telepon untuknya.
Kak, Ayah jatuh pingsan! Aku takut, tolong cepat datang ya?
" Aku kesana, sekarang! " Tidak perduli dengan penampilannya, tidak perduli dengan perban yang masih menempel di lehernya, Elle berlari keluar dari kamar dengan cepat. Tapi sayang, baru sebentar dia sudah di hadang oleh Vivian dengan tatapan kesal.
" Kalau ada yang ingin kau bicarakan, tunda saja dulu karena ada hal penting yang mengharuskan aku untuk pergi. "
Vivian menahan Elle dengan mencengkram lengannya membuat Elle mau tak mau menggagalkan niatnya sementara.
" Tidak ada yang lebih penting ketimbang apa yang ingin aku bicarakan! "
Elle menatap Vivian dengan tatapan marah.
" Aku sudah tahu apa yang akan kau bicarakan, berhenti menggangguku aku tidak sedang berbohong! Aku harus pergi! "
" Tidak bisa! Kau harus mengikuti perintahku dulu! "
Merasa sudah sangat muak dan kesal serta takut dengan keadaan Ayahnya, Elle sekuat tenaga mendorong Vivian hingga Vivian terjatuh di lantai cukup kuat membuatnya memekik kesakitan. Mendengar suara Vivian dan Elle, sontak Jarvis juga tersentak dan bergegas melihat apa yang terjadi.
" Elle! Dasar lancang! Berani sekali kau menyakiti Vivian! " Ujar Ibu Diana dengan wajah kesalnya.
" Ada apa ini? " Tanya Jarvis sengaja mengindari tatapannya dengan Elle karena dia tidak cukup siap menatap Elle sekarang ini.
Elle tak memiliki pilihan lain selain memelas sekarang.
" Ayahku pingsan, aku harus segera pulang ke rumah, jadi tolong biarkan aku pergi. Kalau kau, kalian ingin menghukumku, tolong lakukan itu setelah aku kembali nanti. "
Jarvis terdiam sebentar, dia berjalan mendekati Elle dnegan tangan terangkat membuat Elle terkejut dan mengangkat tangannya pula untuk melindungi wajahnya.
Bersambung.