Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 77 : Merelakan Untuknya Bahagia



" Nak, ini Ayah. Bagaimana keadaan mu sekarang? Kau pasti kesepian bukan? Ayah juga kesepian jika kau berada di tempat seperti itu, tong temani Ayah di sini ya? Ayah khawatir sekali, Ayah ingin melihat mu tersenyum, tertawa seperti sebelumnya. Berikan tangan mu, ayo kita kembali bersama. "


Lagi-lagi air mata Elle jatuh, tangannya juga gak melakukan gerakan apapun yang artinya Elle masih tidak ingin keluar dari sana.


Dokter saling menatap dengan dahi mengeryit, lalu menunjuk jam di pergelangan tangannya yang artinya waktu hampir habis.


Jarvis mulai tak bisa mengendalikan diri, matanya sudah memerah menahan tangis yang ingin pecah begitu saja.


" Elle, kau tahu tidak? Lusa anak Bulgo akan lahir, kau tidak mau lihat lah? Bangun Elle, kau harus ikut kembali bersama kami dan melihat betapa indahnya dunia yang kita tinggali ini. "


Semua orang menoleh ke arah Bryant dengan tatapan sama, mereka tentu aja marah karena sudah dari awal di beri tahu dan di peringatkan untuk tidak bersuara sebelum di minta untuk bersuara.


Elle menarik tangannya dari genggaman tangan Ayahnya, begitu juga dengan satu tangannya yang di genggam oleh Jarvis. Elle memilih meletakkan kedua tangannya di atas perut dengan posisi satu menindih satu tangannya di bawah. Air matanya masih laju tak berhenti membuat Jarvis dan semua orang ketakutan karena kemungkinan gagal sepertinya sudah terlihat cukup jelas. Jarvis menatap Dokter dengan tatapan bertanya, setelah itu Dokter memilih diam sebentar karena dia harus memikirkan cara agar Elle tidak pasrah dalam hidup dan menyerah begitu saja.


Tak lama Dokter itu menatap Jarvis, dia menatap dengan penuh keyakinan, lalu mengangguk mempersilahkan Jarvis untuk bicara tentu tanpa mengeluarkan suara. Tentu saja Jarvis terkejut, dia hanya menatap dengan kepala menggeleng perlahan. Sungguh dia takut dan tida sanggup dengan resiko yang akan di terima oleh Elle jika sampai dia mengeluarkan suaranya. Bahkan Adik, Ayah, yang jelas dia sayangi selama ini tak mampu membangkitkan keinginan Elle untuk kembali, bagaimana mungkin Elle akan tertarik dengan ajakannya?


Dokter itu memegang lengan Jarvis, kembali menatapnya dengan penuh keyakinan sembari menganggukkan kepala. Menurut Dokter itu, apa yang perlu di coba asalkan niatnya adalah untuk membantu orang lain, maka Tuhan pasti akan membantu dengan caranya.


Jarvis menatap Elle dengan tatapan takut, tubuhnya gemetar bahkan sampai air matanya jatuh ia tak merasakannya.


Tuhan, gantikan saja dia dengan ku. Biarkan aku yang berada di posisi Elle, biarkan dia bangun dan hukum saja aku. Berikan sejuta kesakitan itu untuk ku, aku mohon..... Buatlah hati Elle tersentuh meski aku bukan orang yang dia inginkan.


Jarvis membuang nafas setelah Dokter menunjuk jam di lengannya pertanda waktu sudah tidak lama lagi. Elle tidak boleh terlalu lama di dalam situasi seperti ini karena jika gagal kemungkinan sembuhnya akan terbilang sangat kecil.


Jarvis mengangguk, dia meraih satu tangan Elle dan menggenggamnya kuat. Dia tidak di berikan teks, tapi dia juga tidak punya pilihan selain melakukan itu.


" Elle? "


Tangan Elle bergerak, dia terkejut karena mendengar suara Jarvis. Suara pria yang telah sukses menghancurkan hatinya, menyakiti tubuhnya pula. Dimana suara itu? Dimana pemilik suara itu? Dia ingin menjauhkan suara dan orang itu karena terlalu menyakitkan setiap kali mengingat luka yang telah di berikan oleh Jarvis.


" Elle, kau ingat benar bagaimana aku menyakiti mu bukan? Kau pasti tersiksa, kau pasti menderita, kau pasti sering menangis, kau marah kan? Kau dendam juga kan? Aku tahu semua itu, tapi dengan brengsek nya aku bertingkah seperti tak memiliki perasaan dengan menahan mu. Kau tidak ingin membalas dendam kah? Kau tidak ingin memukul atau menikam ku? Aku memiliki tubuh yang bagus, sulit untuk membuat ku mati hanya dengan satu atau dua tusukan pisau. Maka kau tidak boleh berada di sana terlaku lama, datang lah padaku, datang lah kepada pria brengsek yang sama persisi seperti binatang ini. Datanglah dan balas semua den dendam yang ada di hatimu. Aku disini, aku menunggu datang dengan sombongnya. Datanglah pada ku, benci lah aku sebanyak yang kau mau, sakiti aku sesuka hati mu, aku disini, berada di tempat yang dulu kita habiskan bersama. "


" Jarvis...... "


Semua orang tersentak, tapi Jarvis justru merasa begitu takut.


" Elle, kau yakin akan tetap di sana? Kau yakin akan tetap berada di tempat yang tidak memiliki apapun? Kau harus datang dan membuat ku tidak bisa merasakan kebahagiaan. Kau tahu? Mudah bagi ku menemukan kebahagiaan, juga wanita lain, sementara kau? Kau benar-benar ingin menghabiskan sisa hidup mu di sana? Kau tidak ingin membalas dendam padaku? "


Jarvis menyeka air matanya.


" Ambil tangan ku, Elle. Ambil, bangkit lah, ikut dengan ku dan lihat bagaimana kehidupan kita akan berakhir. Jangan bodoh dengan diam di sana sedangkan kau bisa melakukan banyak hal, berikan tangan mu, biarkan aku membawa mu untuk melihat bagiamana dunia ini bekerja, dia akan memihak mu, atau memihak ku. Mungkin juga memihak kita berdua. "


Greb!


Elle mencengkram kuat tangan Jarvis, semakin lama semakin kuat, hingga perlahan-lahan Elle mulai membuka matanya.


" Kak? " Penelope menutup mulutnya menahan tangis karena ternyata usaha mereka berhasil untuk menyadarkan Elle.


" Nak? " Ayah segera meraih tangan Elle dan menciumnya dengan bahagia. Penelope juga tidak mau kalah, dia merebut tangan Elle dari genggaman tangan Jarvis dan menggenggamnya erat-erat. Tinggal lah Jarvis hanya bisa terdiam menatap tangannya yang beberapa saat lalu saling menggenggam dengan tangan Elle terlepas.


Syukurlah, kau kembali Elle.


Jarvis tersenyum tipis menatap Elle, sungguh dia bahagia karena Elle bisa bangun dan kemungkinan besarnya dia akan kembali seperti sedia kala. Hanya, mungkin setelah ini dia tidak akan pernah bisa bersama dengan istrinya itu.


Jarvis bangkit dari posisinya, di gantikan oleh Bryant yang segera mendekat dan mengucapkan selamat datang kembali kepada Elle. Sementara Jarvis, pria itu menatap Elle dan tersenyum tipis sembari memundurkan langkahnya untuk menjauh.


*Semua ini membuat ku sadar, Elle. Aku bagaikan pecahan kaca yang menusuk kulit mu, jika aku terus menempel di sana, luka yang akan kau dapatkan akan semakin dalam. Aku sadar sekarang aku harus menjauh darimu, aku harus merelakan mu dan mengabaikan perasaan cinta ini lagi, sama seperti dulu. Hari ini, aku akan mulai merelakan hati ku untuk bisa melepas mu, demi senyum indah dan kebahagiaan mu. Berbahagialah, Elle. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah, kau pantas untuk bersama pria yang baik. Aku mencintai mu, dan akan terus begitu.


Bersambung*.