
" Tahu malu lah sedikit, kau ini adalah orang yang sudah membuat Wendy, adik dari Jarvis masuk ke dalam rumah sakit, kau masih berani menemui dia? Seharusnya kau tahu benar bagaimana sikap dan sifat Jarvis saat bersama dengan mu bukan? Jarvis itu sudah pasti tidak akan mau bertemu dengan orang yang sudah mencelakai adiknya. Lebih baik secepatnya kau pergi kalau tidak ingin merasakan bagiamana menderitanya ketika Jarvis marah. "
Elle tersenyum, dia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau ragu untuk tetap menemui Jarvis. Sejujurnya dia sendiri adalah merasa agak ngeri karena bagiamanapun Jarvis bukan orang yang dia kenali setelah beberapa saat belakangan ini. Sikapnya yang berubah dan mudah mengalah takutnya hanyalah rencana untuk melakukan sesuatu yang tidak dia ketahui. Tapi, apapun resikonya kali ini Elle benar-benar tidak bisa mundur lagi, entah mendapatkan berapa banyak pukulan, cacian, dia sudah akan bersiap dan sabar nantinya.
" Sudah berapa kali aku mengatakan padamu, Vivian? Aku tidak melakukan kejahatan dengan menyayat lengan Wendy kan? Dia sendiri lah yang mencelakai tubuhnya. Untuk masalah Bryant, apakah salah ku juga jika seorang lelaki menyukaiku? Apa aku harus menghajar setiap pria yang menyukaiku? Haruskah aku melakukan itu? "
Vivian terdiam, sungguh dia benar-benar merasa sangat kesal karena tidak dapat membalas ucapan Elle barusan. Di lain sisi dia juga merasa iri karena Elle benar-benar sangat beruntung mendapatkan banyak rasa suka dari kawan jenis. Sebenarnya dia juga memiliki itu dari beberapa orang dulu, hanya saja yang menyukai Elle memang bukan sembarang pria sepertinya dulu. Bryant jelas adalah pria yang hebat, dia terlihat tidak ada kerjaan padahal Bryant adalah seorang pemimpin sebua perusahaan makanan instan yang merek makannya banyak di edarkan di seluruh negri.
Belum lagi Jarvis, pria itu jelas bisa Vivian rasakan jika memiliki perasaan spesial juga kepada Elle, tapi tentu saja Vivian tidak akan merelakan itu karena dia merasa harus memiliki Jarvis seorang diri.
" Vivian, kenapa kau terlihat tidak baik? Kau sedang merasa tidak nyaman dimana? Kenapa aku merasa wajah mu agak pucat? Kau juga terlihat kurang tidur, kau baik-baik saja? "
Vivian memalingkan wajahnya sebentar, lalu menatap Elle dengan tatapan marah.
" Jangan sok tahu! Aku baik-baik saja kok, aku hanya sedang memikirkan kapan aku dan Jarvis bisa leburan bersama, kami kan sudah menunda waktu untuk bulan madu cukup lama. "
Elle mengangguk saja, tapi dia tersenyum seolah hanya mengiyakan tapi tak mempercayainya sama sekali.
" Kenapa ekspresi begitu?! " Kesal Vivian yang jelas lah dia bisa merasakan bahwa Elle menyepelekan ucapannya barusan.
" Ah, tidak ada. Maaf kalau aku tersenyum begini, tapi aku sungguh tidak memiliki maksud apapun kok. "
" Sudahlah, aku malas berdebat denganmu! Pergilah sana! "
Elle kembali tersenyum dan menggeleng.
" Maaf, aku masih ingin menemui Jarvis. "
Vivian menggigit bibir bawahnya dengan perasaan kesal luar biasa.
" Aku bilang Jarvis tidak akan menemeuimu, aku saja di minta untuk jangan mengganggu, apalagi kau?! "
" Kalau begitu, biar aku coba untuk mengetuk pintu sebentar. "
Tak menunggu Vivian menjawab, Elle sudah lebih dulu berbalik dan mengetuk pintu Jarvis. Begitu ketukan pertama pintu masih belum di buka membuat Vivian tersenyum sinis.
" Sudah ku bilang tidak akan mungkin di buka pintunya, tapi tetap saja kau tidak percaya. Lihat saja nanti, Jarvis akan menendangmu sampai babak belur, dan aku akan bersiap teluk tangan untukmu. "
Elle menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan, dia terus mengetuk pintu kamar Jarvis berharap pintu itu di buka dan tidak perlu melihat Jarvis marah. Memang terkesan tidak mungkin, tapi asalkan bisa membuat pintu kamar Jarvis terbuka, setidaknya Elle akan berbicara dengan sangat lembut agar Jarvis tidak begitu marah karena terganggu olehnya.
" Sudahlah, aku kan sudah bilang- " Ucapan Vivian berhenti tepat saat pintu kamar Jarvis terbuka. Awalnya Jarvis terlihat kesal saat membuka pintu, tapi begitu dia melihat Elle yang berada tepat di depan pintu atau di hadapannya, Jarvis terdiam tak menunjukkan lagi ekspresi kesal seperti sebelumnya.
" Masuk! " Ucap Jarvis tak menunjukkan ekspresi apapun, dia juga terlihat sedikit menunduk seperti tak berani menatap kedua bola mata Elle.
" A apa? " Elle ternganga heran, masuk? Bukankah tidak ada satupun yang boleh masuk ke dalam kamar itu selian Jarvis sendiri? Ruangan itu memiliki robot pembersih sendiri, jadi Jarvis tidak pernah repot membersihkannya sendiri.
" Masuk kalau ingin bicara denganku. "
Elle terdiam sebentar, padahal niatnya dia ingin menunjukkan saja kepada Vivian kalau dia bisa membuat Jarvis membukakan pintu untuknya, dan dia juga ingin bertanya mengenai Wendy secara langsung kepada Jarvis. Tapi kalau sampai di perbolehkan masuk ke dalam kamar Jarvis, bukankah itu artinya dia sudah melukai Vivian tanpa sengaja? Hah! Elle tersenyum tipis, lalu mulai melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar Jarvis.
Vivian hanya bisa melotot kaget, tentu saja dia terkejut bukan main sampai tak bisa mengatakan apapun saat Jarvis membuka pintu, laku memperbolehkan Elle masuk ke kamarnya padahal sebelumnya tidak ada satupun yang di izinkan masuk ke sana.
" Jarvis aku juga- " Vivian lebih di buat terkejut lagi saat Jarvis menutup pintu tanpa perduli dengan Vivian yang sedang ingin bicara.
Vivian mengepalkan kedua tangannya, marah, dia benar-benar sangat marah kepada Elle yang sudah merebut apa yang dia inginkan. Keperdulian Jarvis, Vivian menginginkan itu, tapi kini malah Elle yang merebutnya.
" Elle, aku benar-benar akan menyakitimu setelah ini. Aku tidak akan diam dan bersabar lagi, aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan, kau lihat saja betapa seriusnya ucapan ku ini. " Vivian menatap marah pintu kamar Jarvis yang kini sudah tertutup rapat. Vivian memilih pergi dari sana karena percuma saja dia berada di sana, kamar Jarvis di pasang peredam suara sehingga ingin mencuri dengar adalah hal yang mustahil untuknya.
Di dalam kamar.
" Duduklah. " Jarvis mengajak Elle untuk duduk di sofa yang berada di dekat jendela, agak jauh dari tempat tidurnya.
Sebentar Ella memperhatikan kamar Jarvis yang sangat rapih, dingin, dan juga jarum. Ternyata seluas itu, banyak sekali buku-buku di sana, tidak ada hiasan apapun, di sana benar-benar penuh dengan buku saja.
" Kau ingin membicarakan tentang apa? "
Pertanyaan Jarvis barusan menyadarkan Elle dan segera Elle kembali untuk fokus. .
" Bagaimana keadaan Wendy? "
Jarvis menghela nafas sebelum menjawabnya.
" Tidak apa-apa, dia sudah bangun dan dalam masih dalam perawatan. "
" Maafkan aku, itu semua karena aku bersedia di ajak photo dengan Bryant sehingga masalahnya jadi sefatal ini. "
Jarvis terdiam sebentar.
" Bisakah kedepannya kau menjauhi Bryant? "
Bersambung.