
" Apa yang ingin kau lakukan pada Ayahku? Kenapa aku dan Penelope harus menginap di hotel? " Elle bertanya dengan wajah yang terkejut sendiri.
Jarvis, pria itu sebentar terdiam karena dia sadar benar tatapan yang terkejut dan penuh rasa curiga dari Elle saat menatapnya nampak begitu mudah untuk di tebak. Tentu saja wajar kalau Elle begitu memiliki pemikiran buruk terhadap dirinya, tapi sial Jarvis justru sangat sensitif dan merasa sakit juga bersalah di waktu yang bersamaan.
" Aku tidak memiliki niat yang buruk, hanya saja kau sedang dalam keadaan yang kurang baik. Jadi istirahat saja dulu, kalau adikmu mau ikut kau juga boleh membawanya. Aku janji akan menjaga Ayahmu baik-baik dan akan mengabarimu setiap waktu. "
Elle tersenyum dan menggeleng, senyum yang dia tampilkan adalah senyuman yang begitu enggan untuk mempercayai ucapan Jarvis. Kenapa? Bukankah Elle sudah mengatakan untuk mengalah beberapa waktu ini? Semua sikap Elle itu di dasari keadaan yang mendorongnya, juga Jarvis yang terlihat lebih low di banding biasanya.
" Tidak, aku ingin tetap berada di sini. Kau saja yang pulang, kau kan harus bekerja besok pagi. Aku juga tahu mana yang boleh aku katakan dan mana yang tidak, jadi kau jangan khawatir. "
Jarvis kembali terdiam sebentar, jelas lah saja dia paham dengan apa yang di maksud oleh Elle. Tidak boleh mengatakan dari mana asal luka yang ada di tubuh Elle, dan mengharuskan Elle untuk memikirkan atau mencari alasan apapun yang jelas tidak boleh membawa nama Jarvis berserta keluarganya.
" Kalau begitu biarkan Ayahmu di pindah ke ruang VVIP, aku akan meminta Dokter memindahkannya jadi kau dan juga adikmu bisa menjaga Ayahmu dengan nyaman. " Ujar Jarvis mencari jalan tengah dari obrolan mereka.
" Tidak usah, kami nyaman saja dengan ini. Aku harap kau tidak keberatan kalau aku menemani Ayahku lebih lama, setidaknya dua hari saja, biarkan aku berada di sini dua hari saja. "
Jarvis tak lagi bisa membantah, dia memilih untuk mengangguk setuju ketimbang memperdebatkan hal sepele ini.
" Baiklah, hubungi aku jika membutuhkan sesuatu, aku akan datang lagi besok pagi-pagi sebelum jam sarapan. "
Elle tak menanggapi hal itu, sungguh sikap Jarvis kali ini benar-benar di luar dugaannya. Bukan hanya sekali saja mengalah, tapi Jarvis sudah banyak mengalah tak seperti biasanya. Tatapan yang tidak biasa itu juga masih belum bisa Elle mengerti karena jelas lah dia tidak bisa membaca pikiran orang lain.
" Aku pulang sekarang, jangan lupa hubungi aku jika membutuhkan sesuatu. " Jarvis mulai melangkahkan kaki meninggalkan Elle yang masih diam di sana menatap punggung Jarvis yang semakin menjauh darinya.
" Aku tidak mengerti apa arti perubahan sikapmu itu, kau ingin menjaga image mu kah? Kau ingin melakukan sesuatu di balik sikap mu ini kah? Atau kau sedang dalam mood yang lumayan bagus sehingga lebih kalem? Entah apapun itu alasannya, kau bahkan tak sedikitpun membuatku merasa tenang dengan perlakuan tidak biasa ini. " Gumam Elle, lalu saat tak mendapati punggung Jarvis lagi, Elle segera masuk ke dalam ruangan menyusul Penelope yang masih betah di sana menunggu sang Ayah dengan harapan agar sang Ayah segera bangun, lalu sehat seperti sedia kala.
***
Begitu sampai di rumah, Jarvis sudah di sambut oleh Wendy, Ibu Diana dan juga Vivian di ruang tengah yang tak jauh dari kamar Jarvis. Tentu saja Jarvis tahu apa yang ingin di bicarakan oleh mereka, tapi bagaimanapun saat ini suasana hatinya benar-benar sedang kacau dan dia membutuhkan ketenangan sampai besok pagi untuk bisa mengunjungi Ayahnya Elle. Tapi, niatan itu sama sekali tak bisa ia wujudkan saat kalimat yang kurang nyaman keluar dari mulut Ibunya.
" Berhentilah membuat ulah tidak jelas, Jarvis. Jangan pikir Ibu tidak tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya terhadap wanita itu. Kau harus sadar benar penyebab kematian adikmu adalah dia, jadi berhentilah memiliki perasaan semacam itu untuk dia. "
" Ibu, sebenarnya aku benar-benar sedang sangat lelah. Aku tertekan sekali, aku butuh waktu sebentar saja untuk tenang, aku ingin sebentar saja diam dan merenungkan apa yang terjadi ini hingga aku bisa memiliki solusi yang terbaik. Apakah Ibu begitu tidak ingin aku tenang walau cuma sebentar? "
Ibu Diana bangkit dari duduknya, dia berpindah posisi untuk berada di hadapan Jarvis dan menatapnya dengan tegas.
" Kau hanya perlu membalaskan dendam adikmu, Jarvis! Kenapa kau bimbang hanya karena secuil rasa tertarik mu untuk dia, hah?! "
Jarvis mengusap wajahnya dengan kasar, rasanya di ingin sekali memukul sesuatu berharap amarah serta perasaan tak menentu di hatinya menghilang. Tapi, bukankah itu tidak benar jika di lakukan di hadapan Ibunya?
" Ibu, bagiamana aku bisa menyakiti Elle lagi saat sebuah kebenaran memalukan baru saja aku ketahui? Apakah Ibu tidak ingin tahu yang sebenarnya tentang Fredon? "
" Apa maksudmu? " Tanya Ibu Diana dengan tatapan bingung.
" Fredon, dia bukan bunuh diri karena Elle. Dia, dia bahkan hanya ingin memenangkan hati Elle untuk dia lecehkan dan mengunggah di internet. Fredon begitu brengsek tapi kita sama sekali tidak tahu, aku jadi merasa kalau kematian Fredon memang jauh lebih baik dari pada dia hidup. "
Plak!
Ibu Diana menampar pipi Jarvis dengan sangat kuat, matanya mendelik marah, seolah menolak dengan keras untuk mempercayai apa yang Jarvis katakan barusan, di tambah dia marah sekali saat Jarvis berjaga kematian Fredon jauh lebih baik dari pada hidup.
" Ucapan gila apa itu, Jarvis?! Lebih baik mati dati pada hidup?! Kau ini tidak waras atau apa?! Fredon adalah adikmu! Dia adalah anak laki-laki kebanggaan keluarga Bhurgenz! "
Jarvis tersenyum miris, lagi-lagi dia harus mendengarkan kalimat itu. Kebanggaan keluarga Bhurgenz?
" Fredon, anak laki-laki kebanggaan dari keluarga Bhurgenz ternyata memliki kebiasaan yang sangat brengsek. Dia menjadikan Elle sebagai barang taruhan, jika dia bisa meniduri Elle dan mengunggah video saat dia meniduri Elle, maka ketiga temannya akan menjadi budak untuknya. Itu adalah kebenarannya, masalah bunuh diri Fredon akan aku selidiki lagi, dan semoga dia masih bisa di sebut kebanggaan keluarga Bhurgenz ketika kebenaran yang sesungguhnya telah terungkap nanti. " Setelah mengatakan itu, Jarvis segera meninggalkan Ibunya yang masih mencoba untuk menyangkalnya.
" Tidak mungkin! Fredon di besarkan dengan baik, dia ikut kelas etika dan mendapatkan peringkat pertama, jadi kau jangan bicara omong kosong! Kalau saja itu kau, Ibu masih bisa percaya. Tapi Fredon, anak baik dan polos itu tidak mungkin melakukan perbuatan gila semacam itu! "
Bersambung.