Holding The Heart

Holding The Heart
BAB 9 : Gagal Untuk Bertahan



Seperti rutinitas beberapa waktu terakhir ini, Elle akan selalu mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Saat ini dia tengah memotong buah untuk camilan Jarvis dan keluarganya. Keluarganya? Hah! Entah mengapa setiap kali memikirkan itu dia benar-benar sesak hingga ingin membunuh mereka saja jika memang bisa. Tapi mau bagiamana lagi karena nyawanya juga berpengaruh kepada adik serta Ayahnya.


" Cepatlah sedikit, dari tadi belum juga selesai apa kau mau membuat kakak iparku dan calon anaknya kelaparan?! " Wendy bertolak pinggang, matanya tajam seperti biasa ketika berbicara dengan Elle, mimik arogan seperti itu sungguh membuat Elle muak, dan ingin sekali dia menyingkirkan wajah-wajah seperti itu.


Yah, aku malah ingin meracuni dia dengan sianida. Hanya saja nuraniku masih tersisa sedikit untuk mengasihani bayi itu, sehingga keinginan meracuni perempuan tidak tahu diri bernama Vivian jadi di tunda.


" Akan aku antar kesana sebentar lagi. " Ucap Elle yang tak ingin mendengar lagi nada memarahi di telinganya.


" Cih! Lamban sekali, percuma saja kakakmu membuang banyak uang untukmu, tidak berguna sama sekali. "


Elle hanya membuang nafas kasarnya, dia benar-benar tidak ingin menanggapi ucapan Wendy karena dia sudah sangat pena memikirkan tentang Jarvis yang memberikan banyak bantuan finansial untuk keluarganya, jadi sekarang sebisa mungkin dia ingin menghindari perdebatan yang tak berarti.


Begitu selesai dengan buahnya, Elle mengantarkan buah itu di ruang keluarga di mana Jarvis dan yang lainnya akan bersantai dan mengobrol bersama sebelum mereka masuk ke kamar mereka masing-masing dan istirahat, tidur.


" Sayang, tiba-tiba aku merasa tidak nyaman di bagian kaki. Aku ingin kakiku di rendam di air hangat dan airnya di beri aroma terapi. " Ucap Vivian begitu melihat Elle datang untuk mengantarkan buah yang sudah dia potong.


" Siapkan! " Ucap Jarvis yang jelas di tunjukan kepada Elle meski tatapan mata Jarvis sama sekali tak terarah kepadanya.


" Kau dengar kalau harus menyiapkan air hangat untuk merendam kakiku kan? " Vivian kembali bertanya, tapi kali ini dia sengaja menatap Elle agar Elle sadar jika harus menuruti apa yang dimintanya.


Elle tak mengatakan apapun, tapi dia kembali ke dapur untuk menyiapkan apa yang di inginkan Vivian, berikut juga dengan aroma terapi.


" Gunakan yang wangi bunga lavender, Nyonya muda lebih menyukai aroma itu di banding yang lainnya. " Ucap salah satu pelayan yang bekerja di sana.


Elle tersenyum miring dengan tatapan sinis, Nyonya muda? Hah.... Sudah sangat terbiasa sekali rasanya hingga dia juga tidak sadar kalau sebenarnya dia adalah Nyonya muda di sana karena terlalu lama merangkap peran sebagai pelayan rumah.


" Dia menyukai wangi bunga lavender? Itu berarti aku harus memberikan wewangian bunga Kamboja kan? "


Pelayan yang tadi memperingatkan Elle menjadi melotot karena dia benar-benar terkejut, padahal jelas sekali kalau Elle sudah tahu apa yang di sukai Vivian, tapi kenapa dia masih ingin membuat masalah?


Pelayan itu ingin memulai bicara tapi dia bingung bagaimana menyebut nama Elle di sana karena kurang lebihnya dia juga tahu tentang kedudukan yang membingungkan itu.


" Tolong jangan membuat masalah, Tuan Jarvis sangat perduli kepada Nyonya Vivian, kau pasti tau apa yang akan kau dapatkan. "


Elle menatap pelayan itu, sepertinya pelayan itu sedikit memiliki keperdulian kalau di lihat dari sorot matanya. Hanya saja, Elle yang tadinya tidak ingin mencari ribut dan berdebat sudah tidak bisa lagi menahan diri setiap kali Vivian meminta untuk melakukan sesuatu yang pasti berada di luar pemikirannya. Sungguh sangat keterlaluan bukan? Wanita liar yang katanya sudah dinikahi suaminya lebih dulu itu malah bersikap benar-benar seperti seorang Nyonya besar dan jelas sekali ingin menunjukan kepada Elle dimana kedudukannya di rumah itu. Padahal jelas sekali Vivian hanya dinikahi tanpa pengakuan negara karena nama Elle dan Jarvis jelas sudah terdaftar sebagai pasangan suami istri di catatan negara. Jadi kalau kekurangajaran nya bocor, maka sudah jelas siapa yang akan mendapatkan simpati dari masyarakat kan?


" Aku bisa menerima kesakitan, tapi aku juga memiliki batasan. " Ucap Elle lalu segera membawa air hangat dalam mangkuk besar untuk di bawa kepada Vivian.


" Ini. " Ucap Elle segera meletakkan mangkuk besar itu mendekati kaki Elle.


" Buka sendalku, aku tidak bisa menunduk karena aku sedang hamil. "


Elle sebenarnya ingin sekali terkekeh karena ucapan Vivian barusan benar-benar sangat menggelikan. Sedang hamil? Kalaupun memang iya apakah dia tidak memiliki mata untuk melihat perutnya sendiri yang masih sangat rata itu? Bahkan sebodoh-bodohnya manusia, dia tidak akan pernah mengatakan kalimat seperti itu. Tapi, tujuan sebenarnya tentu saja Elle tahu benar jika Vivian hanya ingin membuat masalah saja. Tidak masalah, kalau beberapa saat lalu dia sedang mencoba untuk tenang dan menghindari keributan, maka kali ini dia akan mengikuti saja semakin dimana orang berani menginjak harga dirinya, dan membalikkan keadaan tidak perduli penyiksaan apa yang akan dia dapatkan nanti. Toh, kalaupun sampai mati setidaknya Elle mati karena menjaga harga dirinya agar tidak boleh sembarangan orang menginjak apalagi orang itu sangatlah kotor.


" Apa kau memiliki kebiasaan melepas sendal dengan mulutmu sampai harus menunduk? "


Semua orang kini tercengang melihat ke arah Elle, terkecuali Jarvis. Pria itu nampak berekspresi datar dan masih enggan menatap ke arah Elle.


" Kau bilang apa barusan? " Vivian melotot marah, tapi Elle justru tersenyum tipis tak menunjukan ketakutan apapun di wajahnya.


" Aku tidak suka mengulang kata-kata, kau juga ingat dan dengar dengan jelas kan? "


" Dasar tidak punya sopan santun! Orang tuamu pasti tidak mendidikmu dengan baik ya?! " Kesal Ibu Diana yang jelas dia tidak suka melihat keberanian Elle yang sulit sekali untuk di hilangkan.


Elle sebenarnya goyah dan sedih mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ibu mertuanya itu, tapi ini masalah harga diri orang yah sudah melahirkan dan membesarkannya, jadi dia tidak bisa kala begitu saja, walaupun setelah ini dia akan di pukul habis-habisan, demi Tuhan dia sama sekali tidak takut.


Elle berjongkok untuk melepas kedua sendal Vivian membuat mereka semua tersenyum puas.


" Cuci kakiku! "


Elle menggigit bibir bawahnya menahan kesal.


" Kenapa baunya tidak enak?! " Protes Vivian.


Hidung dan mulut busukmu terlalu dekat.


" Wangi apa yang kau berikan di air itu?! "


Elle tersenyum miring sembari mengangkat wajahnya menatap Vivian.


" Kamboja. "


" Kau gila ya?! " Ucap Vivian, Ibu Diana dan juga Wendy secara bersamaan.


" Gila? Beginilah yang di sebut gila. " Elle meraih mangkuk besar itu, lalu mengguyurkan air hangatnya ke kepala Vivian.


Bersambung.